Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #40

39. Permintaan Putus Asa

Ada yang aneh. Alex yakin akan hal itu.

Tak butuh banyak usaha baginya untuk menyadari bahwa Sora sedang membangun tembok yang jauh lebih tinggi dari biasanya. Selama beberapa hari terakhir, wanita itu seolah berubah menjadi bayangan, berangkat saat fajar baru menyingsing, pulang larut malam, lalu langsung mengunci diri di kamar tanpa banyak bicara.

Sora memang selalu tertutup dan penuh kewaspadaan, itu sudah lama Alex pahami. Namun kali ini berbeda. Sikapnya terasa jauh lebih ekstrim, seolah ia sedang memaksa dirinya sendiri untuk mengabaikan dunia di sekitarnya.

Bukan hanya Alex yang dihindari. Lidya dan Livi pun ikut dijaga jaraknya. Terutama Evan, yang entah kenapa justru semakin sering bertahan di rumah, padahal biasanya lebih memilih tinggal di apartemen pribadinya yang mewah.

Frustrasi Sora terpancar terlalu jelas untuk disembunyikan sepenuhnya. Kerutan halus di dahinya makin sering muncul, sementara matanya terus bergerak gelisah seperti seseorang yang tak pernah benar-benar tenang. Ia menjaga jarak dari siapapun, meski tetap memasang topeng “baik-baik saja” setiap kali Lidya menyapa atau menanyakan keadaannya.

Sialnya, Alex sendiri tak punya banyak kesempatan untuk mencari tahu.

Pekerjaan mendadak menyita hampir seluruh waktunya beberapa hari ini, membuatnya hanya bisa menangkap perubahan-perubahan kecil itu dari kejauhan.

Dan hari ini, kebingungannya akhirnya mencapai puncak.

Padahal Alex masih mengingat dengan jelas pagi di kamarnya waktu itu. Meski keluar lewat pintu rahasia sambil menggerutu kesal, Sora terlihat baik-baik saja. Bahkan wanita itu dengan sinis menampik tuduhan tentang kedekatannya dengan Evan.

Namun sekarang?

Saat mereka berangkat menuju Lembang untuk liburan akhir pekan yang disiapkan Lidya, Sora justru memilih berada dalam satu mobil bersama Evan. Sepanjang perjalanan, kenyataan itu terasa seperti duri kecil yang terus menekan benak Alex.

Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah penginapan yang seperti bersandar pada dinding tebing, hanya sepelemparan batu dari gerbang masuk wisata Gunung Tangkuban Perahu. Begitu pintu mobil berayun terbuka, udara dingin yang menggigit langsung menyergap, memaksa siapapun untuk merapatkan pakaian ke tubuh. Kabut tebal turun memayungi area, membawa rintik hujan halus yang nyaris tak kasat mata, namun cukup untuk membasahi permukaan jaket.

Sora menarik resleting jaketnya sampai ke leher, menyembunyikan separuh wajahnya di balik kerah yang tebal. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam; oksigen di sana terasa begitu murni, sebuah kemewahan yang kontras dengan polusi kota yang biasa menyesakkan dadanya.

Di belakang, Evan tampak sibuk menurunkan koper-koper. Gerakannya tenang, efisien, namun entah mengapa terlihat begitu menyebalkan di mata Alex. Sejak kapan mereka kembali nyaman berada di dekat satu sama lain? Pertanyaan itu berputar liar di kepala Alex. Apa yang sebenarnya terjadi selama perjalanan tadi? Apa Sora mulai membuka hatinya lagi untuk pria itu?

Namun, bukan hanya Alex yang merasa terganggu. Livi yang semobil dengannya pun menyimpan keheranan yang sama. Di sepanjang jalan tadi, Livi sempat menyuarakan kebingungan yang senada.

“Selama lu pergi, mereka nggak pernah kelihatan ngobrol, kok,” terang Livi, sedikit memberi napas lega untuk kecemasan Alex yang membara. Meski begitu, pikiran tentang keduanya yang terjebak di dalam kabin mobil yang sama selama hampir tiga jam tetap saja menyesakkan. Bisa saja ada percakapan krusial yang terjadi di balik keheningan itu, bukan?

“Sora!” panggil Alex, berusaha mendekat dengan langkah lebar.

Namun, wanita itu seolah memiliki radar anti-Alex. Ia langsung berbalik badan, menyambangi Evan yang tengah menarik kopernya, membuat langkah Alex terhenti kaku di tempat.

Saat Livi lewat di sampingnya, Alex refleks menahan lengan wanita itu. “Itu koper kamu, Kak? Atau koper Kak Lidya?” tanya Alex, suaranya mendadak posesif karena ia tahu betul itu bukan koper milik Sora.

“Bukan, kayaknya dia pinjam dari Evan,” jawab Livi pendek. “Jangan kentara banget gitu, sih, mukanya!” tegur Livi kemudian sambil menatap Alex tajam.

Alex menoleh heran, “Kenapa muka aku?”

“Cemburu!” bisik Livi ketus dengan sorot mata jengah. “Ngeselin tahu, lihatnya!” Ia lalu menyentak lengannya dan menyeret koper mendahului Alex.

Uh! Kentara ternyata!” gerutu Alex pada dirinya sendiri. Matanya menyipit, memperhatikan Evan yang bergerak mengikuti rombongan sambil menjinjing dua koper sekaligus. Di sampingnya, Sora berjalan menunduk, seolah dunianya hanya terpaku pada layar ponsel. 

Sekentara ini, nggak mungkin kan dia nggak sadar? Alex melanjutkan langkah dengan rahang mengeras. Ia tak berniat sedikitpun menyembunyikan ekspresi di wajahnya. Ia sadar Sora memang kurang peka, jadi jika ia ingin wanita itu mengetahui perasaannya, ia tak boleh menyembunyikannya sedikitpun.

Mereka meninggalkan riuhnya lapangan parkir dan restoran di bagian atas yang mulai dipadati pengunjung. Selain penginapan, tempat ini memang menawarkan wisata kebun teh, petik strawberry, outbound dan banyak hal lain. Namun, area luas ini dirancang sedemikian rupa sehingga tetap terasa privat; hampir mustahil bagi orang asing untuk saling memperhatikan. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi Evan, yang saat ini menyembunyikan wajahnya di balik topi hitam.

Jalan menuju area pondok glamping menanjak cukup curam. Meski aspalnya halus, kemiringannya sanggup membuat otot betis terasa ditarik. Tiba-tiba, Sora terlihat limbung, hampir terpeleset di jalanan yang lembab. Alex refleks hendak melesat maju, namun tubuhnya mematung saat melihat Evan lebih dulu memegangi lengan Sora, membantunya mendaki tanjakan itu dengan protektif.

Wajahnya langsung merah padam. Amarah dan rasa tidak terima bergejolak di dadanya. Ia harus segera mencari waktu untuk bicara berdua dengan Sora. 

Lihat selengkapnya