“Sora mana?” tanya Ken sambil menarik kursinya.
Matanya menyapu meja makan yang sudah penuh oleh hidangan Sunda hangat, uapnya masih mengepul tipis di udara. Namun kursi di samping Livi tetap kosong.
Tak ada yang langsung menjawab. Livi hanya diam sambil memainkan ujung sendoknya pelan. Tatapannya kemudian meluncur ke seberang ke arah Alex di sudut lain meja. Pria itu duduk dengan bahu sedikit turun, bibirnya menekan samar, sementara pandangannya kosong entah ke mana. Bahkan ia tak menyadari Evan sejak tadi memelototinya dari samping.
“Lex,” panggil Evan akhirnya. “Sora mana?”
Alex baru mengangkat kepala pelan.
Di sisi lain meja, Lidya dan Ken sempat saling pandang singkat. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk berbagi curiga dan heran mereka.
“Katanya…” Alex berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “masih mau jalan-jalan.”
“Kamu tinggalin dia sendirian?” Lidya langsung berseru.
Sendok di tangannya jatuh kembali ke piring dengan bunyi denting cukup keras sampai beberapa kepala spontan menoleh ke arahnya.
“Kenapa emangnya?” Livi mengernyit, merasa reaksi kakaknya sedikit berlebihan. “Dia kan udah gede.”
“Sora itu agak buta arah, Livi! Dia bisa kesasar di tempat seluas ini, apalagi kabut lagi tebal begini!” Lidya langsung berdiri sambil menelpon nomor Sora. “Nggak dijawab.” Ia menurunkan ponselnya dari telinga dan menelpon lagi.
“Dia gak bawa HP tadi, HP-nya di kamar,” ucap Livi setelah memastikan ingatannya.
Lidya langsung menghujamkan tatapan penuh tuntutan ke arah Alex. “Udah berapa lama terakhir kamu lihat dia?”
Alex, yang baru menyadari konsekuensi tindakannya, mendadak tegang. Langsung duduk tegang dengan wajah pucat. “Sekitar setengah jam lalu.”
“Aduh!” Lidya menepuk dahi. “Dia nyasar, kayaknya! Sora kalau udah bingung jalan suka panik.”
Evan terdiam sejenak. Memorinya berputar cepat ke sepuluh tahun lalu. Lidya benar. Ia ingat Sora pernah tersesat di area fakultas teknik saat mereka masih kuliah, padahal Sora sudah setahun berada di kampus yang sama. Evan terlonjak dari kursinya hingga kakinya berderit kasar di lantai.
“Di mana terakhir lu lihat dia?” tanya Evan ke Alex, suaranya dingin tanpa sisa kesabaran.
Alex ikut berdiri dengan gerakan kaku. “Gazebo kebun teh,” jawabnya singkat.
Tanpa membuang waktu untuk berdebat, Evan langsung bergegas meninggalkan restoran, langkahnya lebar dan terburu-buru menembus kabut yang mulai turun. Alex segera menyusul di belakangnya, rasa bersalah mulai menusuk dadanya seperti ribuan paku.
Livi, yang semula menganggap remeh, kini ikut berdiri dengan raut cemas. Namun Ken buru-buru menahan lengannya. “Kamu temenin Lidya di sini. Takutnya Sora malah balik ke sini dan nggak ada orang. Aku cari sama yang lain.” Ia menekan bahu Lidya pelan, mendudukkannya lagi ke kursi.
Livi mengangguk patuh. Ia mengawasi Lidya yang tampak jauh lebih cemas dari biasanya, mungkin pengaruh hormon kehamilan yang membuat perasaannya lebih sensitif. Livi yang biasanya cuek pun memilih mendekat, merangkul bahu kakaknya dan membisikkan kata-kata penenang, khawatir jika stres berlebihan akan berdampak buruk pada kandungannya.
Di luar, kabut merayap semakin pekat, menelan bayangan Evan dan Alex yang berpencar ke arah berlawanan. Jauh di lubuk hati, keduanya sadar bahwa ketakutan ini bukan sekadar soal Sora yang tersesat; akal sehat mereka tahu Sora adalah wanita dewasa yang bisa bertanya bahkan minta diantar oleh petugas. Masalah sebenarnya jauh lebih egois dari itu: ini tentang siapa yang paling berhak merasa cemas, dan siapa yang akan menemukannya lebih dulu.
Bagi Evan, ketidakpastian ini memicu trauma lama saat ia pulang dari Jepang dan mendapati ketiadaan jejak Sora, sebuah lubang hitam dalam hidupnya yang tak pernah benar-benar tertutup. Sedangkan bagi Alex, ini adalah beban rasa bersalah yang menghimpit. Ia merutuki dirinya sendiri; seharusnya ia tidak membiarkan egonya menang dan meninggalkan Sora sendirian di tengah kabut.
Evan berlari menuju area seberang pondok, di mana terbentang sebuah amfiteater terbuka dengan tempat duduk berundak melingkar yang mengelilingi lapangan luas. Di bawah temaram kabut, ia menyipitkan mata. Siluet itu. Di sana, di tengah lapangan rumput, Sora berdiri.
“Sora!” teriak Evan parau.
Sora, yang sedang asyik menikmati gelato mint untuk mendinginkan saraf yang tegang, menoleh kaget. Belum sempat ia mencerna situasi, Evan sudah menerjangnya dalam sebuah pelukan yang nyaris menyesakkan. Tubuh Sora terhuyung, mangkuk gelatonya terlepas dan jatuh mengenaskan di atas rumput.
“Aku kira kamu hilang lagi!” Evan berbisik dengan napas tersengal, dadanya naik-turun hebat, campuran antara lelah berlari dan rasa lega yang meledak-ledak.
Mata Sora berkedip lambat, ia membeku dalam dekapan yang terasa asing sekaligus menuntut itu. “Kenapa aku hilang?,” gumamnya bingung sambil berusaha melepaskan diri. Namun, gerakannya terhenti saat pandangannya menangkap sosok Alex yang muncul di ujung lapangan dengan wajah pias dan mata menyorotkan rasa bersalah yang dalam.