Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #42

41. Kembali Ke Titik Awal

“Kamu ke Livi aja, biar aku yang ngomong sama Evan.” Alex memutuskan dengan nada final.

Ia sadar, Sora bukanlah tipe orang yang mudah terusik oleh penghakiman orang asing, alasan selama ini Sora tak menerima hatinya juga bukan karena takut dengan pendapat orang, melainkan murni dari hatinya sendiri yang belum mau.

Namun Lidya dan Livi menempati ruang yang berbeda di hati wanita itu. Begitu hubungan mereka akhirnya terjalin, Alex bisa melihat binar kekhawatiran yang merayap di mata Sora. Wanita itu sempat memandangnya agak lama, seolah sedang menimbang ulang risiko pilihannya, sebelum akhirnya mengangguk.

Diam-diam Alex mengucap syukur; sempat takut kalau ciuman mereka hanyalah impuls sesaat bagi Sora, bukan pernyataan komitmen.

Sora meninggalkan pondok Alex lebih dulu. Dari balik jendela, Alex mengintip wanita itu berhenti di depan pagar, memandang jauh ke arah jalan setapak di mana Livi dan Lidya tengah berjalan mendekat. Di belakang mereka, Ken dan Evan mengekor dalam jarak yang canggung. Dari gurat wajah mereka yang kaku, Alex bisa menebak suasana makan siang tadi pastilah sangat tidak mengenakkan.

“Ada yang mau gue omongin sama kalian,” ucap Sora saat kedua wanita itu sampai di depannya.

Lidya bergerak lebih dulu, lengannya melingkar cepat di bahu Sora, menariknya merapat. Tanpa banyak kata, ia menggiring Sora masuk ke dalam pondok, sementara Livi mengekor dengan tenang.

Begitu sosok Sora menghilang dari pandangan, Alex baru bergerak. Ia keluar dengan ritme tenang, punggungnya tegak, bahunya lurus. Lalu berhenti tepat di depan pagar, satu langkah sebelum batas. Dagunya terangkat sedikit. Tatapannya meluncur lurus, tajam, tak bergeser, mengunci Evan di tempatnya berdiri.

Evan langsung mengerti kode itu; adik tirinya sedang menuntut bicara empat mata. Ken, yang menyadari ketegangan antara dua saudara itu, hanya bisa menepuk bahu Evan pelan, sebagai emotional support sebelum berbelok arah menuju pondoknya sendiri, sadar bahwa ia tak punya tempat di kedua kelompok itu.


Di dalam pondok, Sora duduk bersila di atas kasur. Lidya tepat di sampingnya, menggenggam tangannya begitu erat seolah-olah jika ia melepaskannya sedetik saja, sahabatnya itu akan menguap ditelan kabut. Sementara Livi memilih duduk di bangku kayu seberang mereka; tangannya terlipat di depan dada, tatapannya menyelidik dengan aura intimidatif. Kehangatan ruangan itu sedikit menguap oleh tegang yang tiba-tiba dirasa Sora.

“Gue sama Alex... jadian,” ucapnya pelan, menundukkan wajah dengan mata terpejam rapat, siap menerima ledakan.

Keheningan seketika menyergap ruangan minimalis itu. Ia bahkan tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat ekspresi Lidya dan Livi. Dalam hati bersiap akan pukulan atau jambakan dari mereka.

Ch!” Desisan itu terdengar dari arah Livi. “Haaaaah! Ngaku juga akhirnya!” Ia menghela napas kasar sambil menggosok telapak tangan di pahanya sendiri.

Sora mengangkat kepalanya perlahan, mengintip dari balik kelopak mata yang belum berani ia buka lebar-lebar. “Lu... nggak marah?” tanyanya ragu.

“Bohong kalau nggak!” Livi menyandarkan bahunya ke dinding kayu. “Tapi mau gimana lagi? Gue udah duga akhirnya bakal begini.”

Lidya memandang bolak-balik antara Sora dan Livi dengan wajah teramat syok. Sejujurnya, ia sudah membayangkan skenario terburuk: Livi akan mendorong Sora, atau Sora akan menampar Livi karena mulut pedasnya. Namun, suasana justru terkendali dengan cara yang aneh hingga membuat Lidya merinding sendiri.

“Lu serius jadian sama Alex, Ra?” Ragu begitu kental dalam nada suara Lidya.

“Iya lah, udah kelihatan dua-duanya sama-sama suka,” lontar Livi sinis, meski ada nada penerimaan di sana.

“Kok bisa? Dia kan...” Lidya masih tak habis pikir.

Sora menggeleng pelan. “Gue juga bingung, Lid. Padahal gue udah mati-matian menghindar. Tapi pas lihat dia dipukul Evan tadi, rasanya gue pengen cekek Evan sampai nggak bisa napas lagi—”

“Evan mukul Alex?!” sela Livi, punggungnya langsung menegak kaku.

Sora menoleh ke arah Lidya dengan dahi berkerut. “Gue kira kalian udah tahu. Pas makan siang tadi, Evan sama Ken nggak bilang apa-apa?”

Keduanya menggeleng serempak dengan mata membelalak.

“Wah, gila sih. Seorang Evan yang selalu tenang dan nggak pernah nunjukin emosi berlebih itu bisa sampai nonjok orang,” gumam Livi. “Untung nggak ada yang foto atau video-in. Bisa hancur reputasinya kalau sampai kejadian itu bocor.”

Lidya dan Sora mengangguk setuju, menyadari betapa tipisnya batas antara drama pribadi dan skandal publik bagi pria sekelas Evan.

“Tapi ada apa sih sebenarnya, kok Evan sama Alex bahkan Ken juga kayak sepanik itu nyariin gue?” Sora terheran-heran.

“Ck!” Livi melirik sebal ke kakaknya sendiri. “Kak Lidya tuh, panik bilang kalau lu nyasar.”

Lihat selengkapnya