Sial. Alex benar-benar terganggu.
Kata-kata Evan terus berputar di kepalanya. Setelah melemparkan bom mental itu, Evan malah pergi. Entah pria itu malu karena kalah telak darinya, atau memang benar-benar ada jadwal mendadak, karena managernya memang datang menjemput. Yang jelas, kepergian Evan meninggalkan lubang kecemasan yang besar di hati Alex.
Sepanjang sisa liburan, terutama saat makan malam, Alex berkali-kali melirik gusar ke arah Sora. Namun, yang membuatnya makin frustasi adalah Sora sama sekali tidak menunjukkan perbedaan perilaku apapun setelah mereka resmi jadian. Wanita itu justru bersikap-hampir-seperti mengabaikannya. Tampak asyik cekikikan dengan Livi dan Lidya, membahas hal-hal yang Alex tidak mengerti.
Memang sih, di seberang meja ada Ken yang juga tampak terasing dari obrolan para wanita, tapi masalahnya pria itu punya ketenangan yang tidak Alex miliki.
Status hubungannya dengan Sora yang masih sangat baru, ranum dan rapuh, membuat Alex gelisah. Apa benar Sora cuma mau main-main? Tak menganggapnya sebagai pria yang potensial untuk dijadikan suami karena masih muda? Masalahnya terlalu awal juga kalau dia membahas hal itu, bisa-bisa dia terlihat naif dan tak sabaran. Tapi sungguh ia gelisah.
Puncaknya adalah saat perjalanan pulang. Alex sempat merasa senang karena Sora, yang sebelumnya berangkat dengan mobil Evan, akhirnya masuk ke mobilnya. Bahkan sempat membayangkan perjalanan dengan obrolan romantis menyusuri tol Cipularang. Namun, harapannya pupus saat Sora justru memilih duduk di kursi belakang sendirian, membiarkan Livi tetap duduk di sampingnya seperti waktu mereka berangkat.
Untuk pertama kalinya Alex merutuki tingkah Livi. Kenapa dia tidak semobil dengan kakaknya?
Sepanjang jalan, alih-alih ngobrol dengannya, Sora dan Livi justru terlibat diskusi panjang yang seru, seperti menganggap Alex hanyalah supir sewaan. Alex sampai berkali-kali melirik ke spion tengah, sengaja mencari perhatian Sora, berharap mata mereka bertemu meski hanya sedetik. Namun, wanita yang kemarin dengan berani mengecup bibirnya duluan itu, benar-benar acuh tak acuh. Ia tampak begitu tenang, tidak ada beban, sementara di kursi kemudi, Alex sedang berjuang menahan diri agar tidak menghentikan mobil di bahu jalan dan menuntut kejelasan.
“Jadi lu mau tetap tinggal di rumah itu? Bukannya lu tinggal di situ karena mau deketin Alex?” celetuk Sora tanpa tedeng aling-aling.
Alex sampai mengerjap kaget, tangannya hampir saja selip di kemudi. Emang boleh bahas hal kayak gini terang-terangan di depan orangnya? batinnya syok.
“Hah!” Livi mendesah kasar. “Emang iya, salah satu alasannya gue pindah ke situ karena Alex pernah bilang kalau dia biasanya pacaran sama orang yang udah dekat sama dia. Tipikal orang yang gampang cinlok.”
Mata Alex membelalak. Ini serius mereka ngomongin gue di depan gue? Ia langsung melirik ke spion tengah lagi. Akhirnya, tatapannya dan Sora bertemu untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Lembang. Tapi, itu jelas bukan sorot mata penuh cinta yang ia harapkan; Sora justru menatapnya dengan binar mengejek.
“Ohhhh, gitu ternyata…” cemooh Sora, nadanya terdengar sangat menyebalkan di telinga Alex.
Alex langsung menggelengkan dengan alis naik ke tengah dahi, berusaha memberi kode: Nggak, nggak gitu! Namun, Sora sudah mengalihkan pandangannya kembali ke Livi.
“Jadi apa alasan lainnya? Gue lihat kayaknya lu sembunyiin sesuatu dari Lidya,” terka Sora, sambil memajukan wajahnya, mendekat ke bahu Livi.
Livi menengok, menatap Sora dalam-dalam. “Lu mau tahu? Beneran mau tahu?”
Sora mengangguk-angguk penuh semangat. Alex melirik interaksi itu dari ujung matanya, lalu menggelengkan kepala lagi. Ia benar-benar tidak menyangka kalau kedua wanita yang tadinya hampir saling cakar itu ternyata sebenarnya seakrab ini.
“Gue..” Livi sengaja menjeda untuk memberi efek tegang di antara kalimatnya. “Punya adik. Gue kesal tiap lihat adik gue di rumah. Bukan ke dia, tapi ke orang tua gue,” aku Livi tiba-tiba.
Seketika Sora mematung. Berbeda dengan Alex yang hanya menaruh perhatian diam-diam karena penasaran dengan drama keluarga Livi, Sora paham betul beratnya penggalan informasi itu. Pantas saja Livi menyembunyikannya dari Lidya dan selalu menggunakan Alex sebagai tameng. Bahkan Sora sempat percaya buta pada alasan itu, karena tahu betapa gigihnya Livi saat mengejar pria. Namun, mendengar kejujuran barusan, ia kehilangan kata-kata.
Sora membayangkan posisi Livi, anak yang menurut cerita Lidya diberi predikat lahir tanpa direncanakan dan dianggap "mengganggu" kerapian hidup orang tuanya, harus melihat orang tua yang sama memberikan kasih sayang pada seorang adik baru.
“Berapa umurnya?” tanya Sora pelan.
“Delapan tahun. Gila, kan?” sahut Livi dengan nada getir yang tak bisa disembunyikan.
Sora mengangguk-angguk setuju. Ia sangat paham jalan pikiran itu.
Sepanjang perjalanan, Sora berkali-kali melirik Livi dengan rasa iba yang sulit disembunyikan. Tak peduli obrolan apa yang sedang berlangsung di dalam mobil, pikirannya terus kembali pada rahasia pahit yang selama ini disembunyikan gadis itu dari Lidya.
Sampai akhirnya mobil memasuki pekarangan rumah. Begitu kendaraan berhenti, Sora langsung memegang bahu Livi pelan. “Udah, Liv. Bener,” katanya lembut. “Jangan pulang ke rumah.”
Livi menoleh bingung.
“Tetap tinggal di sini aja,” lanjut Sora pelan, “meskipun nanti gue udah nggak tinggal di sini lagi.”
Kalimat itu langsung membuat jantung Alex seperti berhenti berdetak sesaat. Wajahnya menegang seketika. Tanpa berkata apa-apa, ia segera keluar dari mobil, lalu menurunkan barang-barang dari bagasi dengan gerakan tergesa. Pintu belakang dibantingnya cukup keras hingga menimbulkan dentuman yang membuat suasana mendadak kaku.
Dan sebelum Sora sempat bereaksi, Alex sudah kembali menghampirinya. Tangannya langsung meraih pergelangan wanita itu.