Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #44

43. Ledakan Dopamine

Sebagai wanita dewasa berusia tiga puluh dua tahun yang sudah kenyang dengan asam garam hubungan, dan perlu digaris bawahi, meski bukan pernikahan yang bisa dibilang normal, ia pernah melaluinya, Sora merasa sangat yakin bisa menguasai dirinya saat menjalin hubungan dengan Alex. Akan tetapi ia salah perhitungan, setelah otaknya berhenti memikirkan masa lalu dan hatinya jauh lebih ringan tanpa beban luka, rasa posesif justru mengambil alih akal sehatnya.

Setelah sebelumnya ia sendiri yang dengan kepercayaan diri buta menyuruh Livi untuk tetap tinggal meski ia akan pindah nanti, kini Sora harus menelan ludah sendiri.

Livi, si "rubah nakal" itu, secara terang-terangan menguji ambang kesabaran Sora. Ia seolah menikmati setiap inci rasa frustasi yang terpancar dari wajah Sora dengan cara terus-menerus menempel pada Alex. Impas apa? Pantas saja dia begitu berlapang dada, rupanya tak berniat untuk menyerah pada perasaannya?

Pagi ini menjadi puncaknya. Livi dengan sengaja mengambil tugas mencuci piring bersama Alex, sebuah taktik cerdik setelah Ken dan Lidya yang memasak. Sementara itu, Sora justru terlempar ke bagian pekerjaan sisa: membuang sampah, hanya karena hari ini adalah jadwal pengangkutan.

Saking gerahnya melihat bahu Livi yang terus-menerus bersentuhan dengan lengan kokoh Alex, Sora mendekat ke bak cuci, kelihatannya untuk sekadar mencuci tangan, padahal memberikan cubitan tajam di lengan Alex. Sialnya, gerakan itu tertangkap radar Livi karena ringisan tertahan Alex sampai ke telinganya.

Ehem!” sindir Livi, matanya berkilat jahil. “Lihat siapa yang cubit-cubit manja barusan!”

Sora yang sudah di ubun-ubun emosinya langsung terpancing. Ia melongok Livi terang-terangan dari balik punggung Alex. “Lihat siapa yang nggak tahu malu nempel-nempel cowok orang!”

“Wah, gila!” Livi melepaskan sarung tangan cuci piringnya dengan kasar, dan membantingnya ke atas tumpukan piring yang belum dibilas, membuat sisa busa sabun terciprat telak ke wajah Alex. “Bisa-bisanya orang yang ngerebut lagi cowok yang gue suka ngomong kayak gitu!”

“Mana ada ngerebut! Cowoknya yang mau sama gue!” Sora bertolak pinggang, matanya mendelik menantang.

Alex panik luar biasa. Ia berdiri mematung di tengah-tengah dua wanita yang sedang bersitegang karenanya, kepalanya bolak-balik menengok ke kiri dan ke kanan seperti sedang menonton pertandingan tenis yang mencekam, lalu menatap nanar ke tumpukan piring di hadapannya yang minta ditangani secepatnya.

Di ruang tengah, Ken dan Lidya yang sudah rapi mengenakan pakaian kerja dan menjinjing tas, buru-buru mendekat begitu mendengar keributan. Lidya membelalak bingung melihat pemandangan di dapur.

“Eh, eh! Kenapa ini? Pagi-pagi udah mau perang?” tanya Lidya berusaha melerai.

Huh!” 

Dengkusan itu terdengar serempak. Livi dan Sora membuang muka ke arah berlawanan, lalu dengan gerakan kompak yang tidak disengaja, keduanya meninggalkan sisi Alex yang masih mematung dengan sisa busa sabun di pipinya.

***

“Apa? Modelnya belum datang? Udah ditelepon? Di chat nggak dibalas?” Dona, sang Production Manager, tampak benar-benar kebakaran jenggot. Suaranya yang melengking bersaing dengan deburan ombak, sementara matanya melotot tajam ke arah asistennya. Model yang seharusnya menjadi bintang utama pemotretan hari ini tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Salah satu hal yang membuat Sora kagum dengan agensi milik Lidya ini adalah profesionalitas mereka yang tanpa kompromi. Mereka tidak membeda-bedakan besar atau kecilnya brand yang bekerja sama.

Hari ini, jadwal mereka adalah pemotretan untuk sebuah minuman isotonik baru. Merknya terdengar asing, harga pasarannya pun terbilang murah, namun seluruh perwakilan stakeholder tim diboyong ke pantai dengan persiapan set yang maksimal.

Sora menyeka butiran keringat di pelipisnya. Untung hari ini ia memilih mengenakan dress midi putih motif polkadot selutut dengan kemeja merah muda yang tak dikancing, jadi tidak merasa terlalu gerah atau salah kostum. Namun tetap saja, matahari bersinar terik, hingga Sora merasa rambut merah mudanya bisa terbakar hangus, berubah hitam dalam sekejap jika ia berdiri terlalu lama tanpa peneduh.

Saat Sora sedang mengamati kru yang sibuk memindahkan reflektor dan menata properti di atas pasir, seseorang memanggil namanya.

"Sora! Sini sebentar!" panggil Monita mendadak.

Sora mendekat dengan ragu menghampiri Monita yang sejak tadi mondar-mandir dengan wajah tegang. "Ya, Mbak Mon?"

“Kamu punya kenalan model nggak?” serobot Lia, Talent Manager yang sedari tadi berkeliling menanyakan hal yang sama kepada setiap kru dengan nada putus asa. “Yang atletis, kalau bisa yang badannya lentur. Kayak... yang bisa bela diri, mungkin?”

Atletis, lentur, dan bisa bela diri. Kriteria itu menghantam Sora seperti sebuah petunjuk takdir. Ledakan dopamin menyerbu sistem sarafnya saat satu-satunya nama yang muncul di benaknya adalah Alex. Jantungnya mulai berdegup liar, degupan penuh semangat yang sulit dikendalikan.

Tiba-tiba, keinginan egois muncul dalam dirinya. Ia ingin pria itu ada di sini, berdiri di bawah terik matahari yang sama dengannya, dan melakukan interaksi yang sejak kemarin terhambat oleh keberadaan Livi dan Lidya. Obsesi barunya pada Alex benar-benar telah melumpuhkan penilaian logisnya. Padahal Alex bukan model, tapi siapa peduli? Di mata Sora, Alex jauh lebih dari sekadar "cukup" untuk berada di depan kamera.

Lihat selengkapnya