Sepanjang perjalanan menuju rumah, Sora dan Alex lebih banyak diam ketimbang bicara. Selain memang karena cukup sulit untuk berkomunikasi dengan kepala tertutup helm dan angin yang bising karena laju motor. Keheningan yang tercipta diantara mereka justru lebih nyaman dari apapun yang pernah Sora alami seumur hidupnya. Ia hanya memeluk pinggang Alex erat, menempelkan kepalanya di punggung lebar pria itu dan mencium harum parfum yang menempel di jaketnya. Sesekali Alex mengelus tautan tangan Sora di depan perutnya.
Saat mereka sampai di rumah, Sora turun dari motor lebih dulu. Masih memakai helm, ia membuka pagar agar Alex dan motornya bisa masuk. Namun matanya menangkap siluet orang berdiri di ambang pintu depan.
“Kak Ken?” gumamnya sambil membuka helm.
Di belakangnya Alex menyusul, menghentikan motornya di depan garasi.
“Sora, kenapa nggak angkat telepon?” Ken mendekat dengan wajahnya panik.
“Kakak nelpon?” Sora memberikan helmnya ke Alex. “Maaf tadi aku di jalan. Ada apa kak?”
“Sekretaris Yordan udah ngehubungin, besok kita ketemu dia di hotel.”
“Ah… serius?” Tangan Sora refleks naik menutupi mulutnya sendiri. Matanya langsung membesar, wajahnya terang seketika oleh rasa lega yang muncul begitu cepat.
Namun senyum itu perlahan memudar. Ada yang aneh. Ken tidak terlihat ikut senang. Pria itu justru berdiri dengan dahi berkerut dan rahang menegang samar, seperti masih memikirkan sesuatu yang belum selesai.
Sorot mata Sora langsung berubah hati-hati. “Kenapa, Kak?” tanyanya pelan. “Ada hal lain?”
Ken memandang Sora beberapa detik terlalu lama sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya ke Alex yang baru berdiri di samping wanita itu sambil menyisir rambut berantakannya dengan tangan.
“Ada tamu,” ucap Ken akhirnya.
“Tamu Alex?” Sora memastikan, alisnya langsung mengerut penasaran.
Ken kembali menatapnya. “Em.” Ia mengangguk kecil. “Tapi kamu juga kenal.”
Jeda singkat muncul sebelum ia menambahkan, “Orangnya udah di dalam. Nunggu kalian.”
Kerutan di dahi Sora makin dalam. Ia spontan menoleh ke Alex, berharap pria itu punya jawaban. Namun Alex hanya membalas tatapannya dengan wajah sama bingungnya.
Entah kenapa, melihat wajah Sora yang mulai tegang itu membuat Alex refleks bergerak lebih dekat. Tangannya naik merengkuh bahu wanita itu, telapak tangannya mengusap pelan lengan atas Sora seolah ingin menenangkan tanpa perlu banyak bicara. “Ayo,” gumamnya pelan.
Mereka masuk bersama. Namun baru beberapa langkah melewati pintu ruang tamu, keduanya langsung berhenti. Sora membeku. Wanita yang duduk anggun di sofa itu menoleh perlahan ke arah mereka. Tatapannya tenang, tertata, tapi cukup untuk membuat dada Sora langsung sesak dalam satu tarikan napas.
Itu Melati, Ibu Evan. Sekaligus ibu tiri Alex.
Darah Sora seperti langsung turun ke telapak kaki. Ingatan lama datang berdesakan tanpa ampun, suara, tatapan, rumah besar itu, semua hal yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat. Tubuhnya refleks mundur setengah langkah.
Alex langsung merasakan gerakan itu di bawah tangannya. Jemarinya otomatis mengerat di bahu Sora, menarik wanita itu tetap di sisinya.
“Ngapain kesini?” tanya Alex dingin.
Melati bangkit perlahan dari sofa. Gerakannya rapi dan elegan, selaras dengan pakaian mahal yang melekat sempurna di tubuhnya. Sosoknya membuat dada Sora makin sesak karena terlalu mengingatkannya pada ibunya sendiri.
“Begini cara kamu nyambut saya?” balas Melati tenang.