Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #46

45. Kejutan Besar

Alex melangkah masuk ke rumah masa kecilnya.

Langit siang itu pucat dan menggantung rendah, menyisakan hawa pengap setelah hujan pagi yang belum sepenuhnya hilang. Halaman rumah besar itu masih sama seperti yang ia ingat, rapi, sunyi, dan terasa terlalu sempurna untuk ditinggali manusia yang benar-benar bahagia. Jalan setapak dari batu andesit menuju pintu utama tampak sedikit basah, memantulkan bayangan samar pepohonan tinggi yang berjajar di sisi halaman. Aroma rumput yang baru dipangkas bercampur dengan wangi kayu tua dari teras rumah, memukul memorinya tanpa ampun.

Langkah Alex melambat sesaat sebelum menaiki anak tangga teras. Rumah itu tak pernah terasa seperti rumah baginya, lebih seperti tempat yang dipenuhi gema sesal, tatapan kecewa, dan rasa bersalah yang membusuk selama bertahun-tahun. Namun ia sudah berjanji pada Sora, jadi dia melangkah masuk, dan langsung menuju ruang kerja ayahnya.

Setelah sekian lama, Alex mengetuk pintu kayu jati ruangan itu.

“Masuk!” Suara Beny menyahut dari dalam.

Alex menarik napas pendek sebelum memutar gagang pintu.

Ruangan itu masih sama, dingin, luas, dan terlalu formal untuk disebut ruang kerja pribadi. Aroma kopi hitam bercampur samar dengan bau kulit sofa dan kayu polish memenuhi udara. Dinding-dindingnya dilapisi panel kayu gelap, sementara lemari tinggi berisi deretan buku dan map kerja memenuhi sisi ruangan seperti lapisan dinding kedua.

Cahaya matahari masuk setengah hati dari jendela besar di belakang meja kerja, tertahan tirai abu tua yang hanya dibuka sebagian. Membiarkan ruangan itu tenggelam dalam remang elegan yang terasa menekan.

Beny duduk di balik meja kerjanya dengan posisi tegak sempurna. Kemeja hitam membungkus tubuhnya rapi tanpa satu lipatan pun, rambutnya tersisir ke belakang, klimis seperti biasa. Namun matanya, yang selama ini selalu terasa keras bagi Alex, hari ini justru tampak bersahabat.

Alex memilih tetap berdiri tegak, kedua tangan masuk ke saku celana, rahangnya kaku. Tatapan ayahnya sempat bergerak ke sofa di depan meja, memberi isyarat halus untuk duduk, namun ia sengaja mengabaikan.

“Kamu belum puas nyiksa diri dengan ambil cuti kuliah panjang dan kerja kasar, sekarang malah pacaran sama mantan istri kakak ipar sendiri?” sembur Beny, langsung menghujam ke inti masalah.

Kalimat itu membuat udara di ruangan terasa makin berat. Rahang Alex mengejang seketika. Otot di pipinya bergerak keras sebelum ia mendecak pendek. “Papa mata-matai aku?”

“Kenapa tanya hal yang udah jelas?” Beny bangkit dari kursinya dengan gerakan tenang yang justru terasa lebih mengintimidasi daripada amarah. Sepatu kulitnya beradu pelan dengan lantai marmer saat ia berjalan menuju sofa.

“Papa tahu siapa Sora, latar belakangnya, apa yang dia punya, dan apa yang akan dia hadapi kedepannya.” Ia duduk perlahan sambil menyilangkan kaki. Jemarinya bertaut santai di atas paha, namun tatapannya tetap tajam menembus Alex.

“Kalau boleh dibilang, nggak ada masalah dengan semua itu. Dia... wanita yang cocok buat kamu, mengesampingkan fakta dia mantan istri Evan, karena Papa udah tahu riwayat ceritanya.”

Alex tertegun.

Tubuhnya yang sejak tadi tegang seperti kehilangan pijakan sesaat. Alisnya mengernyit pelan, benar-benar tak siap mendengar respons semacam itu dari ayahnya.

Ia mengira Beny akan mengamuk. Menghina dirinya atau Sora. Lebih mungkin lagi, kalau langsung memaksanya mengakhiri hubungan mereka. Namun nada bicara Beny justru datar. Rasional. Hampir seperti seorang pebisnis yang sedang membahas peluang masa depan.

Rasa penasaran akhirnya mengalahkan gengsi. Alex bergerak ke sofa seberang, meski tubuhnya masih setengah waspada. Sofa kulit itu dingin saat punggungnya menyentuh sandaran. Ia duduk tegak, memberikan perhatian penuh pada pria yang tampak tahu jauh lebih banyak tentang wanita yang ia cintai dibanding dirinya sendiri.

Melihat perubahan sikap itu, Beny tergelak pelan. “Akhirnya kamu mau dengar Papa ngomong.”

Ia menggeleng kecil, seperti tak habis pikir. Anak yang selama ini memandangnya sebagai musuh bebuyutan akhirnya luluh hanya karena seorang wanita.

“Kamu serius sama Sora? Segitu seriusnya?” Beny menatapnya lurus. “Ya... secara usia, kamu memang sudah wajar untuk serius. Tapi kamu yakin, kamu sebanding sama dia?”

“Maksud Papa?” Alex benar-benar kehilangan arah sekarang.

Nada ayahnya tak terdengar menghina, tapi justru itu yang membuat setiap katanya terasa lebih berat. Pertanyaan itu mengingatkannya pada keraguan Evan beberapa waktu lalu, namun dari mulut Beny, semuanya terdengar jauh lebih berbobot dan kalkulatif.

Lihat selengkapnya