Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #47

46. Kasih Sayang yang Menyiksa

Sora duduk di tepi kasur, di dalam kamar yang terkunci rapat. Tatapannya terpaku pada amplop di tangan begitu lama, sampai tak sadar matahari sudah tenggelam.

Ia benar-benar merasa tersesat. Dan satu-satunya peta yang mungkin bisa menunjukkan arah dari carut-marut di kepalanya hanyalah surat dari ibunya itu, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan hadir dalam hidupnya.

Perlahan, ia membuka amplop yang bahkan tak dilem tersebut, lalu menarik keluar kertas-kertas yang terlipat di dalamnya. Bukan hanya satu, setidaknya ada tiga lembar di sana.

Dengan tangan gemetar, ia membuka lipatan, menggenggam tumpukan kertas itu dengan kedua tangan. Ia menarik napas panjang lewat hidung, lalu menghembuskannya perlahan dari bibir yang ikut bergetar.

Matanya bergerak, mulai membaca baris pertama.


Sora, kalau kamu baca surat ini, berarti Mama sudah pergi. Akhirnya penyakit yang selalu menghantui itu, mengalahkan mama juga.


Sora berhenti, mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar, merasa sesuatu yang begitu pahit menjalar di tenggorokan. Ia mengatur napasnya sedemikian rupa, mengedipkan matanya berkali-kali, sebelum akhirnya memberanikan diri meneruskan.


Sebenarnya Mama bingung, harus memulai dari mana. Terlalu banyak hal yang mama sembunyikan dari kamu. Mama tahu, itu adalah keegoisan terbesar Mama, melindungi kamu dengan ketidaktahuan kamu. Tapi kalau harus menjalani kehidupan ini sekali lagi, Mama akan tetap melakukan hal yang sama.

Papa kamu, orang yang luar biasa. Kamu juga ingat, betapa hangat dan baiknya dia. Tapi dia harus kehilangan segala harta keluarganya untuk menikahi Mama, wanita yang sebatang kara. Alasan nenek dan kakek kamu tidak pernah menemui kamu, alasan kamu tak pernah bisa dekat dengan keluarga papa, dengan saudara tirinya dan sepupu kamu yang lain, adalah karena mereka tidak pernah menganggap keberadaan kita berdua.

Seluruh harta yang kita miliki, adalah hasil keringat Papamu dari nol. Dan begitu dia meninggal, keluarganya langsung berusaha mengambil semua itu dari tangan kita. Karena itu, saat Papa kamu tiada, mama nggak pernah punya waktu untuk berduka, mama nggak pernah menemani kamu disaat kamu butuh kehadiran Mama. Mama sibuk menjaga peninggalan Papa, nggak rela semua itu direnggut dari kamu.

Karena itu Sora, waktu kamu terguncang sampai hampir bisu. Mama merasa dunia benar-benar runtuh.

Mama bukan orang yang bisa menjelaskan dengan kata-kata lembut dan penuh pengertian untuk anak sekecil kamu yang nggak tahu apa itu pahitnya dunia. Mama cuma bisa minta kamu untuk bertahan dan kuat sedari kecil. Mama tahu, Mama terlalu kasar, tapi itu, satu-satunya cara yang Mama tahu.

Kamu tumbuh menjadi gadis yang kuat, gadis yang nggak menunjukkan kelemahan di depan siapapun, persis seperti yang Mama harapkan. Karena mereka semua terus berada di luar sana, mengawasi dan menunggu kita terjatuh untuk merebut lagi segalanya.

Saat kamu dekat dengan Ken, sepupu dari pihak Papamu, mama senang. Setidaknya ada satu anggota keluarga itu yang bisa kamu dekati, setidaknya, ada yang tidak perlu dibenci.


Tangan Sora makin gemetar, ia membalik kertas untuk membaca lembar kedua.


Penyakit itu datang disaat kamu mulai tahu apa yang kamu mau, disaat kamu sudah menunjukkan ketertarikan nyata dalam hidup yang kamu jalani, di saat kamu memiliki sahabat yang memberikan kehangatan keluarga yang nggak bisa Mama kasih.

Lihat selengkapnya