Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #48

47. Pertama Kalinya

Butuh hampir satu jam bagi Sora untuk benar-benar tenang. Ia kini berbaring di tempat tidur.

Livi dan yang lain sudah meninggalkan ruangan sejak tadi, memberikan privasi yang sangat ia butuhkan. Sementara Evan yang buru-buru datang setelah dapat kabar dari Livi hanya bisa melongok sebentar ke dalam kamar Sora untuk memastikan Sora baik-baik saja, sebelum akhirnya menyambangi Ken dan meminta penjelasan.

Pria itu begitu syok, sampai langsung pergi lagi untuk menyambangi ibunya sendiri, dengan keyakinan ibunya pasti punya cukup banyak informasi yang ia butuhkan, apalagi setelah mendengar cerita kalau kemarin malam sosok itu datang dan sempat bicara dengan Sora.

Sementara itu, Alex tetap setia duduk di tepi kasur, tenggelam dalam barisan kalimat di atas kertas yang tadi menjadi pemicu kehancuran Sora.

Beberapa bagian tulisan itu tampak kabur, tintanya luntur terkena tetesan air mata yang tumpah di atasnya, namun dia masih bisa menangkap keseluruhan pesan yang disampaikan.

Begitu sampai pada baris terakhir, ia perlahan menurunkan kertas itu. Napasnya ditarik dalam, mencoba mengenyahkan rasa sesak yang merambat ke dadanya. Saat ia menoleh dan mendapati mata sembab Sora yang terus memperhatikannya, Alex merasa jantungnya diremas kuat. Ia kini paham sepenuhnya mengapa Sora meraung tentang kasih sayang yang menyiksa.

Ia meletakkan lembaran kertas itu di atas nakas dengan sangat hati-hati, lalu kembali menatap Sora. “Kamu mau aku tetap di sini, atau mau sendiri dulu?” tanyanya lembut.

Tangan Sora bergerak lemah, merayap di atas seprai untuk menggenggam punggung tangan Alex. “Di sini aja... aku nggak mau sendiri,” bisiknya parau. Ia perlahan bergeser ke sisi lain kasur, menyisakan ruang yang cukup luas di antara mereka.

Alex terdiam, mengawasi gerakan itu dengan saksama, tak ingin terburu-buru menafsirkan. Namun ketika Sora menepuk bantal di sebelahnya, ia yakin bahwa dirinya memang diminta untuk berbaring di sana.

Tanpa suara, ia merebahkan tubuhnya dalam posisi miring, menghadap ke Sora.

Alex tak mencoba menjadi konsultan dadakan atau melontarkan kalimat penghiburan klise yang sering kali terasa hambar di telinga orang yang sedang terluka. Ia memilih diam. Ibu jarinya bergerak lembut, membelai pipi Sora yang masih terasa lembab oleh air mata, sembari menyelami manik mata yang begitu pedih itu.

“Kamu... ketemu sama Papa kamu?” tanya Sora dengan suara yang masih lemah.

“Em.” Alex mengangguk pelan. “Kamu…” Ia menjeda kalimatnya, ragu apakah ini waktu yang tepat untuk berbagi beban. “Mau dengar cerita aku?”

Sora mengangguk kecil, tangannya yang dingin kini menggenggam tangan Alex yang sedang menyentuh pipinya. Alex menarik tangan mereka berdua, menaruh tautan jemari itu di antara wajah mereka. 

“Aku punya kakak laki-laki, yang meninggal waktu masih remaja,” Alex memulai.

“Em,” sahut Sora pelan.

“Kamu tahu?” Alis Alex tersentak sedikit.

“Oma Naria cerita sedikit sama aku.”

Ch! Oma dasar,” gumam Alex dengan senyum separuh yang getir. “Jadi, kamu tahu kalau Mama aku meninggal karena depresi pasca meninggalnya kakak aku?”

Sora mengedipkan matanya pelan, memberikan isyarat bahwa ia tahu sampai situ.

“Hm.” Alex berdehem kecil, kini menggenggam tautan tangan mereka dengan tangannya yang lain. “Aku lihat semua kejadian itu tanpa dilibatkan sama sekali.” 

Ia membasahi bibirnya yang terasa kering, matanya yang tadi menatap Sora kini berpindah ke langit-langit kamar, seperti sedang memproyeksikan masa kecilnya yang kelabu di sana.

"Aku selalu dianggap anak kecil, atau mungkin cuma hiasan di rumah itu," Alex melanjutkan dengan tawa hambar.

Lihat selengkapnya