Beberapa hari berselang sejak senja yang mengoyak batin itu, keenam penghuni rumah berkumpul di ruang tamu.
Mereka duduk melingkar, mengisi ketiga sisi sofa yang biasanya menjadi saksi bisu dinamika penuh gesekan. Namun, atmosfer kali ini berbeda; mereka baru saja melewati makan malam paling sunyi yang pernah ada. Tak ada lagi adu mulut antara Sora dan Livi, tak ada Ken dan Lidya yang sibuk menengahi sambil tertawa, bahkan Alex pun tak lagi melemparkan tatapan membunuh ke arah Evan tiap kali kakak tirinya itu mencoba bicara dengan Sora.
Tanpa instruksi khusus, saat Ken dan Sora mengambil posisi berhadapan di sofa, yang lain seolah terpanggil untuk ikut bergabung.
Livi menghenyakkan tubuh di sisi kiri Sora, sementara Alex segera mengisi ruang di sebelah kanannya, seolah tak membiarkan sejengkal pun celah bagi orang lain untuk menempati. Evan memilih single sofa di antara mereka dengan gaya yang lebih tenang, sementara Lidya langsung merapat di samping suaminya.
Semuanya sama-sama tahu, ini adalah saatnya untuk berpamitan pada babak hidup yang penuh prahara ini.
“Gue akan pergi ke Amerika untuk sementara waktu. Ada proyek serial disana,” Evan membuka suara. Ia menyesap kopinya perlahan, lalu meletakkan cangkir porselen itu di atas meja dengan gerakan yang tetap terjaga wibawanya.
“Congrats, Van!” sahut Lidya tulus, yang disambut anggukan apresiatif dari yang lain.
Di samping Sora, Livi tampak meremas jemarinya sendiri di atas paha.
Menyadari kegelisahan sahabatnya, Sora langsung meraih tangan Livi, menggenggamnya erat sebagai bentuk dukungan moral yang tak terucap. Ia tahu Livi sedang mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan sesuatu juga, mereka sudah bicara sehari sebelumnya, dan Sora mendukung pilihan Livi.
Di seberang mereka, Lidya mengamati pemandangan itu dengan binar mata penuh perhatian.
“Gue... berencana balik ke rumah,” ungkap Livi akhirnya. Ia menarik napas panjang sebelum menatap Lidya lurus. “Dan Kak, gue mau jujur. Sebenarnya alasan gue pindah dari rumah bukan cuma karena pengen dekat sama Alex.”
Alex tersentak mendengar namanya disebut. Matanya langsung melirik ke Sora, waspada kalau-kalau kekasihnya itu akan merajuk. Namun, Sora justru terlihat makin erat menggenggam tangan Livi. Nampak lebih peduli dengan sahabatnya itu daripada dia.
“Gue pergi dari rumah karena nggak suka dengan keberadaan Liam. Gue nggak mau kasih tahu lu selama ini karena takut lu kepikiran,” lanjut Livi dengan suara yang sedikit bergetar. Akhirnya mengakui ketakutannya sendiri.
Mendengar itu, kelopak mata Lidya seketika terkulai. Gurat iba bercampur bersalah membayangi wajahnya; merasa sekali lagi gagal memahami beban yang dipikul adiknya diam-diam.
“Tapi setelah dengar cerita Sora,” lanjut Livi. “Gue mikir... ternyata nasib gue nggak seburuk itu.” Ia melirik Sora dengan ekspresi meledek, mencoba mencairkan suasana yang mengalir tak sesuai seleranya. “Ngerasain juga kan lo, kayak gue!”
Sora langsung mencibir, melepaskan tangan Livi dengan gerakan menghentak yang jenaka. “Sialan lu!” umpatnya tak pakai hati.
Livi terkekeh sejenak sebelum kembali serius. “Jadi, gue mutusin buat hadapi semuanya. Hadapi Mama, Papa, juga Liam. Karena kalau dipikir, Liam juga nggak salah apa-apa, sama kayak gue dulu. Anak itu, nggak seharusnya gue benci karena kelahirannya. Gue akan belajar untuk lebih dewasa. Bertindak seperti kakak yang semestinya.”
Meski hanya Evan dan Alex yang tak benar-benar paham siapa sosok Liam dalam peta masalah ini, dan tak tahu mengapa kelihatannya semua orang selain mereka terlihat penuh haru, keduanya ikut mengangguk takzim.
“Good job, Liv!” sambut Lidya menahan air matanya agar tak menetes, suaranya sedikit serak. Ia menghela napas, berusaha tidak tenggelam dalam emosi berlebihan. Lalu berdehem pelan. “Aku dan Ken juga mutusin buat kembali ke apartemen kita. Lebih dekat ke kantor soalnya.”
Ken hanya memberikan anggukan mantap sebagai penegasan.
“Aku...” Alex tiba-tiba mengangkat tangan seperti murid yang meminta izin interupsi ke guru. Ia menatap Sora sejenak, dan begitu wanita itu memberikan senyum disertai anggukan, ia baru berani lanjut. “Aku mutusin buat kembali ke rumah orang tua, dan lanjutin kuliah.”
“Ha?!” pekik Lidya kaget. Bukan hanya dia, hampir semua orang di sana melongo.
Pandangan mereka serentak menghujam ke arah Sora.
“Aku...” Kini giliran Sora yang bicara, suaranya terdengar lebih mantap dari sebelumnya. “Udah mutusin buat pindah ke Singapura sementara. Setelah ngobrol sama Pak Yordan, aku berniat belajar andil di perusahaan. Sekalian, coba kenal Sonya. Aku bakal tinggal di unit apartemen sebelah mereka.”