Dua puluh bulan kemudian…
Alarm berdering nyaring, getarannya yang konstan membuat ponsel di atas nakas itu bergeser inci demi inci, nyaris terjun bebas kalau saja kabel pengisi daya yang tegang tidak menahannya di tepi meja.
Sora, yang masih tengkurap dalam dekapan selimut, mengulurkan tangan dengan gerakan malas. Jemarinya meraba-raba benda bising itu, mencabut kabelnya, lalu berbalik telentang sembari mengerjap paksa.
Ia menatap layar dengan mata menyipit maksimal. Cahaya ponsel yang sudah diatur paling redup pun terasa seperti pedang yang menusuk retina di dalam kamar yang masih gelap gulita karena gordennya begitu tebal dan tertutup rapat.
Ia mematikan alarm, lalu menjatuhkan kembali ponselnya ke atas dada. Memejamkan mata sejenak, membiarkan keheningan menyapa, sampai perlahan sebuah lengkungan senyum terukir di bibirnya, senang menyambut hari baru.
Tanpa menunda lagi, ia bangkit dan duduk di tepi kasur. Masih diam, mengumpulkan kesadaran, hingga telinganya menangkap gedoran bersemangat di pintu apartemennya disusul dengan suara bel.
“Kak, Kakak! Kakak udah bangun?” Meski cukup samar, suara itu tertangkap jelas oleh telinganya.
Pernah, ada masa dimana Sora begitu membenci suara gedoran pintu yang merusak ketenangannya. Namun pagi ini, mendengar suara cempreng dan berisik itu, ia justru tersenyum ceria. Semangatnya melejit seketika. Ia buru-buru bangkit, membuka pintu kamar, menyeberangi ruangan, dan langsung berhadapan dengan sosok mungil yang sudah rapi di depan apartemennya.
“Halo, Sonya!” sapa Sora ceria sembari mengacak-acak poni adiknya hingga berantakan.
“Hari ini mau video call, kan?” tanya Sonya dengan mata berbinar-binar.
Sora mengangguk mantap, merangkul bahu adiknya dan membawanya masuk menuju ruang tamu. Ia mendudukkan Sonya di sofa. “Kamu udah makan?” tanyanya sembari berdiri di balik sandaran sofa.
“Em!” Sonya mengangguk antusias. “Papa tadi masak sebelum berangkat kerja. Kata Papa, kalau Kakak mau makan, tinggal dipanasin aja.”
“Oke!” Sora mengusap rambut Sonya gemas. “Tunggu sebentar ya, Kakak ambil laptop dulu.”
“Hore!” seru Sonya kegirangan.
Anak perempuan yang biasanya lemah lembut itu tampak begitu tidak sabar untuk bergabung dalam panggilan grup kali ini. Sora bisa menduga alasannya; Sonya nampaknya naksir berat sama Liam, adik Livi. Setelah terakhir kali diajak bergabung dengan video call.
Benar-benar menggemaskan.
Ia kembali ke kamar, menyambar laptopnya di meja, lalu keluar lagi dan meletakkannya di atas meja ruang tamu sambil duduk bersila di karpet. Jemarinya bergerak lincah mengutak-atik perangkat hingga ikon panggilan mulai berkedut di layar. Sonya turun dari sofa, berlutut dengan rapi di samping kakaknya.
Klik.
“Halo, Sonya!” Lidya muncul paling awal.
Di belakangnya, Ken menyusul sambil menggendong Calvin, putra kecil mereka. Ken menggerak-gerakkan tangan mungil Calvin ke arah kamera untuk menyapa mereka.
Tak lama, Livi bergabung dengan heboh. “Halo, Sonya cantik!” Ia lalu menoleh ke arah samping. “Eh, Liam! Sini! Ada Sonya nih!” panggilnya nyaring hingga speaker laptop Sora berdengung.
Liam muncul di layar, melambaikan tangan tanpa suara dengan wajah yang mendadak merah padam. Anak laki-laki itu tersenyum malu-malu sebelum buru-buru bersembunyi di balik punggung kakaknya.
“Wah, udah ramai!” Evan akhirnya masuk ke dalam panggilan. Ia tampak sedang berjalan di atas jembatan yang melintasi sungai yang cantik.
Ken mencondongkan tubuhnya ke arah layar dari atas bahu Lidya. “Di mana itu, Van?” tanyanya penasaran. Latar belakang Evan kelihatan masih cukup gelap.
“Amsterdam! Langsung syuting season dua!” Evan menghentak-hentakkan alisnya dengan seringai pamer yang khas.
“Makin tenar saja nih, aktor internasional!” sindir Sora jenaka.