Dunia Bumi adalah sebuah kotak kayu yang bernapas, sebuah ruang yang tidak lagi memiliki koordinat di peta mana pun kecuali di dalam labirin gelap kepalanya sendiri. Rumah Jati Baru bukan sekadar bangunan bagi Bumi; ia adalah ekstensi dari sistem sarafnya yang hancur. Dinding-dindingnya adalah kulitnya yang mulai mengeriput, jendela-jendelanya adalah matanya yang katarak oleh debu masa lalu, dan fondasi kayunya adalah tulang-belulangnya yang mulai rapuh dimakan waktu yang statis. Bagi Bumi, rumah ini adalah sebuah organisme hidup yang ikut merasakan setiap denyut trauma yang ia simpan rapat-rapat.
Pagi itu, kelembapan terasa mencekik, seolah-olah udara di dalam ruangan telah kehilangan seluruh molekul oksigennya dan digantikan oleh uap air yang mengandung beban sejarah yang berat. Bumi berdiri di tengah ruang tamu, sebuah ruangan yang dulunya merupakan pusat galaksi keluarganya tempat di mana aroma kue jahe ibu dan asap cerutu ayah berbaur menjadi satu aroma keselamatan yang absolut. Namun kini, ruangan itu hanyalah hamparan bayangan yang membeku, sebuah monumen bagi kehidupan yang telah dicuri oleh satu detik kesalahan di jalan raya.
Ia menatap noda air di langit-langit. Noda itu tidak datang dari hujan semalam, karena ia tahu persis bahwa di luar sana aspal sedang terpanggang oleh matahari Musim Panas yang kejam. Noda itu adalah rembesan dari kesedihannya sendiri yang sudah meluap dari lantai dua lantai yang selama setahun ini tidak pernah ia injak kecuali dalam mimpi buruknya. Warna cokelat noda itu menyerupai peta benua yang hilang, dengan pinggiran yang menghitam seolah-olah habis terbakar oleh api yang dingin. Polanya tidak beraturan, namun jika dilihat dari sudut tertentu, Bumi seolah melihat wajah-wajah yang memanggilnya dari balik plafon yang melapuk.
Tik.
Satu tetesan air jatuh. Gerakannya lambat, hampir sinematik dalam keheningan rumah yang sunyi, sebelum akhirnya pecah di atas ujung hidungnya. Dinginnya tidak wajar. Itu bukan dingin air sumur atau air hujan biasa, melainkan dingin yang hanya bisa dihasilkan oleh ruang isolasi rumah sakit atau lemari besi di kamar mayat. Bumi tidak berkedip. Ia membiarkan air itu merayap turun melalui garis hidungnya, melewati bibirnya yang pecah-pecah, hingga ia bisa mencecap rasa pahit logam yang sudah lama ia kenali: rasa dari ingatan yang membusuk, rasa dari penyesalan yang berkarat di udara yang pengap.
"Kau sedang bersedih lagi, ya?" bisiknya pada dinding di hadapannya.
Suaranya terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu jati tua. Parau, kering, dan hampir tidak berbentuk karena jarang sekali ia gunakan untuk berkomunikasi dengan makhluk hidup. Rumah itu menjawab dengan bunyi krak yang tajam dari arah tangga tengah. Kayu jati itu memuai, atau mungkin sedang bergeser untuk menopang beban pikiran Bumi yang semakin berat setiap harinya. Di sudut ruangan, sebuah jam dinding kuno bermerek Seiko masih berdetak, namun jarum-jarumnya tidak pernah beranjak dari angka dua belas. Bagi Bumi, waktu bukanlah garis lurus yang membawa manusia menuju masa depan; waktu hanyalah lingkaran setan yang menjeratnya pada satu momen tragis yang tidak pernah selesai.
Ia berjalan menuju dapur, setiap langkahnya adalah sebuah peperangan melawan gravitasi keputusasaan yang mencoba menarik tubuhnya hingga tenggelam ke dalam lantai. Lantai kayu di bawah kakinya terasa lunak, seolah-olah kayu itu telah kehilangan kepadatan selulernya dan berubah menjadi sesuatu yang organik, seperti jaringan daging yang mulai membusuk. Di meja makan, sebuah cangkir teh yang sudah kering selama berbulan-bulan meninggalkan noda lingkaran hitam yang pekat seperti gerhana matahari mini yang tertinggal di atas porselen putih yang kini retak seribu.
Bumi mengambil sebuah jeruk purut yang sudah mengeras di atas nampan tembaga. Ia meremasnya dengan ujung jari yang pucat, namun jeruk itu sama sekali tidak memberikan perlawanan. Jeruk itu sudah menjadi batu, kehilangan seluruh sari patinya. Ia mencoba menciumnya, berharap ada sedikit kesegaran yang tersisa, namun yang ia temukan hanyalah bau tanah kering dan kapur barus.
Pikirannya tiba-tiba ditarik paksa kembali ke sebuah Minggu pagi sepuluh tahun lalu. Ingatan itu muncul dalam resolusi yang menyakitkan. Ia melihat Ibunya sedang tertawa di dapur ini, tangannya yang cekatan sedang memeras jeruk yang sama untuk membuat ramuan pencuci rambut tradisional. Ayahnya duduk di kursi pojok, sibuk memperbaiki kaki kursi yang goyang sambil bersiul mengikuti lagu keroncong dari radio tabung. Cahaya matahari saat itu berwarna emas murni, hangat, dan penuh dengan janji-janji masa depan yang cerah. Tidak ada debu di sini waktu itu. Semuanya berkilau.
Tiba-tiba, rasa sakit yang tajam seperti tusukan jarum es menghantam pelipisnya. Bayangan itu pecah berkeping-keping. Suara klakson mobil yang melengking tiba-tiba bergema di telinganya, diikuti oleh dentuman logam yang bertemu dengan beton dengan kekuatan yang sanggup meremukkan baja. Bumi mencengkeram pinggiran meja dapur dengan kekuatan penuh, kukunya memancam ke dalam kayu hingga meninggalkan bekas goresan yang dalam. Napasnya menjadi pendek dan dangkal.
"Berhenti," perintahnya pada dirinya sendiri, suaranya kini berubah menjadi geraman kecil. "Jangan masuk ke sana lagi. Tetap di sini. Tetap di kegelapan."
Namun Rumah Jati Baru tampaknya tidak ingin berhenti. Atap di atas dapur mulai mengeluarkan rembesan air yang lebih deras seiring dengan peningkatan detak jantung Bumi. Suara tik-tik-tik itu kini berubah menjadi irama yang menuntut, sebuah kode Morse yang sangat cepat, seolah-olah rumah itu sedang mengirimkan sinyal darurat, memintanya untuk segera mengakui rahasia yang ia paku mati di lantai dua.
Bumi merasakan matanya mulai memanas. Ia membenci air mata sama seperti ia membenci hujan. Baginya, air mata adalah bukti bahwa pertahanannya sedang runtuh. Ia berjalan menuju pojok ruangan, tempat sebuah ember plastik berwarna merah tergeletak layu. Ember itu sudah penuh dengan air keruh dari bocoran semalam. Saat ia mengangkatnya untuk membuang isinya ke bak cuci piring, ia melihat pantulan wajahnya di permukaan air.
Wajah itu bukan lagi wajah seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun yang penuh ambisi. Wajah di dalam air itu tampak seperti orang asing pucat, dengan lingkaran hitam yang dalam di bawah mata, dan rambut yang berantakan seperti sarang burung yang ditinggalkan penghuninya. Ada sebuah bekas luka tipis yang melintang di alis kirinya, sebuah kenang-kenangan fisik dari malam di mana dunianya berhenti berputar.
"Kau berantakan," bisiknya pada bayangan itu.
Bayangan itu tidak membalas, namun air di ember itu bergetar hebat. Bumi menyadari bahwa tangannya sendirilah yang bergetar. Gemetar itu tidak pernah hilang sejak hari kecelakaan. Dokter menyebutnya sebagai tremor pasca-trauma, sebuah sisa dari kejutan listrik sistem saraf yang tidak pernah pulih sepenuhnya. Bagi Bumi, gemetar itu adalah cara tubuhnya untuk selalu mengingatkannya bahwa ia masih hidup, sementara orang-orang yang ia cintai tidak lagi memiliki kesempatan untuk sekadar gemetar.
Ia menumpahkan air itu ke saluran pembuangan. Suara air yang mengalir ke bawah terdengar seperti suara napas yang terengah-engah di telinganya. Ia teringat bagaimana mobil itu terperosok ke dalam jurang, bagaimana air sungai mulai masuk ke dalam kabin yang ringsek, dan bagaimana ia harus berjuang untuk sekadar mendapatkan satu tarikan napas sementara ia melihat tangan ibunya perlahan-lahan terkulai lemas di sampingnya.
Bumi menutup matanya rapat-rapat, namun gelap di balik matanya justru memancarkan visual yang lebih mengerikan. Ia melihat lampu strobo ambulans yang berkedip biru-merah, memantul di atas aspal yang basah oleh hujan dan darah. Ia mendengar suara paramedis yang berteriak-teriak, suara mesin pemotong hidrolik yang mencoba membebaskannya dari jepitan logam, dan suara keheningan yang paling memekakkan telinga: keheningan dari arah kursi depan tempat ayahnya duduk.
Ia segera membuka matanya kembali, mencari pegangan pada realitas yang ada di sekelilingnya. Ia membutuhkan sesuatu yang statis, sesuatu yang tidak bergerak. Ia menatap dinding dapur yang wallpaper-nya sudah mengelupas. Motif bunga mawar yang dulu berwarna merah cerah kini telah pudar menjadi warna daging yang kering. Ia menyentuh permukaan dinding itu, meraba tekstur kertas yang rapuh di bawah jemarinya.
"Hanya ada aku dan kau," gumamnya pada rumah itu. "Hanya kita. Mereka tidak akan bisa masuk ke sini. Dan aku tidak akan keluar dari sini."
Bumi merasa bahwa Rumah Jati Baru adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa. Di luar pagar rumahnya, dunia adalah hamparan bahaya yang tidak terduga. Di luar sana ada mobil, ada kecepatan, ada logam, dan ada takdir yang bisa merenggut segalanya dalam hitungan detik tanpa peringatan. Di dalam sini, ia aman. Di dalam sini, ia bisa mengubur dirinya sendiri bersama kenangan-kenangannya dan membiarkan waktu perlahan-lahan merubahnya menjadi debu yang menyatu dengan perabotan rumah.
Namun, ia tidak menyadari bahwa di balik pintu depan yang sudah berkarat, sebuah perubahan besar sedang menuju ke arahnya. Sebuah perubahan yang tidak membawa bau aspal terbakar, melainkan bau warna yang cerah dan harapan yang menyakitkan.
Bumi menyeret langkahnya kembali ke ruang tengah. Setiap ubin yang ia injak seolah menyimpan memori tentang bunyi langkah kaki yang berbeda-beda. Ia bisa membedakan antara bunyi langkah Ibunya yang ringan dan teratur, seperti ketukan metronom yang lembut, dengan bunyi langkah Ayahnya yang berat dan mantap, yang selalu membuat bingkai foto di dinding sedikit bergetar. Sekarang, hanya ada bunyi langkahnya sendiri sebuah seretan kaki yang ragu-ragu, tanpa tujuan, dan tanpa irama.
Ia berhenti di depan sebuah cermin besar berlapis perak yang tergantung di lorong menuju kamar mandi. Cermin itu sudah buram, tertutup oleh lapisan tipis debu dan jamur yang tumbuh di balik kacanya, menciptakan pola-pola serupa awan badai yang menyelimuti bayangannya sendiri. Bumi menatap bayangannya dengan rasa benci yang tertahan. Di dalam cermin itu, ia tidak melihat seorang manusia; ia melihat sebuah reruntuhan.