Kehadiran Mentari di ruang tamu Rumah Jati Baru terasa seperti setetes tinta neon yang dijatuhkan ke dalam baskom berisi air keruh. Ia tidak hanya berdiri di sana; ia seolah-olah mengonsumsi kegelapan di sekelilingnya, mengubah atom-atom udara yang berat menjadi sesuatu yang lebih ringan dan sulit didefinisikan. Bumi masih berdiri mematung di dekat pintu yang terbuka, tangannya masih mencengkeram gagang pintu seolah-olah itu adalah satu-satunya benda padat yang tersisa di alam semesta yang mendadak goyah ini.
"Kau... kau tidak bisa begitu saja masuk," suara Bumi akhirnya keluar, kali ini lebih jernih meski masih ada getaran kecemasan yang kental. "Ini properti pribadi. Ini tempat perlindungan. Kau melanggar... kau melanggar segalanya."
Mentari tidak menoleh. Ia sedang sibuk mengeluarkan botol-botol kaca dari koper kayunya. Bunyi denting kaca yang saling bersentuhan terdengar seperti musik lonceng di telinga Bumi suara yang terlalu riang untuk rumah yang sudah lama hanya mengenal bahasa derit kayu.
"Melanggar?" Mentari mengulangi kata itu sambil mengangkat sebuah botol berisi cairan biru safir yang berpendar. Ia menatap botol itu di bawah cahaya matahari yang menembus pintu, mengagumi bagaimana cahaya itu berbiak di dalam cairan tersebut. "Bumi, rumah yang kau sebut tempat perlindungan ini sebenarnya sedang mencekikmu. Aku tidak melanggar rumahmu; aku sedang menanggapi surat undangan yang kau kirimkan lewat setiap tetesan air di langit-langit itu."
"Aku tidak mengirim undangan apa pun," sergah Bumi. Ia melangkah maju, mencoba menunjukkan otoritasnya, namun langkahnya goyah saat kakinya menginjak ubin yang terpapar cahaya matahari. Rasa panas itu membuatnya ingin segera kembali ke pojokan yang gelap.
Mentari akhirnya berbalik. Ia menatap Bumi dengan tatapan yang anehnya tidak memiliki penghakiman. "Setiap kali kau membiarkan noda air itu melebar, kau sedang berteriak minta tolong. Setiap kali kau memaku papan di lantai dua, kau sedang membangun mercusuar penderitaan yang bisa dilihat dari kejauhan. Aku hanya salah satu dari mereka yang ditugaskan untuk memadamkan api yang tidak terlihat itu."
Ia berjalan mendekati dinding di sebelah sofa beludru dinding yang wallpaper-nya paling parah mengelupas, menyingkap lapisan semen yang retak-retak mirip pembuluh darah yang pecah. Mentari menyentuh retakan itu dengan ujung jarinya.
"Dinding ini dingin," gumamnya. "Bukan dingin yang sehat. Ini dingin karena kurangnya sirkulasi harapan. Kau tahu, Bumi, rumah itu seperti tubuh manusia. Jika kau tidak membiarkan emosi mengalir, mereka akan mengendap dan menjadi kalsifikasi. Mereka menjadi batu. Dan batu itu akan menghancurkan struktur dari dalam."
Bumi merasa dadanya sesak. Kalimat gadis itu terlalu akurat, terlalu dekat dengan kebenaran yang selama ini ia coba kubur. Ia membenci bagaimana Mentari bicara seolah-olah ia bisa membaca isi kepalanya hanya dengan menyentuh dinding rumahnya.
"Siapa yang mengirimmu? Dinas sosial? Rumah sakit?" tanya Bumi, suaranya naik satu oktaf. "Atau kau hanya salah satu orang gila yang berkeliaran di jalanan dan menemukan pintu terbuka?"
Mentari tertawa kecil. Tawanya tidak memiliki berat; ia melayang di udara seperti kelopak bunga yang tertiup angin. "Sebut saja aku seorang 'Kurator Memori'. Dan soal siapa yang mengirimku... anggap saja ada sebuah birokrasi di langit sana yang tidak suka melihat bakat sebesar milikmu membusuk di dalam kotak kayu jati."
Mentari membuka botol cairan kuning keemasan yang ia pegang tadi. Seketika, aroma yang sangat kuat memenuhi ruangan. Itu bukan aroma cat acrylic atau minyak yang tajam. Itu adalah aroma jeruk yang baru dikupas, dicampur dengan aroma rumput yang baru dipotong dan sedikit sentuhan vanila. Aroma itu begitu nyata hingga Bumi seolah-olah bisa merasakan tekstur kulit jeruk di lidahnya.
Kenangan tentang Ibunya kembali menyerbu tanpa permunian. Ia melihat Ibunya berdiri di dapur, mengenakan celemek bunga-bunga, sedang memeras jeruk nipis ke dalam segelas teh hangat untuk Ayahnya yang baru pulang kerja. Suara tawa mereka, suara denting sendok, dan kehangatan yang dulu ia anggap remeh kini menghantamnya seperti gelombang pasang.
"Hentikan," bisik Bumi sambil menutup matanya rapat-rapat. "Jangan lakukan itu. Jangan bawa bau itu ke sini."
"Kenapa, Bumi? Karena bau ini mengingatkanmu bahwa kau pernah bahagia?" Mentari bertanya dengan nada yang lembut namun menusuk. "Kenapa kebahagiaan menjadi sesuatu yang begitu menakutkan bagimu? Apakah kau merasa berkhianat pada kesedihanmu jika kau tersenyum sedikit saja?"
Bumi tidak menjawab. Ia merasakan air mata mulai mendesak keluar dari balik kelopak matanya yang terpejam. Rasa bersalah seorang penyintas survivor's guilt adalah rantai yang paling berat yang pernah ia pikul. Setiap kali ia merasakan sedikit kenyamanan, suara di dalam kepalanya akan berbisik: Mereka sudah tidak bisa merasakan ini lagi. Kenapa kau boleh?
Mentari mencelupkan sebuah kuas kecil ke dalam cairan kuning itu. "Aku akan mulai dari noda di plafon itu. Kita akan mengubah tangisan rumah ini menjadi sesuatu yang bisa kau tatap tanpa rasa takut."
Bumi membuka matanya dan melihat Mentari mulai menaiki sebuah kursi kayu tua untuk menjangkau langit-langit. "Jangan sentuh noda itu! Itu... itu bagian dari rumah ini sekarang."
"Tidak, Bumi. Itu bukan bagian dari rumah ini. Itu adalah parasit yang kau pelihara," sahut Mentari. Ia menyentuhkan ujung kuasnya ke pusat noda cokelat yang paling gelap.
Seketika, sebuah fenomena visual yang mustahil terjadi. Di mana pun kuas Mentari menyentuh noda tersebut, warna cokelat yang kusam dan mati itu tidak tertutup oleh cat, melainkan seolah-olah "dimakan" dan diubah menjadi pendaran cahaya kuning yang hangat. Cahaya itu tidak statis; ia bergerak, mengalir mengikuti serat-serat plafon kayu, mengisi setiap retakan dengan emas cair yang berpendar.
Bumi ternganga. Ia mundur hingga punggungnya menabrak pintu yang masih terbuka. "Apa... apa yang kau lakukan? Itu bukan cat biasa."
Mentari terus melukis dengan gerakan yang sangat tenang, seolah-olah ia sedang menenangkan seekor hewan buas yang sedang terluka. "Ini adalah warna dari 'Pagi yang Kau Abaikan'. Aku mengambilnya dari sisa-sisa impianmu yang belum sempat kau buang ke tempat sampah. Lihat, Bumi. Rumahmu menyukainya. Dia sedang meminumnya."
Memang benar. Suara tetesan air yang tadinya berirama cepat dan panik kini melambat. Tik... tik... Bunyinya kini terdengar lebih mirip dengan detak jam yang sehat daripada tetesan air yang bocor. Pendaran kuning itu mulai menyebar ke arah dinding, menciptakan bayangan-bayangan baru yang tidak lagi menakutkan, melainkan tampak seperti dekorasi dari dunia lain.
"Kau melanggar hukum fisika," gumam Bumi, terduduk di lantai karena kakinya benar-benar lemas. "Ini tidak masuk akal. Aku pasti sedang bermimpi. Aku masih di tempat tidur, dan ini hanyalah cara otakku untuk mengatasi depresi."
Mentari turun dari kursi dan menghampiri Bumi. Ia berlutut di depannya, sehingga mata mereka berada di level yang sama. Untuk pertama kalinya, Bumi bisa melihat detail wajah Mentari dari jarak dekat. Ada bintik-bintik kecil (freckles) di sekitar hidungnya yang tampak seperti rasi bintang, dan matanya tidak hanya berwarna cokelat madu, tapi ada kilatan keemasan di dalamnya yang tampak berputar pelan.
"Jika ini mimpi, maka ini adalah mimpi yang paling konsisten yang pernah kau miliki," kata Mentari. Ia mengulurkan tangannya, menawarkan botol kuning itu kepada Bumi. "Cobalah pegang. Rasakan beratnya sebuah harapan."
Bumi ragu-ragu. Tangannya yang gemetar terulur perlahan. Saat ujung jarinya menyentuh botol kaca itu, ia tidak merasakan dinginnya kaca. Ia merasakan kehangatan yang menjalar, mirip dengan rasa hangat saat kau memegang cangkir cokelat panas di tengah hujan badai. Rasa hangat itu merambat naik ke lengannya, menuju bahunya, dan akhirnya menetap di dadanya, memberikan sedikit ruang di paru-parunya yang selama ini terasa terhimpit.