Rumah Jati Baru

Rika Ismayanti
Chapter #3

Bab 3: Rahasia Lantai yang Berderit

Malam tadi adalah malam pertama Bumi tidur tanpa perlu menyumbat telinganya dengan kapas. Cahaya kuning dari botol pemberian Mentari memang telah padam seiring terbitnya matahari, namun kehangatannya seolah-olah telah menyerap ke dalam serat-serat kayu tempat tidurnya. Namun, pagi ini, Rumah Jati Baru kembali menunjukkan sisi gelapnya. Saat Bumi membuka mata, ia tidak lagi mencium aroma vanila atau jeruk. Ia mencium aroma karat yang tajam, bercampur dengan bau air yang menggenang terlalu lama.

Lantai dua tempat yang selama setahun ini ia perlakukan sebagai kuburan yang tidak boleh diganggu mulai beraksi.

Dari atas kepalanya, Bumi mendengar suara gesekan yang berat. Bukan sekadar derit kayu jati yang memuai, melainkan suara sesuatu yang ditarik dengan susah payah di atas lantai koridor. Sret... sret... sret... Suara itu dingin dan ritmis, seolah-olah rumah ini sedang mencoba memindahkan beban kenangannya sendiri.

"Kau sudah bangun, nakhoda?"

Suara Mentari muncul dari arah dapur, diiringi denting piring yang beradu. Bumi tersentak. Gadis itu sudah berada di dalam rumahnya lagi tanpa ia sadari kapan ia masuk. Bumi segera bangkit, mengabaikan rasa pening yang menghantam kepalanya, dan berjalan menuju ruang tengah.

Mentari sedang berdiri di dekat tangga, mengenakan jaket kuningnya yang hari ini tampak sedikit lebih redup karena cuaca di luar sedang mendung. Di tangannya, ia memegang sebuah kuas panjang dan botol baru berisi cairan berwarna biru samudera yang sangat pekat. Cairan itu tidak berpendar ceria seperti warna kuning kemarin; ia tampak berat, tenang, dan sedikit misterius.

"Lantai dua sedang memanggilmu," kata Mentari tanpa basa-basi. Matanya menatap ke arah puncak tangga di mana kegelapan tampak menggumpal seperti asap yang statis. "Plafon di bawah sini sudah kita perbaiki, tapi akarnya ada di atas sana. Kita tidak bisa terus-menerus menampung tetesan air jika kita tidak menutup kerannya."

Bumi menatap anak tangga pertama. "Aku tidak bisa ke sana, Mentari. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Di atas sana... ada hal-hal yang tidak seharusnya dilihat oleh orang yang masih hidup."

"Di atas sana hanya ada kayu, debu, dan ketakutanmu yang kau beri makan setiap hari hingga ia tumbuh menjadi monster," Mentari melangkah mendekati Bumi. Ia meletakkan tangan kirinya di lengan Bumi. Sentuhannya dingin hari ini, sejuk seperti air pegunungan. "Jika kau tidak berani menginjak lantai itu, maka kau akan selamanya hidup di bawah tetesan air matanya. Mari, aku akan membawakan cahayanya, kau bawakan keberaniannya."

Dengan langkah yang berat, Bumi mulai menaiki tangga. Setiap anak tangga yang ia injak mengeluarkan bunyi protes yang dalam. Krak... kruk... Bunyi itu seolah-olah memperingatkan Bumi agar kembali ke bawah, kembali ke zona nyamannya yang hancur. Namun, punggung Mentari yang berjalan di depannya tampak begitu tegak, memberikan semacam jangkar bagi Bumi agar tidak tergelincir kembali ke dalam keputusasaan.

Saat mereka sampai di bordes titik tengah tangga suasana berubah secara drastis. Udara menjadi lebih dingin beberapa derajat. Cahaya matahari yang masuk dari pintu bawah seolah-olah tertahan oleh selapis membran transparan yang gelap di puncak tangga. Bumi bisa melihat koridor lantai dua yang panjang dan sempit. Di sana, cat dindingnya sudah mengelupas secara ekstrem, menyerupai luka koreng yang tidak pernah sembuh.

Dan di sanalah ia melihatnya. Cairan Hitam.

Itu bukan air bocoran biasa. Dari bawah pintu kamar orang tuanya yang terpaku mati, cairan hitam pekat seperti oli mesin atau tinta cumi-cumi merembes keluar. Cairan itu bergerak perlahan, memiliki tekstur yang kental dan berkilau berminyak. Ia tidak mengalir mengikuti hukum gravitasi; ia merayap di atas lantai jati, membentuk pola-pola geometris yang rumit, seolah-olah ia sedang menuliskan sebuah pesan dalam bahasa yang sudah punah.

"Apa itu?" bisik Bumi, suaranya hilang ditelan dinginnya koridor.

"Itu adalah duka yang kau paku, Bumi," jawab Mentari. Ia berlutut di depan aliran cairan hitam itu, namun ia tidak menyentuhnya. "Kau pikir dengan memaku pintu itu, kau bisa menghentikan rasa sakitnya. Tapi kau salah. Rasa sakit yang dipenjara akan membusuk. Ia akan berubah menjadi racun ini cairan yang mencoba menelan sisa-sisa kewarasanmu."

Cairan hitam itu seolah merespons kehadiran mereka. Ia mulai bergejolak, mengeluarkan suara desis halus seperti ribuan serangga yang sedang berbisik. Baunya kini tercium jelas: bau aspal panas di bawah hujan, bau logam yang terbakar, dan bau mawar yang sudah layu selama berbulan-bulan. Semua bau dari malam kecelakaan itu terkonsentrasi di dalam cairan ini.

Bumi mundur, punggungnya menabrak pegangan tangga. "Hentikan, Mentari! Ini salah. Kita tidak seharusnya di sini. Lihat, rumah ini menolak kita!"

"Rumah ini tidak menolak kita, Bumi. Dia sedang muntah!" Mentari membuka botol biru samudera yang ia bawa. "Dia ingin mengeluarkan kotoran ini agar dia bisa bernapas kembali. Bantu aku!"

Mentari mencelupkan kuas panjangnya ke dalam warna biru. Saat ujung kuas itu menyentuh cairan hitam di lantai, terjadi sebuah reaksi kimiawi yang luar biasa. Cairan hitam itu menjerit sebuah suara frekuensi tinggi yang hanya bisa didengar oleh hati yang hancur. Warna biru samudera itu mulai menetralisir kegelapan. Di mana pun warna biru itu dipulas, cairan hitam itu menguap menjadi asap tipis yang beraroma garam laut dan kebebasan.

"Pegang kuasnya, Bumi!" Mentari menyodorkan gagang kuas itu ke tangan Bumi yang gemetar hebat. "Jangan biarkan ketakutanmu yang memegang kendali. Pulas warna biru ini ke atas dukamu. Katakan pada lantai ini bahwa kau tidak lagi ingin tenggelam!"

Bumi menerima kuas itu. Rasanya sangat berat, seolah-olah ia sedang memegang seluruh beban dunianya. Ia menatap cairan hitam yang kini merayap menuju kakinya, mencoba menariknya masuk ke dalam pintu yang terpaku itu. Dengan teriakan yang pecah, Bumi menghantamkan kuasnya ke lantai.

Sretttt!

Warna biru samudera itu meledak dalam pendaran yang menenangkan. Bumi terus memulas, kiri dan kanan, dengan gerakan yang liar namun bertujuan. Ia memulas di atas derit kayu, ia memulas di atas bau aspal, ia memulas di atas bayangan wajah-wajah yang menghantuinya. Setiap kali warna biru itu menutupi cairan hitam, Bumi merasakan sebuah beban di pundaknya terangkat.

"Terus, Bumi! Jangan berhenti sampai pintu itu!" teriak Mentari.

Lihat selengkapnya