Pagi ini, Rumah Jati Baru tampak tidak rela melepaskan penghuninya. Udara di dalam ruangan terasa lebih padat, seolah-olah molekul oksigen di dalamnya saling berpegangan erat agar tidak tersapu oleh angin dari luar. Bumi berdiri di tengah ruang tamu, tepat di perbatasan di mana lantai jati yang hangat bertemu dengan ubin teras yang terkena cahaya matahari langsung. Garis batas itu tampak seperti tebing yang curam bagi matanya.
"Kau sudah memakai sepatumu?" suara Mentari terdengar dari halaman depan. Ia tidak berada di dalam rumah hari ini. Suaranya terdengar jernih, bercampur dengan suara gesekan daun jati yang tertiup angin.
Bumi menatap kakinya. Ia tidak memakai sepatu. Ia bertelanjang kaki. Ia merasa perlu merasakan tekstur dunia dengan kulitnya sendiri jika ia memang harus keluar. Tangannya mencengkeram kusen pintu dengan kekuatan yang sanggup mematahkan kayu yang paling keras sekalipun. Buku-buku jarinya memutih, dan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
"Aku... aku tidak yakin, Mentari," bisik Bumi. Suaranya seolah tersedot oleh luasnya langit di luar sana. "Udara di luar sana terlalu... luas. Aku merasa jika aku melangkah keluar, aku akan tercerai-berai. Tidak ada dinding yang menahanku tetap utuh."
Mentari muncul di bingkai pintu, namun ia tidak masuk. Ia berdiri di atas ubin teras yang retak-retak. Hari ini ia tidak membawa koper kayunya. Sebagai gantinya, ia membawa sebuah botol kecil berisi cairan transparan yang berkilau seperti air raksa di bawah sinar matahari.
"Kau tidak akan tercerai-berai, Bumi. Kau hanya akan memuai," kata Mentari lembut. Ia mengulurkan tangannya, telapak tangannya menghadap ke atas, menunggu. "Rumah ini adalah pelindung yang baik, tapi ia juga bisa menjadi peti mati jika kau tidak pernah keluar untuk mencari udara baru. Lima meter. Hanya lima meter menuju pagar itu. Di sana, duniamu yang sebenarnya menunggu."
Bumi menatap jarak sejauh lima meter itu. Di matanya, jarak itu meluas secara surealis. Rumput liar yang setinggi pinggang di halaman depannya tampak seperti tentara yang siap menyergapnya. Pagar besi yang berkarat itu tampak seperti jeruji penjara yang justru melindunginya dari monster-monster di jalan raya. Dan jalan raya itu sendiri yang hanya terlihat sedikit dari balik semak adalah monster yang sesungguhnya. Suara knalpot motor yang sesekali lewat terdengar seperti raungan binatang buas di telinganya.
"Bagaimana jika ada mobil yang lewat dan aku tidak bisa bergerak?" tanya Bumi, suaranya bergetar hebat. "Bagaimana jika baunya kembali? Bau aspal terbakar itu..."
Mentari melangkah satu senti lebih dekat ke ambang pintu. "Maka kau akan mencium aroma ini." Ia membuka botol transparan itu.
Seketika, sebuah aroma yang sangat murni menyeruak. Itu bukan aroma bunga atau buah. Itu adalah aroma "Hujan Pertama di Atas Tanah Kering". Aroma yang membangkitkan insting paling dasar manusia tentang kehidupan dan harapan. Aroma itu merayap masuk ke dalam hidung Bumi, membasuh sisa-sisa bau karat dan debu yang selama ini menyumbat sistem sarafnya.
Bumi memejamkan matanya. Ia menarik napas panjang. Untuk sesaat, ia tidak berada di Rumah Jati Baru. Ia berada di sebuah padang rumput yang tak berujung, di mana setiap tarikan napasnya terasa seperti meminum air kristal yang segar.
"Langkah pertama, Bumi. Sekarang," perintah Mentari, suaranya kini terdengar lebih tegas.
Bumi melepaskan cengkeramannya pada kusen pintu. Ia merasakan sensasi vertigo yang hebat. Kepalanya berputar. Namun, ia memajukan kaki kanannya. Ujung ibu jarinya menyentuh permukaan ubin teras yang panas karena matahari.
Panas. Itu adalah sensasi nyata. Bukan sensasi hantu, bukan halusinasi. Itu adalah panas yang berasal dari sebuah bintang sejauh jutaan kilometer yang sedang menyapa kulitnya. Bumi tersentak, namun ia tidak menarik kakinya kembali. Ia justru memindahkan seluruh berat badannya ke depan.
Satu langkah.
Ia kini berdiri di ambang pintu. Separuh tubuhnya masih di dalam bayangan rumah, separuh lagi sudah terpapar cahaya matahari yang ganas. Cahaya itu terasa menyengat di kulit wajahnya yang pucat. Ia merasa seperti vampir yang dipaksa keluar dari liangnya. Matanya berair, menolak intensitas spektrum warna yang terlalu jujur di luar sana.
"Bagus," puji Mentari. Ia mundur beberapa langkah, memancing Bumi untuk terus maju. "Jangan lihat ke bawah. Lihat ke depan. Lihat pohon manggamu. Dia butuh kau sentuh."
Bumi mengambil langkah kedua. Kali ini kakinya mendarat di atas tanah yang ditumbuhi rumput liar. Sensasinya berbeda lagi. Tanah itu terasa lembut namun kokoh. Ada sedikit kelembapan di sana, sisa embun pagi yang terjebak di bawah bayangan daun. Bumi merasa seolah-olah bumi (planet tempat ia berpijak) sedang mencoba berkomunikasi dengannya melalui telapak kaki.
"Aku... aku melakukannya," gumam Bumi.
Namun, tepat saat ia merayakan kemenangan kecil itu, sebuah suara membelah keheningan dari arah jalan raya. Sebuah suara yang tidak berasal dari Mentari.
"Bumi? Bumi, kau di sana?"
Suara itu lembut, namun sarat dengan duka dan harapan yang begitu besar hingga sanggup merobek langit. Itu suara perempuan. Suara yang lebih tua dari Mentari. Suara yang selalu muncul dalam mimpi-mimpi terburuk Bumi sebagai sosok yang menangis di samping tempat tidurnya di rumah sakit.