Terbangun adalah sebuah kekerasan yang sunyi. Bagi Bumi, transisi dari tanah taman yang empuk menuju kasur rumah sakit yang kaku terasa seperti dilemparkan dari ketinggian ribuan kaki tepat ke atas hamparan es. Saraf-sarafnya yang telah tertidur selama setahun tiba-tiba menyalak serentak, mengirimkan sinyal rasa sakit yang tumpul namun konstan.
Putih. Semuanya terlalu putih.
Langit-langit di atasnya bukan lagi kayu jati dengan noda air yang puitis. Itu adalah plafon akustik dengan lubang-lubang kecil yang simetris, diterangi oleh lampu neon yang bergetar dengan dengung frekuensi rendah yang menyakitkan telinga. Bumi mencoba menggerakkan lehernya, namun ia merasa seolah kepalanya adalah sebuah batu besar yang dipaku ke bantal.
"Pelan-pelan, Bumi... Jangan dipaksa," suara itu kembali terdengar. Kali ini nyata. Bergetar. Dekat.
Bumi memutar bola matanya ke arah kanan. Di sana, duduk di sebuah kursi plastik yang tampak tidak nyaman, adalah Sekar. Kakaknya tampak sepuluh tahun lebih tua dari terakhir kali Bumi melihatnya secara sadar. Ada garis-garis kelelahan di sudut matanya, dan rambutnya yang dulu hitam berkilau kini tampak kusam, diikat asal-asalan dengan karet gelang. Namun, saat mata mereka bertemu, Bumi melihat ledakan harapan yang begitu murni hingga ia merasa sesak.
"Kak..." desis Bumi. Suaranya tidak lebih keras dari gesekan kain, namun Sekar segera menutup mulutnya dengan tangan, air mata tumpah tanpa bisa dibendung lagi.
"Iya, Dek. Ini Kakak. Kakak di sini. Kau sudah pulang, Bumi. Kau benar-benar sudah pulang," Sekar menggenggam tangan kanan Bumi.
Tangan Sekar terasa sangat panas. Bagi Bumi yang baru saja kembali dari "Rumah Jati Baru" yang sejuk, sentuhan manusia terasa seperti luka bakar yang aneh. Ia merasakan tekstur kulit Sekar keras, kering karena terlalu sering terkena cairan pembersih tangan rumah sakit dan ia menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak lagi berada di dunianya yang aman. Mentari tidak ada di sini. Botol kuning itu tidak ada di sini.
Ia mencoba melihat sekeliling ruangan. Kamar 402. Sebuah ruangan kecil yang dipenuhi dengan mesin-mesin yang berkedip. Monitor jantung di sampingnya mengeluarkan bunyi bip... bip... bip... yang stabil, sebuah metronom yang menandai keberadaannya yang masih terjepit di antara dua dunia. Ada sebuah botol infus yang tergantung tinggi, meneteskan cairan bening ke dalam pembuluh darahnya sebuah versi medis dari tetesan air yang dulu menghantui plafon rumahnya.
"Mana... Mentari?" bisik Bumi. Kata itu sangat sulit dikeluarkan. Lidahnya terasa tebal dan kaku.
Sekar mengerutkan kening, mengusap air mata di pipinya dengan punggung tangan. "Siapa, Sayang? Mentari? Dokter yang merawatmu namanya Dokter Aris. Suster yang sering menjagamu namanya Suster Siti. Tidak ada yang namanya Mentari di sini."
Bumi memejamkan mata. Rasa kecewa menghantamnya lebih keras dari rasa sakit fisiknya. Jadi dia benar-benar hanya halusinasi? pikir Bumi. Hanya pelarian dari otakku yang hampir mati? Namun, saat ia memejamkan mata, ia tidak melihat kegelapan total. Di balik kelopak matanya, ia masih bisa melihat pendaran warna kuning yang samar. Ia masih bisa mencium bau jeruk yang tipis di antara aroma obat-obatan yang tajam. Mentari mungkin tidak ada di Kamar 402, tapi ia meninggalkan jejak di dalam sistem saraf Bumi.
"Bumi, dengar Kakak," Sekar mendekatkan wajahnya, suaranya kini lebih tenang namun serius. "Kau sudah koma selama tiga ratus enam puluh lima hari. Tepat satu tahun. Dokter bilang ini keajaiban. Mereka hampir saja... Kakak hampir saja kehilangan harapan. Tapi kemarin, saat Kakak membacakan cerita tentang rumah tua kita, kau bereaksi. Kau menggerakkan jarimu."
Bumi mencoba memproses informasi itu. Satu tahun. Baginya, waktu di Rumah Jati Baru terasa seperti beberapa minggu yang abadi. Ia menyadari betapa egoisnya ia selama ini, bersembunyi di dalam estetika dukanya sementara kakaknya bertarung sendirian di dunia nyata yang kejam dan mahal.
"Maaf..." kata Bumi. Satu kata itu membawa beban ribuan paku yang pernah ia tancapkan di pintu lantai dua.
"Jangan minta maaf, Bodoh," Sekar tertawa di tengah tangisnya, ia mencium kening adiknya. "Yang penting kau bangun. Kita akan mulai lagi dari awal. Semuanya. Kakak sudah menyiapkan rumah untukmu nanti kalau kau keluar dari sini. Bukan rumah tua kita... Kakak sudah menjualnya untuk biaya pengobatanmu."
Mendengar itu, Bumi merasa jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Rumah Jati Baru sudah dijual?
Dunia di sekitar Bumi tiba-tiba bergetar. Bunyi bip dari monitor jantung menjadi lebih cepat. Perasaan kehilangan yang luar biasa menyapu dirinya. Rumah itu bukan sekadar bangunan; rumah itu adalah wadah bagi arwah orang tuanya, bagi memori masa kecilnya, dan tempat ia bertemu Mentari. Jika rumah itu dijual, di mana Mentari akan tinggal? Di mana ia akan menyimpan warna-warna yang belum sempat ia pulaskan?
"Bumi? Kenapa? Sesak?" Sekar panik, ia segera menekan tombol panggilan suster.
Bumi ingin berteriak bahwa ia tidak ingin rumah itu dijual, namun ia tidak punya kekuatan. Ia merasa dunianya kembali bergoyang. Putihnya kamar rumah sakit mulai memudar, digantikan oleh bayangan kayu jati yang gelap.
Jangan pergi, Bumi... Sebuah suara halus berbisik di telinganya. Itu bukan suara Sekar. Itu suara Mentari.