Rumah Jati Baru

Rika Ismayanti
Chapter #6

Bab 6: Belajar Berdiri di Atas Dunia yang Baru

Dunia nyata ternyata jauh lebih bising daripada Rumah Jati Baru. Bagi Bumi, suara gesekan roda kursi roda di atas lantai polivinil rumah sakit terdengar sekeras raungan mesin industri. Cahaya lampu neon di lorong fisioterapi terasa seperti ribuan jarum kecil yang menusuk retinanya. Namun, di tengah semua ketidaknyamanan sensorik itu, ada satu hal yang membuatnya tetap terjaga: pemandangan di depannya.

Dokter Aris sedang berdiri di ujung lorong paralel bar (besi penyangga jalan), tangannya memegang papan klip, namun matanya terus-menerus mencuri pandang ke arah Suster Citra yang sedang membantu Bumi mengikat tali sepatunya.

"Pelan-pelan, Bumi. Otot-ototmu itu seperti karet yang sudah setahun tidak ditarik. Jangan sampai putus," ujar Aris. Suaranya terdengar profesional, tapi nadanya jauh lebih hangat daripada sebulan yang lalu.

Citra mendongak, menyelipkan seuntai rambut di balik telinganya. "Dokter Aris benar. Dan kau, Dok, jangan terlalu kaku dengan jadwalnya. Bumi baru saja bisa duduk tanpa pusing kemarin sore."

Aris tersenyum sebuah senyum yang hanya ia berikan pada Citra. "Aku hanya ingin dia segera bisa berjalan untuk menghadiri seminar medis bulan depan sebagai 'pasien ajaib' kita, Suster."

Bumi, yang kini duduk di kursi roda dengan kaki yang terasa seperti kayu lapuk, hanya bisa tersenyum tipis. Ia bisa merasakan aura di antara mereka. Di Rumah Jati Baru, ia belajar tentang warna emosi, dan warna di antara Aris dan Citra adalah warna merah muda yang sangat lembut, seperti langit saat fajar.

"Kalian berdua..." bisik Bumi, suaranya kini sudah jauh lebih kuat, meski masih ada sedikit serak. "Kalian harus pergi minum kopi setelah ini. Aku bosan melihat kalian hanya bicara tentang tekanan darahku."

Wajah Citra seketika memerah, ia sibuk membetulkan posisi kaki Bumi di atas tumpuan kursi roda. Sementara Aris berdeham keras, mencoba mengalihkan perhatian ke papan klipnya.

"Fokus, Bumi. Fokus pada kakimu, bukan pada kopi perawatmu," sahut Aris, meski telinganya ikut memerah.

Upacara Langkah Pertama

Latihan hari itu dimulai. Bumi dipapah oleh Citra untuk berdiri di antara dua besi sejajar. Saat tangannya menyentuh besi dingin itu, ia teringat pada pagar besi di Rumah Jati Baru. Dulu, pagar itu adalah batas ilusinya. Sekarang, besi ini adalah jembatan menuju kebebasannya yang nyata.

"Satu... dua... angkat," instruksi Citra.

Bumi mengerang. Rasa sakit menjalar dari telapak kakinya, naik ke tulang kering, hingga ke pinggangnya. Rasanya seperti ada ribuan semut api yang menggigit sarafnya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia merasa berat badannya sendiri adalah beban yang mustahil untuk dipikul.

Lihat selengkapnya