Keluar dari rumah sakit adalah sebuah kelahiran kembali yang canggung. Bagi Bumi, udara di luar sana terasa terlalu mentah, terlalu jujur. Saat kursi rodanya yang kini lebih berfungsi sebagai pengangkut barang karena ia sudah bisa berjalan dengan kruk melewati pintu lobi otomatis, suara bising kota Bandung langsung menyergapnya. Suara angkot yang mengerem, klakson motor yang tak sabaran, dan bau sate yang terbakar di pinggir jalan.
Sekar memandu mobilnya perlahan menuju sebuah kompleks perumahan kecil di daerah perbukitan yang lebih tenang. Rumah Jati Baru yang lama memang sudah dijual, sebuah fakta yang sempat membuat jantung Bumi terasa seperti dicabut, namun Sekar telah menggunakan sisa uangnya untuk menyewa sebuah rumah mungil dengan jendela besar yang menghadap ke lembah.
"Ini bukan Jati Baru, Dek," kata Sekar sambil membantu Bumi turun dari mobil. "Tapi rumah ini punya cahaya matahari yang bagus. Aku tahu kau butuh itu untuk menggambar lagi."
Bumi menatap rumah itu. Dindingnya berwarna putih bersih. Tidak ada ukiran kayu yang rumit, tidak ada bau debu abad lalu. Semuanya baru. Namun, saat ia melangkah masuk, ia merasakan kekosongan. Rumah ini tidak memiliki "jiwa" yang berteriak seperti rumah lamanya. Tidak ada cairan hitam, tapi juga tidak ada pendaran biru samudera.
"Terima kasih, Kak," bisik Bumi. Ia menyentuh dinding ruang tamunya yang dingin.
Di sudut ruangan, ada sebuah kejutan. Sebuah meja gambar baru, lengkap dengan satu set cat air profesional dan kertas sketsa berkualitas tinggi. Di atas meja itu, ada sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan yang rapi namun agak sulit dibaca khas tulisan seorang dokter.
"Untuk pasien paling keras kepala yang pernah aku tangani. Jangan lupa, latihan fisik terbaik bagi seorang seniman adalah menggerakkan kuasnya. - Aris & Citra"
Bumi tersenyum. Ia bisa membayangkan mereka berdua memilih meja ini. Aris mungkin akan memperdebatkan ergonomisnya, sementara Citra akan sibuk memilihkan set warna yang tidak terlalu muram.