Persiapan pernikahan Aris dan Citra menjadi proyek besar bagi Bumi. Ia menolak untuk hanya menjadi tamu. Ia menawarkan diri untuk mendesain seluruh undangan dan kartu ucapan mereka. Baginya, ini adalah cara ia membayar "warna" yang telah mereka berikan padanya selama di rumah sakit.
Setiap malam, di rumah barunya, Bumi duduk di depan meja gambar. Ia menggambar motif bunga melati yang dikombinasikan dengan detak jantung (garis EKG) yang membentuk pola hati. Simbolis, namun indah.
Namun, di tengah kesibukannya, ia sering merindukan "Rumah Jati Baru". Bukan merindukan kesedihannya, tapi merindukan Mentari. Kadang, saat ia sedang mencampur warna kuning, ia merasa seolah-olah ada tangan lembut yang membantunya mengarahkan kuas.
"Apakah kau melihat ini, Mentari?" bisiknya pada udara kosong.
Tidak ada jawaban suara, namun tiba-tiba aroma jeruk purut yang samar tercium di ruang kerjanya. Bumi tersenyum. Ia tahu Mentari masih ada di sana, di suatu tempat di dalam jiwanya, sebagai penjaga memori yang kini telah damai.
Hari yang Dinanti