Keputusan itu datang pada suatu Selasa yang mendung, saat aroma tanah basah mengingatkan Bumi pada koridor biru samudera di lantai dua Rumah Jati Baru. Dokter Aris telah menyatakan bahwa secara fisik, Bumi sudah "lulus" dari pemantauan medis harian. Namun, ada satu pemeriksaan yang tidak bisa dilakukan dengan stetoskop atau MRI: pemeriksaan keberanian untuk menghadapi lokasi di mana hidupnya hancur berkeping-keping.
"Kau yakin ingin melakukan ini, Dek?" Sekar bertanya sambil memegang kunci mobil. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang samar. "Kita tidak harus melakukannya hari ini. Atau besok. Atau kapan pun."
Bumi menatap tangannya yang kini memegang sebuah botol air mineral. Tangannya tidak lagi gemetar sehebat dulu, namun ada ketegangan di otot-pori kulitnya. "Aku harus melihatnya, Kak. Aku tidak bisa menggambar 'Rumah yang Belajar Berjalan' jika aku sendiri masih takut menginjak jalanan yang membunuh Ayah dan Ibu. Aku harus melihat bahwa aspal itu hanyalah aspal. Bukan monster."
Perjalanan menuju KM 97 terasa seperti perjalanan menuju pusat gravitasi yang gelap. Bumi duduk di kursi penumpang, kursi yang sama dengan posisinya saat kecelakaan itu terjadi. Ia sengaja tidak menutup matanya. Ia memaksa dirinya melihat setiap pohon yang terlewati, setiap pembatas jalan yang berkilat tertimpa cahaya matahari yang malu-malu di balik awan.
Di dalam tasnya, Bumi membawa satu set cat air kecil dan sebuah buku sketsa saku. Ini adalah "senjata" yang disarankan Mentari dalam mimpinya tempo hari. 'Jika kau tidak bisa menghapus noda di aspal, maka lukislah sesuatu di atasnya dalam pikiranmu,' begitu bisik suara imajiner itu.
Persinggahan Diantara Kenangan.
Sementara mobil melaju, pikiran Bumi melayang pada Aris dan Citra. Kemarin malam, ia sempat bertemu mereka di kafetaria rumah sakit untuk terakhir kalinya sebelum ia resmi keluar dari program rawat jalan.
"Kami sudah menemukan rumah, Bumi," Citra bercerita dengan mata yang berbinar-binar. Ia menunjukkan foto sebuah rumah paviliun tua di daerah Cipaganti. "Aris bersikeras bahwa rumah itu harus punya taman yang luas. Katanya, dia ingin menanam pohon mangga agar kau bisa berkunjung dan merasa di rumah."
Aris yang duduk di sampingnya hanya bisa tersenyum malu-malu sambil menyeruput kopinya. "Aku hanya berpikir, setiap nakhoda butuh pelabuhan yang ramah. Dan kau, Bumi, adalah nakhoda pertama yang berhasil aku selamatkan dari badai saraf yang paling rumit. Kau adalah inspirasiku untuk mendalami spesialisasi neuro-psikiatri."
Percakapan itu berlangsung selama hampir dua jam. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil; tentang rencana pernikahan yang sederhana, tentang keinginan Citra untuk tetap menjadi perawat karena ia merasa "panggilan jiwanya ada di antara sprei putih pasien", dan tentang bagaimana Aris mulai belajar memasak demi menyenangkan calon istrinya.