H-7 menjelang pameran "Rumah Yang Belajar Berjalan". Lobi utama Rumah Sakit Pusat, yang biasanya hanya dipenuhi oleh aroma karbol dan wajah-wajah cemas, kini mulai bertransformasi. Manajemen rumah sakit memberikan izin khusus untuk mengubah area sayap kanan menjadi galeri temporer.
Bumi berdiri di tengah ruangan itu, memegang denah pameran. Di sampingnya, Suster Citra yang mengambil cuti khusus untuk membantu persiapan ini sedang sibuk mengatur pencahayaan lampu sorot.
"Bumi, lukisan 'Cairan Hitam' ini... apakah kau yakin ingin memajangnya tepat di depan pintu masuk?" tanya Citra. Ia menatap kanvas berukuran satu meter persegi yang didominasi warna hitam pekat, namun memiliki tekstur mengkilap seperti aspal basah. "Ini sangat kuat. Aku takut pasien yang baru masuk akan merasa... tertekan."
Bumi berjalan mendekati lukisan itu. Ia menyentuh bingkai kayu jati yang ia buat sendiri dari sisa-sisa kayu rumah lamanya. "Justru itu poinnya, Cit. Aku ingin orang-orang melihat bahwa kegelapan itu ada. Ia nyata dan ia pekat. Tapi lihatlah lebih dekat."
Citra menyipitkan mata. Di bawah lampu sorot yang ia atur, ia melihat sesuatu yang luar biasa. Di tengah pusaran warna hitam itu, Bumi mencampurkan bubuk mika perak dan sedikit pigmen biru laut. Jika dilihat dari sudut tertentu, cairan hitam itu tidak lagi tampak seperti oli, melainkan seperti hamparan langit malam yang penuh bintang.
"Kegelapan hanyalah cahaya yang sedang bersembunyi," bisik Bumi. "Pasien harus tahu bahwa penderitaan mereka hari ini adalah kanvas bagi kebahagiaan mereka esok."