Rumah Jati Baru

Rika Ismayanti
Chapter #13

Bab 13: Hari Pembukaan dan Kehadiran "Sosok Misterius"

Hari itu, lobi Rumah Sakit Pusat tidak lagi berbau obat yang menusuk. Suster Citra telah memesan puluhan pot bunga lili putih dan melati untuk diletakkan di sudut-sudut galeri, menciptakan aroma botani yang menenangkan. Cahaya pagi masuk melalui jendela kaca besar, membiaskan spektrum pelangi di atas lantai marmer yang bersih.

Bumi berdiri di sana, mengenakan kemeja katun berwarna biru samudera—warna yang sama dengan koridor lantai dua yang ia pulaskan dalam imajinasinya. Ia merasa cemas, namun ada rasa bangga yang menyelinap di antara degup jantungnya. Di dadanya tersemat sebuah kartu nama kecil bertuliskan: Bumi Seniman Residensi.

"Kau terlihat sangat tampan, Dek," Sekar menghampirinya, mengenakan kebaya modern yang elegan. Ia merapikan kerah kemeja Bumi dengan penuh kasih. "Ibu dan Ayah pasti sedang tersenyum lebar melihatmu sekarang."

Bumi tersenyum, meski ada sedikit pedih di hatinya. "Terima kasih, Kak. Tanpamu, aku tidak akan pernah sampai di hari ini."

Tak lama kemudian, rombongan staf medis mulai berdatangan. Di garis depan, Dokter Aris tampak sangat bersemangat. Ia menggandeng tangan Citra yang terlihat cantik dengan seragam perawat yang disetrika sangat rapi, ditambah bros bunga kecil di kerahnya.

"Sudah siap untuk menunjukkan pada dunia apa yang terjadi di balik mata yang terpejam?" tanya Aris sambil menjabat tangan Bumi dengan mantap.

"Aku siap, Dok," jawab Bumi.

Pameran dibuka dengan pidato singkat dari Direktur Rumah Sakit. Beliau menyebut Bumi sebagai "Simbol Ketahanan Manusia". Namun bagi Bumi, ia hanyalah seorang pria yang baru saja menemukan kuasnya kembali. Saat pita dipotong, para tamu mulai menyusuri lorong galeri.

Bumi memperhatikan reaksi mereka. Ada pasien yang menangis saat melihat lukisan "The Resuscitation of Memory". Ada anak-anak yang menyentuh tekstur kasar pada lukisan "Cairan Hitam". Bumi menyadari bahwa penderitaannya kini telah menjadi obat bagi orang lain.

Bagian Kedua: Sosok yang Tak Asing

Di tengah keramaian itu, saat Bumi sedang menjelaskan teknis pewarnaan kepada seorang jurnalis, ia merasakan sebuah kehadiran yang aneh. Bukan kehadiran yang menakutkan, melainkan sebuah getaran yang sangat familiar seperti aroma jeruk purut yang tiba-tiba melintas di tengah padang salju.

Bumi menoleh ke arah pintu masuk. Di sana, seorang gadis muda berdiri mematung.

Lihat selengkapnya