Upacara dilakukan di sebuah kapel kaca yang menghadap langsung ke lembah. Saat pintu kapel terbuka, musik string quartet mulai memainkan komposisi lembut. Bumi berjalan di depan sebagai best man, membawa kotak cincin. Langkahnya stabil, ritmis, seolah-olah ia sedang menari di atas trauma masa lalunya.
Lalu, Citra muncul.
Cahaya matahari pagi yang menembus dinding kaca kapel seolah-olah berpusat padanya. Ia tidak berjalan; ia melayang. Setiap langkahnya adalah puisi tentang kesetiaan. Bumi menoleh ke arah Aris dan melihat sahabatnya itu benar-benar meneteskan air mata. Aris tidak mencoba menghapusnya. Ia membiarkan air mata itu menjadi saksi bisu atas perjalanan panjang mereka.
Saat mereka berdiri berhadapan di depan altar, suasana menjadi sangat khusyuk. Angin pegunungan berhembus pelan melalui ventilasi atas, membawa aroma pinus yang segar.
"Saya, Aris Pratama..." suara Aris terdengar berat namun pasti. "...berjanji untuk menjagamu dalam sehat maupun sakit. Untuk menjadi pelabuhanmu saat badai datang, dan menjadi cahayamu saat kegelapan mencoba merayap masuk."
Citra membalas janji itu dengan suara yang jernih, meskipun sesekali terputus oleh isak bahagia. "Saya, Citra Amelia... menerima kau sebagai nakhoda dalam hidup saya. Untuk berjalan bersamamu, merawat setiap luka yang muncul, dan merayakan setiap napas yang kita hirup bersama."