Tiga bulan setelah hiruk-pikuk pernikahan Aris dan Citra mereda, Bumi menemukan dirinya berdiri di tengah paviliun tua di Cipaganti. Cahaya matahari pagi menyusup melalui jendela-jendela besar yang bergetar setiap kali bus kota lewat di jalanan luar. Studio ini bukan sekadar ruang kerja; bagi Bumi, ini adalah sebuah laboratorium kehidupan.
Ia menghabiskan minggu pertama hanya untuk mengatur letak meja gambarnya. Ia ingin meja itu menghadap ke arah timur, agar ia bisa melihat bagaimana warna kelabu subuh perlahan-lahan dikalahkan oleh semburat jingga—sebuah pengingat harian tentang transisi dari koma menuju kesadaran.
"Hitam bukan musuh," bisik Bumi pada dinding kosong yang menunggunya.
Ia mulai membuka botol tinta India-nya. Bau tinta itu tajam, maskulin, dan pekat. Ia mendeskripsikan tekstur tinta itu dalam catatan pinggirnya sebagai "darah dari masa lalu". Saat ia mencelupkan pena logamnya ke dalam botol, ia teringat bagaimana Dokter Aris dulu sering memeriksa reaksi pupil matanya dengan senter kecil. Dulu, hitam adalah jurang. Sekarang, hitam adalah medium untuk bercerita.
Bumi mulai mengerjakan Bab Satu dari novel grafisnya: "Detak yang Tercuri".
Ia menggambar panel pertama dengan detail yang sangat ekstrem. Ia tidak hanya menggambar sebuah mobil, ia menggambar pantulan langit di kap mobil perak ayahnya sesaat sebelum benturan terjadi. Ia menggambar butiran kaca yang melayang di udara seolah-olah waktu berhenti berputar. Ia menghabiskan tiga hari hanya untuk menyempurnakan ekspresi wajah ibunya di kursi penumpang—sebuah campuran antara keterkejutan dan keinginan protektif untuk menoleh ke arah Bumi di kursi belakang.
"Aku harus merasakan setiap goresan ini," gumamnya. Tangannya yang dulu lumpuh kini bergerak dengan presisi seorang ahli bedah, sebuah ironi yang sering ia diskusikan dengan Aris saat mereka minum kopi di sore hari.
Di sisi lain kota, di dalam gedung rumah sakit yang dingin, Dokter Aris sedang duduk di ruangannya, dikelilingi oleh tumpukan jurnal medis. Pernikahannya dengan Citra telah memberinya kedamaian, namun profesinya terus memberinya luka baru.
Ia baru saja menangani seorang pasien remaja yang mengalami kecelakaan serupa dengan Bumi, namun hasilnya berbeda. Pasien itu tidak bertahan.