Pagi itu, langit Bandung tidak memberikan kepastian. Mendung menggelayut rendah di atas pepohonan Cipaganti, menciptakan suasana melankolis yang seolah mendukung niat Bumi untuk melakukan perjalanan ini. Ia sudah memegang kunci mobilnya selama sepuluh menit, duduk diam di teras studio sambil menatap telapak tangannya.
"Kau tidak harus pergi sendirian, Bumi," suara Sekar terdengar dari arah dapur. Kakaknya itu sedang membungkus beberapa kotak bekal.
"Aku harus, Kak. Jika aku pergi bersamamu, kita hanya akan saling menangisi masa lalu. Aku ingin melihat rumah itu bukan sebagai saudara yang berduka, tapi sebagai orang asing yang ingin berkenalan kembali dengan sejarahnya."
Perjalanan menuju daerah perumahan lama itu memakan waktu tiga puluh menit. Setiap belokan jalan, setiap ruko yang ia lewati, memicu ledakan memori di kepalanya. Di sana ada toko buku tempat ayahnya dulu membelikan set cat air pertamanya. Di sana ada kedai martabak yang selalu menjadi tujuan mereka setiap Sabtu malam. Bumi mencatat setiap detail visual ini dalam pikirannya—tekstur aspal yang retak, warna cat tembok yang memudar, hingga aroma sate yang terbakar di pinggir jalan.
Saat mobilnya berhenti di depan pagar Rumah Jati Baru, napas Bumi tertahan.
Pagar besi yang dulu berwarna hitam berkarat, kini telah dicat ulang menjadi warna putih bersih. Papan nama besar di depan gerbang bertuliskan: "Panti Asuhan Cahaya Mentari".
Bumi turun dari mobil. Kakinya terasa berat, seolah gravitasi di depan rumah ini bekerja dua kali lebih kuat. Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang sangat teduh, bernama Ibu Maria, menyambutnya di gerbang.
"Anda pasti Bumi," kata Ibu Maria sambil tersenyum hangat. "Mbak Sekar sudah memberi tahu saya bahwa Anda mungkin akan berkunjung."