Rumah Jati Baru

Rika Ismayanti
Chapter #18

Bab 18: Kanvas yang Berbicara

Kembali di studio Cipaganti, setelah kunjungannya dari panti asuhan, Bumi tidak bisa tidur. Ia merasa seolah-olah ada energi yang meluap dari ujung jari-jarinya. Ia berdiri di depan kanvas raksasa berukuran 2x3 meter.

Ia mulai mencampur warna. Kali ini, ia tidak mulai dengan hitam. Ia mulai dengan Putih Titanium yang dicampur dengan sedikit Kuning Primrose.

Ia menggambarkan jendela besar Jati Baru. Namun, di balik jendela itu, ia tidak melukis hantu ayahnya atau kesedihan ibunya. Ia melukis pantulan wajah anak-anak panti asuhan. Ia melukis Fajar dengan krayon kuningnya.

Teknik yang ia gunakan sangat rumit—impasto yang tebal untuk memberikan tekstur pada kayu jati, dan glazing yang tipis untuk memberikan efek cahaya matahari yang menembus debu-debu di udara. Bumi mendeskripsikan setiap tarikan kuasnya: bagaimana bulu kuas sintetisnya menari di atas permukaan kain linen, bagaimana bau minyak linseed bercampur dengan aroma kopi hitam yang ia seduh untuk ketiga kalinya malam itu.

"Ini bukan lagi tentang aku," bisik Bumi pada lukisannya. "Ini tentang mereka yang tetap hidup."

Ia menghabiskan ribuan kata dalam narasinya untuk menjelaskan transisi warna dari biru pucat menuju jingga yang membara. Ia menjelaskan bagaimana setiap titik cahaya dalam lukisannya mewakili satu detak jantung yang berhasil ia pertahankan melalui perjuangan Aris dan Citra.

Saat fajar mulai menyingsing di Cipaganti, lukisan itu selesai. Bumi jatuh terduduk di lantai studionya yang penuh noda cat. Ia kelelahan secara fisik, namun secara spiritual, ia merasa sangat ringan. Ia menatap matahari yang terbit dari balik pohon-pohon besar di jalanan, menyadari bahwa ia telah berhasil memindahkan "Mentari" dari dunianya yang gelap ke dalam kanvas yang nyata.

Lobi utama Gedung Galeri Nasional di pusat kota Bandung tidak pernah terasa sesunyi ini, meski sudah ada puluhan orang yang mengantre di luar pintu kaca. Di dalam, Bumi berdiri sendirian. Ia mengenakan kemeja katun hitam yang pas, lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan tangannya yang kini tampak kokoh dan penuh noda cat yang sulit hilang di sela kuku—tanda pangkat bagi seorang seniman.

Aroma di ruangan ini adalah campuran antara wangi kayu jati yang baru dipoles, aroma bunga lili putih yang dikirimkan oleh Sekar, dan bau samar dari cat minyak yang masih "bernapas" di atas kanvas. Bumi berjalan perlahan menuju pusat ruangan, di mana karya utamanya ditutup dengan kain beludru hitam yang megah.

Pukul 19.00 tepat. Pintu galeri dibuka.

Aris dan Citra masuk pertama kali. Aris tampak sangat formal dengan jas abu-abu gelap, sementara Citra terlihat sangat bercahaya dengan gaun panjang berwarna kuning pucat—sebuah penghormatan yang disengaja untuk simbol harapan Bumi. Di belakang mereka, Sekar berjalan dengan menggandeng tangan Fajar, anak kecil dari panti asuhan yang membawa krayon kuningnya.

Lihat selengkapnya