Pada akhirnya, hidup memang tidak pernah benar-benar mengajarkan manusia cara menghindari luka. Ia hanya mengajari bagaimana cara berjalan sambil membawa bekas-bekasnya. Dan Bumi akhirnya memahami itu setelah perjalanan panjang yang nyaris merenggut seluruh warna dalam dirinya.
Ia pernah hidup di rumah yang penuh suara, lalu tenggelam dalam kesunyian yang menyesakkan. Ia pernah membenci malam karena gelapnya terasa seperti jurang yang siap menelannya kapan saja. Ia pernah memandang cermin dan tidak menemukan siapa-siapa di sana selain tubuh kosong yang kehilangan arah. Namun waktu, dengan caranya yang perlahan dan kejam, mempertemukannya pada orang-orang yang tidak menyerah memanggil namanya kembali ke dunia.
Aris mengajarkannya bahwa harapan kadang hadir dalam bentuk tangan gemetar yang tetap memilih bertahan. Citra mengajarkannya bahwa kelembutan mampu menyelamatkan jiwa yang paling rusak sekalipun. Sekar mengajarkannya bahwa keluarga tidak selalu tentang siapa yang tetap tinggal, tetapi siapa yang memilih bertahan ketika semuanya runtuh. Dan Rara… gadis dengan warna-warna matahari itu mengajarkannya bahwa manusia bisa saling menemukan bahkan di ruang paling gelap dari kesadarannya.
Bumi dulu berpikir bahwa dirinya adalah korban dari takdir yang kejam. Bahwa kecelakaan itu telah mencuri seluruh masa depannya. Tapi kini ia mengerti, beberapa manusia memang harus hancur terlebih dahulu agar mereka bisa melihat bentuk asli dari cahaya.
Karena cahaya tidak pernah benar-benar lahir dari tempat yang utuh.
Ia lahir dari retakan.
Dari dada yang pernah sesak oleh ketakutan.
Dari mata yang terlalu lama menangisi kehilangan.
Dari tangan yang gemetar saat mencoba menyusun kembali hidup yang porak-poranda.