BELENGGU RUMAH KACA

KUMARA
Chapter #1

RUMAH di DEKAT HUTAN

"Ini rumahnya?"

Kenzy yang baru turun dari taksi mengedarkan pandangan ke sekitar. Hawa berbeda menyergap tubuh mungilnya. Rumah majikan baru kenzy berada jauh dari pemukiman, berdiri terasing diapit hutan-hutan sunyi. Rumah berlantai 2 itu berdinding kaca, tirai besar berwarna merah tua dipakai sebagai penutup supaya orang dari luar tidak bisa tembus melihat ke dalam, tapi siapa juga yang akan mengintip, tidak ada tetangga. Rasa takut lumayan menjalar dari kaki Kenzy, ini adalah pekerjaan serius pertama baginya tapi langsung disuguhi pedalaman seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, dia butuh uang, dia tidak mungkin menolak sekarang.

Gadis sebatang kara itu baru tahun ini lulus SMA. Hidupnya terbilang pilu dan penuh tragedi sejak masih di kandungan. Ibunya adalah seorang korban perkosaan, tidak diketahui ayah biologisnya berada di rimba mana. Ibu Kenzy tidak mau membesarkannya karena trauma, sejak masih merah, Kenzy telah tinggal di panti asuhan, beberapa kali ibunya sempat datang berkunjung tapi sejak dia duduk di bangku kelas 6 SD, tak ada lagi kabar soal ibunya, tak pernah lagi ada kunjungan. Permasalahan hidup Kenzy tidak berhenti di sana, dia mendapat penganiayaan dari ibu panti, hal itu membuat kepercayaan diri Kenzy tidak tumbuh, dia menjadi pemalu dan selalu sendiri. Kesendirian itu membuat dirinya menjadi bulan-bulanan perundungan anak panti yang lain. Saat SMP, Kenzy pernah depresi bahkan nyaris didiagnosis Skizofrenia, dia kerap berhalusinasi. Dari didatangi ibunya sampai pernah merasa ketakutan akan dibunuh orang tidak dikenal.

Kondisi psikis Kenzy yang tidak stabil berakhir cukup melegakan, dia dibawa untuk mendapat penanganan profesional. Semua biaya berasal dari Dinas Sosial. Sambil dirawat intens, pendidikan Kenzy juga terus berjalan. Tidak ada lagi perundungan, tidak ada lagi penganiayaan dari bu panti, kondisi Kenzy membaik, sampai dia dinyatakan pulih dan kembali normal. Tapi prestasinya juga tidak seberapa membanggakan, menurut dokter, otak Kenzy memang cukup lamban dalam memproses informasi, penyebabnya adalah semua trauma yang pernah dia lalui. Karena itu Kenzy memutuskan untuk tidak melanjutkan studi. Berkat bantuan dari Dinas Sosial pula Kenzy bisa dapat pekerjaan sesuai yang dia inginkan, menjadi pengasuh anak. Sebelumnya dia telah mendapat pelatihan selama setahun sejak duduk di kelas 12, percobaan pertamanya cukup berhasil dengan baik.

Tidak ada keluhan keluar dari mulut Kenzy. Mengasuh anak orang lain bukan pekerjaan sulit bagi Kenzy, walau memang melelahkan. Pekerjaan-pekerjaan dasarnya hanya mengganti popok, memandikan, menyuapi makan, membacakan dongeng dan menidurkan, semua itu sudah dikuasai Kenzy. Dia sudah siap untuk menghadapi kehidupan nyata yang liar di luar sana, tidak lagi bergantung pada Dinas Sosial, dia bertekad untuk bisa mandiri, kalau bisa tahun ini dia berharap bisa mulai menabung untuk membeli rumah sendiri. Tapi baru keluar dari sangkar nyaman, rupanya Kenzy langsung disambut tantangan baru.

Seorang perempuan paruh baya membuka pintu kaca. "Kamu pengasuh baru yang dimaksud pak Vincent, ya?" tanyanya. Perempuan pendek itu berkulit pucat, rambutnya dicepol rapi dan dia memakai seragam pelayan berwarna hitam putih, Kenzy menebak dia adalah seorang pembantu.

Kenzy mengangguk sedikit ragu. "Saya tadi diantar penyalur, betul ini rumah pak Vincent?" Kenzy merapikan rambut kusutnya. Gadis belia itu memang selalu berpenampilan acak-acakan dengan kardigan butut yang telah bolong di sana -sini, dan celana jins gombrang, rambut lurus di bawah bahunya mungkin hanya seminggu sekali menyentuh sisir, dia tidak pernah peduli penampilan. Tapi melihat penampilan si pembantu yang cukup rapi, sepertinya Kenzy juga harus terbiasa rapi mulai sekarang.

Lihat selengkapnya