"... Zy ... Kenzy ..."
Suara serak yang berbisik tepat di samping daun telinga Kenzy menghentakkan matanya untuk terbuka. Tubuh bagian atasnya yang terbaring di atas rerumputan seketika bangkit. Dia edarkan pandangan ke sekeliling, sejauh mata memandang hanya ada hutan gelap. Kenzy melihat dirinya sendiri yang terbalut gaun putih. Aku di mana? pikirnya takut seraya perlahan berdiri. Pelan-pelan dia menyusuri rumput-rumput tajam tanpa alas kaki.
"Kenzy ..."
Tiba-tiba entah dari mana, di hadapannya berdiri ibu Kenzy. "Mama ..." Kenzy berucap lirih. Saat tangan kanan Kenzy hendak menyentuh ibunya, tiba-tiba sosok ibunya hilang lagi. Kenzy berbalik, berputar mencari ibunya. Kedua bola mata coklat miliknya justru berjumpa dengan sosok dirinya yang tengah berdiri di antara semak belukar, tapi Kenzy yang satu ini memakai gaun hitam. Ketika Kenzy berniat untuk mendekat, Kenzy bergaun hitam itu mendadak ditarik seorang pria tak berwajah ke dalam balik semak. Lalu kemudian terdengar suara jeritan minta tolong yang sangat kuat. Pria tanpa wajah itu memperkosa Kenzy bergaun hitam.
"Tolong ...!! Tolong ...!!"
Kenzy menutup kedua kupingnya supaya suara lolongan itu lenyap ....
"... Kenzy!!"
Sekali lagi Kenzy tersentak dibangunkan. Tapi sekarang dia terbangun di atas ranjang menggunakan piyama hitam. Mimpi buruk itu lagi. Kenzy menyeka keringat jagung di jidatnya. Sudah biasa baginya mendapat mimpi buruk serupa, yang dia sendiri tak tahu apa artinya.
"Itu pak Vincent sama Roy sudah pulang, ayo keluar!" ujar Bu Risma sambil mencuil sedikit paha Kenzy.
Meski masih sedikit oleng efek mimpi buruk tadi, Kenzy tetap mengusahakan untuk bangkit berdiri keluar menyusul Bu Risma. Kenzy kagok sesaat setelah dia sampai di ruang utama, pria bernama Vincent telah duduk sambil melepas sepatu pantofelnya. Pria itu tinggi, rambutnya tebal, wajah dan kulitnya seperti pria campuran kulit putih, dia juga pucat, dibalik kemeja putih yang dia pakai tersimpan tubuh gagah berisi. Sangat tampan, bagi Kenzy dia adalah pria tertampan yang pernah dia lihat.
"Mama ...!" Seorang bocah lelaki yang memiliki perawakan seperti Vincent menghambur memeluknya, memecah lamunan Kenzy, kulit anak itu tidak kalah pucat.
Vincent menyunggingkan senyum melihat tingkah pola anak satu-satunya. "Kamu harus terbiasa, Roy selalu memanggil pengasuhnya sebagai mama." Vincent bicara pada Kenzy. Gadis itu hanya membalas dengan senyum kikuk, sisa debar karena terpesona pada Vincent belum juga reda. "Kamu baru lulus SMA, ya? Umur berapa? Nama kamu kenzy, kan?" tanya Vincent bertubi-tubi.