RUMAH KAMI PINDAH DIMENSI Setiap Tanggal Satu PADAHAL BELUM LUNAS

PapaDi_YSELnury
Chapter #2

1.1: Alhamdulillah, Cicilan...

“Alhamdulillah... akhirnya bisa punya rumah sendiri, walau cicilannya lima belas tahun.”

Itulah kalimat sakti yang aku ucapkan di kantor Notaris beberapa hari lalu. Kalimat yang separuh doa, separuh kutukan, dan separuhnya lagi adalah bentuk kepasrahan seorang kepala keluarga. Sebagai pria berdarah Jawa yang lahir dan besar di Medan, aku ini tipe yang kalau sudah punya target, harus paten. Tapi di usiaku yang sudah menyentuh angka empat puluh ini, pihak bank ternyata nggak seberani itu kasih aku napas panjang. Lima belas tahun adalah angka maksimal yang mereka tawarkan setelah melihat uban yang mulai tumbuh di pelipisku.

Artinya, aku akan terus membayar cicilan ini sampai napas terakhirku sebagai karyawan, tepat saat aku pensiun di usia lima puluh lima nanti. Petugas banknya saja sampai berkali-kali menatap slip gajiku dan mukaku secara bergantian, seolah ingin memastikan apakah aku bakal tetap sehat dan "berfungsi" sampai tahun ke-lima belas. Memiliki rumah di Jakarta dengan status "Pejuang KPR" di usia kepala empat itu rasanya seperti balapan lari melawan waktu yang curang. Setiap kali aku menandatangani berkas, rasanya seperti sedang menjaminkan sisa masa mudaku demi sepetak tanah dan bangunan tipe 70 ini.

Tapi sekarang, di malam pertama kami menempati rumah ini, kebanggaan itu mendadak luntur bersama keringat yang membasahi kaos dalamku sampai lepek.

"Papa! Itu kerannya jangan dipaksa! Nanti patah di dalam, kita harus bobok tembok lagi! Biayanya mahal, Papa! Tabungan kita sudah tipis buat bayar biaya balik nama!" suara melengking dari arah dapur membuat konsentrasiku buyar.

Aku sedang berjongkok, meringkuk di bawah wastafel sempit dengan kunci Inggris di tangan kanan dan tang kombinasi di tangan kiri. Kondisinya benar-benar kritis. Drat kerannya sudah berkarat parah, seolah-olah besi itu sudah tidak dialiri air sejak zaman penjajahan Belanda. Sebagai lulusan Teknik, harga diriku dipertaruhkan di sini. Masa cuma urusan keran mampet aku harus panggil tukang dan bayar dua ratus ribu? Gengsi, dong! Mengingat cicilan rumah yang setara harga motor matic setiap bulannya, uang dua ratus ribu itu sangat berharga. Itu setara dengan stok mi instan untuk dua bulan jika kondisi ekonomi keluarga sedang dalam masa "darurat militer".

"Sabar, Ma. Ini cuma masalah tekanan udara yang terjebak di dalam pipa. Namanya juga rumah lama kosong, pipanya butuh 'keran-tina' dulu sebentar baru mau jalan," sahutku sambil menyeringai, mencoba mencairkan suasana.

"Garing, Papa! Nggak lucu!" seru Wati dari balik tumpukan kardus.

"Lho, beneran Ma. Papa ini lagi berusaha jadi bapak yang 'keran' (keren). Kan Papa ahli per-keran-an," balasku lagi, masih sempat-sempatnya melempar jokes receh meski punggungku sudah terasa mau patah jadi dua.

Wati berdiri di ambang pintu dapur, memegang botol minyak kayu putih seperti sedang memegang jimat pelindung. Istriku yang tercinta ini adalah lulusan Manajemen yang benci ketidakteraturan. Baginya, malam pertama di rumah baru harusnya berjalan sesuai Standard Operating Procedure (SOP). Mandi, sikat gigi, doa, lalu tidur. Keran mampet ini adalah gangguan serius dalam workflow rumah tangganya yang suci. Dia sudah berdiri di sana sejak dua jam yang lalu, mengawasi setiap gerak-gerikku dengan tatapan "audit".

"Teknik dasar tapi dari tadi nggak keluar-keluar airnya! Kasihan Kakak sama Adek, Pa. Badannya sudah lengket semua kena debu kardus. Tadi pas angkat-angkat lemari, mereka keringatan parah. Seharusnya mereka sudah cuci muka sama sikat gigi dari tadi, tapi gara-gara Papa mau jadi 'pahlawan instalasi” dan sotoy, semuanya jadi molor. Ini sudah mau tengah malam, Papa Budi!"

"Ma, tahu nggak kenapa keran ini mampet?" tanyaku lagi sambil menoleh ke arahnya, mencoba mengalihkan kemarahannya dengan teknik klasik bapak-bapak.

Lihat selengkapnya