RUMAH KAMI PINDAH DIMENSI Setiap Tanggal Satu PADAHAL BELUM LUNAS

PapaDi_YSELnury
Chapter #2

1.1: Alhamdulillah, Cicilan...

Kalau merujuk pada Standar Nasional Indonesia, beton kualitas tinggi saja bisa retak kalau dibiarkan di cuaca ekstrem. Apalagi tulang rusuk bapak-bapak usia empat puluh tahun yang baru saja ketiban reruntuhan stalaktit di gua antah-berantah.

"Hahh... hahh..." Setiap kali aku memaksakan diri menarik napas, rasanya seperti menelan segenggam pecahan kaca. Asap putih tebal mengepul dari mulutku, lalu dalam hitungan detik langsung membeku menjadi butiran kristal es di ujung kumis dan alisku yang sudah kaku.

Angin badai menampar mukaku lebih sadis dari komplain owner di projek konstruksi. Jarak pandang nol. Sepuluh jari kakiku sudah mati rasa total, seolah sepatu bot yang kupakai cuma pajangan. Tapi aku terus memaksakan diri merangkak menembus salju setebal lutut, menyeret kaki yang rasanya seberat dicor beton, sambil mendekap erat kotak bekal plastik di dada kanan. Iya, Tupperware penyok bekas tempat sisa lauk semalam, yang sekarang isinya tanaman menyala bernama 'Bunga Api'. Tulang rusukku boleh remuk, tapi kalau kotak ini sampai terlepas, nyawa anak bungsuku melayang. Belum lagi Wati pasti bakal ngamuk tujuh turunan kalau Tupperware kesayangannya hilang di zaman es.

Aku menyipitkan mata dengan susah payah karena bulu mataku saling menempel terikat es, berusaha melihat menembus kabut putih yang gila ini. Di kejauhan, ada titik merah menyala melesat ke langit. Itu emergency flare yang baru saja ditembakkan Wati dari pekarangan rumah kami. Sinyal arah pulang.

Sumpah demi apapun. Kalau ada agen properti yang bilang penderitaan terbesar punya rumah di Jakarta adalah melunasi KPR lima belas tahun, orang itu penipu besar. Nyicil KPR itu ternyata cuma pemanasan. Ujian aslinya adalah ketika rumahmu tiba-tiba pindah dimensi, dan kau harus adu mekanik melawan alam liar sambil menahan hipotermia, cuma untuk memastikan anak-istrimu masih bisa bernapas besok pagi.

DUA BULAN SEBELUMNYA. JAKARTA, INDONESIA.

“Alhamdulillah... akhirnya bisa punya rumah sendiri, walau cicilannya lima belas tahun.”

Itulah kalimat sakti yang aku ucapkan di kantor Notaris beberapa hari lalu. Kalimat yang separuh doa, separuh kutukan, dan separuhnya lagi adalah bentuk kepasrahan seorang kepala keluarga. Sebagai pria berdarah Jawa yang lahir dan besar di Medan, aku ini tipe yang kalau sudah punya target, harus paten. Tapi di usiaku yang sudah menyentuh angka empat puluh ini, pihak bank ternyata nggak seberani itu kasih aku napas panjang. Lima belas tahun adalah angka maksimal yang mereka tawarkan setelah melihat uban yang mulai tumbuh di pelipisku.

Artinya, aku akan terus membayar cicilan ini sampai napas terakhirku sebagai karyawan, tepat saat aku pensiun di usia lima puluh lima nanti. Petugas banknya saja sampai berkali-kali menatap slip gajiku dan mukaku secara bergantian, seolah ingin memastikan apakah aku bakal tetap sehat dan "berfungsi" sampai tahun ke-lima belas. Memiliki rumah di Jakarta dengan status "Pejuang KPR" di usia kepala empat itu rasanya seperti balapan lari melawan waktu yang curang. Setiap kali aku menandatangani berkas, rasanya seperti sedang menjaminkan sisa masa mudaku demi sepetak tanah dan bangunan tipe 70 ini.

Tapi sekarang, di malam pertama kami menempati rumah ini, kebanggaan itu mendadak luntur bersama keringat yang membasahi kaos dalamku sampai lepek.

"Papa! Itu kerannya jangan dipaksa! Nanti patah di dalam, kita harus bobok tembok lagi! Biayanya mahal, Papa! Tabungan kita sudah tipis buat bayar biaya balik nama!" suara melengking dari arah dapur membuat konsentrasiku buyar.

Aku sedang berjongkok, meringkuk di bawah wastafel sempit dengan kunci Inggris di tangan kanan dan tang kombinasi di tangan kiri. Kondisinya benar-benar kritis. Drat kerannya sudah berkarat parah, seolah-olah besi itu sudah tidak dialiri air sejak zaman penjajahan Belanda. Sebagai lulusan Teknik, harga diriku dipertaruhkan di sini. Masa cuma urusan keran mampet aku harus panggil tukang dan bayar dua ratus ribu? Gengsi, dong! Mengingat cicilan rumah yang setara harga motor matic setiap bulannya, uang dua ratus ribu itu sangat berharga. Itu setara dengan stok mi instan untuk dua bulan jika kondisi ekonomi keluarga sedang dalam masa "darurat militer".

"Sabar, Ma. Ini cuma masalah tekanan udara yang terjebak di dalam pipa. Namanya juga rumah lama kosong, pipanya butuh 'keran-tina' dulu sebentar baru mau jalan," sahutku sambil menyeringai, mencoba mencairkan suasana.

"Garing, Papa! Nggak lucu!" seru Wati dari balik tumpukan kardus.

Lihat selengkapnya