Suasana di ruang tamu mendadak berubah. Bukan cuma dingin AC—yang padahal belum terpasang—tapi dingin yang menusuk sampai ke tulang sumsum. Bau melati yang tadi samar-samar, sekarang menyeruak tajam, bercampur dengan bau ozon seperti saat hujan petir mau turun.
"Pa, perasaanku nggak enak. Ini bau kabel angus bukan sih?" Wati mulai mengendus-endus udara seperti detektif kebakaran. Tangan kanannya refleks memegang saku celana, memastikan dompet belanja bulanan aman. "Jangan bilang instalasi listriknya bermasalah. Kalau harus ganti kabel satu rumah, tabungan kita habis, Pa!"
Aku mencoba tetap tenang, meski bulu kudukku sudah berdiri semua. Sebagai kepala keluarga dan sarjana Teknik, haram hukumnya terlihat panik di depan istri dan anak.
"Nggak, Ma. Ini bukan bau kabel. Ini bau... udara bersih. Mungkin ventilasinya bagus banget, langsung nyedot udara dari Puncak Pass," jawabku asal.
Tepat saat itu, lampu bohlam di atas kepala kami berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu mati total.
Gelap gulita.
"Huaaa! Gelap!" teriak Abby. Tapi sedetik kemudian dia meralat, "Eh, bentar. Flash tablet aku mana ya? Lumayan buat konten 'Unboxing Rumah Gelap'."
"Papa! Tokennya habis ya?" Wati berseru panik dalam kegelapan. "Perasaan tadi Mama lihat masih ada lima puluh ribu! Masa boros banget? Siapa yang nyalain rice cooker?"
"Nggak ada yang nyalain apa-apa, Ma. Tenang, Papa cek MCB-nya dulu," sahutku sambil meraba-raba dinding, mencari letak saklar.
Belum sempat aku melangkah, tiba-tiba terdengar suara musik jingle yang sangat familiar. Nadanya ceria, poliponik, persis seperti musik pembuka game show Korea atau Jepang yang sering ditonton anak muda, tapi suaranya pecah-pecah dan sember.
Tring-trung-tring... Zzzzt... Jeng-jeng!
Cahaya kebiruan mulai memancar dari pojok ruangan. Kami berempat menoleh serempak. TV tabung tua itu menyala sendiri.
Bukan siaran berita atau sinetron azab yang muncul, melainkan layar static alias "semut" warna-warni yang menari-nari liar.
"Ih, nge-glitch parah!" komentar Abby, wajahnya diterangi cahaya biru dari layar TV. "Ini kayak di Roblox kalau servernya lagi down, Pa! Vibes-nya creepy tapi keren!"
"Kakak, ini bukan game Roblox! Mundur!" perintahku, menarik tangan Abby agar berlindung di belakang punggungku.
Tiba-tiba, "semut" di layar TV menghilang, digantikan oleh grafis warna-warni norak khas acara variety show. Muncul teks besar yang berkedip-kedip heboh.
[ON AIR!]
[SELAMAT DATANG DI REALITY SHOW: SURVIVAL CICILAN DIMENSI!] [HOST: PD GHAIB (YANG SUKA NONTON NETFLIX)]
[PESERTA: KELUARGA BUDI DARI BUMI (SEKTOR KPR).]
"Survival Cicilan? Itu acara TV baru, Pa? Kok tahu kita punya KPR?" tanya Wati polos, tapi suaranya bergetar.
"Kayaknya data bank kita bocor sampai ke stasiun TV gaib, Ma," jawabku, mencoba melawak sedikit biar mereka nggak tegang, walau lututku sendiri gemetar.
"Papa! Nggak usah ngelawak! Itu lantainya goyang!" seru Ryu.
Benar saja. Lantai keramik di bawah kaki kami mulai bergetar. Awalnya pelan, seperti ada truk tronton lewat di depan rumah. Tapi lama-kelamaan getarannya makin kencang. Kaca jendela bergetar klontang-klontang, kardus-kardus yang disusun rapi oleh Ryu mulai bergeser posisinya.
"Gempa! Gempa!" teriak Wati. "Ayo keluar! Cari tanah lapang!"