Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden kamarku warnanya bukan kuning emas seperti matahari Jakarta yang penuh polusi, melainkan... merah muda?
Aku mengerjap-ngerjapkan mata, kepalaku terasa berat. Rasanya seperti bangun tidur setelah makan tiga buah durian Montong sendirian—pusing, kliyengan, dan merasa bersalah. Masalahnya, semalam aku nggak makan durian. Aku cuma makan angin campur debu pindahan dan ketakutan akan bunga bank yang floating. Jadi, kalau ini mimpi buruk, harusnya temanya 'dikejar debt collector', bukan 'dikejar rumah terbang'.
Aku meraba sisi kasur. Wati masih tidur pulas di sampingku, napasnya teratur, tapi keningnya berkerut tajam. Sepertinya dalam mimpinya pun, istriku yang tercinta itu sedang sibuk menawar harga cabai di pasar atau menghitung sisa uang belanja bulanan. Jiwa manajemennya memang tidak kenal kata libur, bahkan di alam bawah sadar sekalipun.
Aku bangun perlahan agar kasur pegas tua ini tidak berdecit, lalu berjalan gontai ke kamar mandi. Kebiasaan lama memang susah hilang. Begitu masuk, tangan kananku refleks memutar keran wastafel yang semalam mampet total dan sukses bikin darah tinggiku kumat.
"Bismillah, jangan mampet... Ayolah, kerja sama dikit..." gumamku pasrah.
Currrr...
Air keluar deras! Bening, dingin, dan segar. Tidak ada suara grotok-grotok atau batuk-batuk khas pipa masuk angin yang biasanya terjadi kalau pompa air ngadat.
"Lho? Kok lancar jaya?" mataku langsung melek sempurna.
Aku membasuh muka. Rasanya segar luar biasa, seperti cuci muka pakai air pegunungan yang sudah difilter tujuh kali, plus didoakan pemuka agama. Sebagai lulusan Teknik Sipil, otakku langsung bekerja keras, mencoba mencari logika di balik keajaiban ini. Semalam air mati, tidak ada tukang ledeng yang datang, tidak ada suara pompa menyala, tapi pagi ini tekanannya stabil di 2 bar?
"Ini melanggar Hukum Pascal dan prinsip hidrolika dasar," gumamku sambil mengetuk-ngetuk pipa PVC di bawah wastafel. Semuanya kering. Sambungannya sempurna. "Apa hantu rumah ini beneran beralih profesi jadi teknisi PDAM?"
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka pelan. Muncul kepala kecil dengan rambut berantakan khas bangun tidur. Ryu.
"Papa, ngapain ngobrol sama pipa?" tanyanya polos sambil mengucek mata. Piyamanya yang bergambar mobil polisi sedikit miring.
"Eh, Adek. Nggak, Papa lagi... inspeksi saluran air. Adek mau pipis?"
Ryu mengangguk, lalu dia masuk dengan langkah tegap layaknya petugas sidak kebersihan. Dia menunjuk keran yang masih menyala.
"Papa, boros air itu pelanggaran. Di sekolah diajarin Go Green," tegurnya sambil mematikan keran dengan tangan mungilnya. "Papa kena denda cium pipi Adek satu kali."
Aku terkekeh, mengangkat tubuh gempal anak bungsuku itu dan mencium pipinya yang bau bantal. "Siap, Komandan. Laporan diterima. Airnya lancar, Dek. Ajaib kan?"
"Bukan ajaib, Pa. Itu namanya fasilitas," jawab Ryu sok tahu. "Ayo keluar, Kakak lagi bikin konten aneh di ruang tamu."
Kami keluar kamar menuju ruang tengah. Aroma manis vanila dan susu hangat semakin kuat, mengalahkan bau cat tembok baru.
Di ruang tamu, pemandangan yang menyambutku cukup absurd.
Abby, anak sulungku yang mewakili Generasi Alpha, sedang berdiri di atas sofa sambil memegang tabletnya (yang aku yakin nggak ada sinyal). Dia berpose heboh, memanyunkan bibir, lalu bicara sendiri ke arah layar gelap tablet itu.
"Hai Guys! Welcome back to my channel! Maaf banget semalem nggak live karena connection lost parah. Hari ini kita lagi unboxing rumah baru yang vibes-nya cottage-core banget tapi agak creepy. Liat deh, cahaya mataharinya warna pink! No filter ya ini, real! Slay banget kan?" celoteh Abby dengan gaya vlogger profesional.
"Kakak, turun dari sofa. Nanti debu," tegur Ryu yang baru saja turun dari gendonganku. Dia langsung mengambil kemoceng yang tergeletak di meja. "Sofa itu tempat duduk, bukan panggung. Nanti pernya rusak, Papa nangis lagi."
"Ih, Adek berisik! Kakak lagi bikin dokumentasi sejarah tahu!" protes Abby, tapi dia tetap turun dari sofa. "Pa, ini internetnya down ya? Aku mau upload story nggak bisa muter-muter terus. Kena mental aku lama-lama."