Setelah drama pemasangan Smart TV dan Wati yang puas mengecek stok "listrik gratis", kami kembali ke misi utama. Ingat, ada ancaman bunga KPR floating 50% yang menggantung di leher kami jika misi ini gagal.
"Oke, tim. Rapat koordinasi sebentar," kataku sambil menepuk tangan, mengumpulkan pasukan di teras depan.
Aku sudah mengenakan perlengkapan tempur terbaik yang bisa ditemukan di gudang: Helm proyek warna putih—bukan kuning, ya. Biarpun di kantor jabatanku masih bawahan, kalau turun ke site (atau ke hutan gula), gaya harus tetap level manajemen dong. Sombong dikit nggak apa-apa biar safety mental terjaga.
Tanganku terbungkus sarung tangan las kulit tebal (sisa hobi ngulik bikin pagar besi sendiri tahun lalu yang ujung-ujungnya miring). Di tangan kanan, aku memegang jaring ikan bekas yang gagangnya sudah aku perpanjang pakai pipa PVC. Jaring ini saksi bisu waktu aku disuruh nemenin Bos mancing di pemancingan Galatama. Bos yang mancing, aku yang bagian serok ikan.
"Papa kayak tukang PLN mau putus kabel," komentar Abby. Dia sendiri sudah siap dengan goggles renang warna pink di kepala dan tablet di tangan—siap mendokumentasikan segalanya walau offline.
"Papa, helmnya miring. Tidak safety," tegur Ryu.
Karena Ryu masih bocah lima tahun yang tingginya belum semeter, aku harus berlutut dengan satu kaki agar dia bisa menjangkau kepalaku. Ryu maju, berjinjit sedikit, dan meluruskan posisi helmku dengan wajah super serius. Anak ini memakai rompi oranye (bekas pelampung renang waktu bayi yang dipaksakan muat) dan membawa peluit di lehernya.
"Sudah lurus, Komandan?" tanyaku.
"Sudah. Misi kali ini berbahaya. Potensi terpeleset: Tinggi. Potensi digigit buah: Sedang," lapor Ryu.
"Siap. Mama mana?"
"Mama di dapur, lagi nyiapin bumbu dasar. Katanya kalau kita pulang bawa bahan, Mama mau langsung eksekusi," jawab Abby.
Kami bertiga berdiri di batas pagar hitam rumah kami. Di dalam pagar, tanah merah Jakarta. Di luar pagar, hamparan tanah empuk berwarna krem seperti bolu kukus dan semak-semak neon.
"Ingat, jangan jauh-jauh dari pagar. Kalau ada apa-apa, lari balik ke zona aman," instruksiku.
Aku melangkah keluar.
Ples...
Kakiku tenggelam sedikit. Tanahnya benar-benar empuk dan... membal? Rasanya seperti berjalan di atas kasur busa raksasa.
"Ih, satisfying banget!" seru Abby sambil loncat-loncat kecil. "Ini kalau aku bikin video ASMR injak tanah, views-nya pasti jutaan."
"Fokus, Kak. Cari semak biru," tegurku.
Kami berjalan sekitar dua puluh meter dari pagar. Hutan ini aneh. Pohonnya berbentuk sendok garpu, batangnya putih susu. Udaranya manis bikin eneg kalau kelamaan dihirup.
"Itu dia!" tunjuk Ryu dengan tegas.
Di balik sebuah batu yang berbentuk seperti bongkahan gula batu raksasa, ada semak-semak berwarna biru elektrik. Di ranting-rantingnya, bergelantungan buah-buah kecil berwarna ungu seukuran bola tenis.
Yang bikin merinding, buah-buah itu punya lubang kecil di tengahnya yang mirip mulut manyun.
"Oke, pelan-pelan..." bisikku. Kami mengendap-endap ala pasukan Counter Strike di map Dust 2, tapi versi bapak-bapak encok.
Aku sudah siap dengan jaring ikan. Jarak tinggal dua meter. Tanganku gemetar sedikit. Ini momen krusial demi bunga KPR tetap flat.
Tiba-tiba, saat jaringku hampir menyentuh salah satu buah...