RUMAH KAMI PINDAH DIMENSI Setiap Tanggal Satu PADAHAL BELUM LUNAS

PapaDi_YSELnury
Chapter #6

2.3: Dapur Mama Wati: Misi Gizi Seimbang

Seminggu sudah kami terjebak di Hutan Glukosa ini.

Siang itu, rumah kami wangi semerbak Indomie Goreng. Aroma bawang goreng dan bumbu micin yang khas itu menyeruak ke seluruh penjuru ruangan, menutupi bau manis Hutan Glukosa yang mulai bikin eneg.

"Alhamdulillah... Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan," gumamku sambil menyeruput mi terakhir. Piringku bersih, licin tandas. Di dunia yang isinya gula mematikan ini, bumbu micin adalah satu-satunya penjaga kewarasan kami.

Di sampingku, Abby dan Ryu juga bersendawa kompak. "Enak banget, Pa. Rasanya kayak Indomie di warkop, beda sama bikin sendiri," komentar Abby.

"Itu karena kita makannya di dimensi lain, Kak. Ada bumbu perjuangan di dalamnya," jawabku bijak.

Tapi, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Wati, sang Manajer Operasional Rumah Tangga merangkap Menteri Kesehatan Keluarga, tiba-tiba meletakkan garpunya dengan denting keras. Wajahnya serius.

"Papa," panggilnya. Nada suaranya mengandung bahaya level siaga satu.

"Kenapa, Ma? Kurang?" tanyaku polos.

"Ini nggak sehat, Pa," Wati menunjuk piring-piring kotor bekas mi instan. "Oke, hari ini kita selamat dari lapar. Tapi masa sebulan ke depan kita makan mi instan terus? Nanti anak-anak kurang gizi! Nanti rambut Papa rontok! Nanti usus kita lengket!"

"Waduh, Ma. Jangan horor gitu dong," aku memegang perutku. "Terus mau makan apa? Di luar sana isinya cuma gula semua. Masa kita makan permen tiap hari?"

"Harus ada sayur. Harus ada protein hewani yang fresh. Ikan, ayam, atau apalah," Wati bersikeras. Dia berdiri, berjalan ke arah TV Tabung. "Heh, TV! Kamu kan canggih. Ada nggak fitur buat nyari sayur? Jangan cuma nyuruh nyari buah cerewet doang!"

Seolah menjawab tantangan Wati, TV Tabung itu berbunyi Ting-Tung!. Layar birunya berkedip, menampilkan menu baru dengan ikon bergambar wortel dan ikan.

[KELUHAN DITERIMA: MODE "RADAR BAHAN PANGAN" DIAKTIFKAN.]

[MEMINDAI AREA SEKITAR RUMAH...]

[DITEMUKAN: 4 SUMBER BAHAN POTENSIAL.]

1.    SUNGAI SUSU (50m ke Utara): Terdeteksi Ikan Bawal Putih (Edible Grade A).

2.    POHON SEREAL (Halaman Depan): Terdeteksi Daun Sendok (Fungsi: Sayuran Hijau).

3.    TANAH BOLU (Bawah Pohon): Terdeteksi Akar Cokelat (Fungsi: Bumbu Aromatik).

4.    SEMAK MERAH (Tepi Pagar): Terdeteksi Beri Mercon (Fungsi: Pengganti Cabai).

"Tuh kan, Pa! Ada ikan! Ada pengganti cabai juga!" Wati langsung bertepuk tangan. "Ayo Papa, berangkat! Kita mancing! Mama mau masak 4 Sehat 5 Sempurna hari ini!"

"Mancing lagi, Ma? Papa baru aja duduk..." keluhku, pantatku masih terasa nyaman di sofa empuk.

"Berangkat atau malam ini tidur di luar pager sama Beri cerewet?" ancam Wati sambil mengacungkan sutil. "Biarin aja ditemani Beri buat jadi teman curhat mereka."

"Siap, berangkat!" Aku langsung melompat berdiri. Ancaman diceramahi dan bahan curhat Beri terdengar lebih menakutkan daripada tidur di sofa.

Kami berempat kembali keluar rumah. Kali ini, formasinya berbeda. Ryu memimpin di depan sebagai penunjuk jalan (membawa radar mainan), aku membawa alat pancing (yang untungnya ada di gudang), Abby membawa ember, dan Wati membawa pisau dapur dengan tatapan mata tajam ala chef profesional.

"Target pertama: Sungai Susu," komando Ryu.

Kami berjalan menuju sungai putih yang mengalir di samping rumah. Sungainya benar-benar putih kental seperti susu UHT full cream. Arusnya tenang.

"Pa, itu ikannya!" tunjuk Abby.

Di dalam cairan putih itu, terlihat bayangan ikan-ikan pipih berwarna perak berenang santai.

"Oke, Papa akan tunjukkan skill mancing mania Papa," kataku sombong sambil melempar kail. Umpannya? Potongan kecil mi instan tadi.

Plung!

Lima menit berlalu. Sepuluh menit berlalu. Tidak ada sambaran.

Lihat selengkapnya