Harus aku akui, manusia adalah makhluk yang paling cepat beradaptasi. Di hari pertama, aku hampir kena serangan jantung melihat pohon sereal berbentuk sendok garpu. Di hari kedelapan ini? Aku sudah terbiasa menyeruput kopi pagi sambil melihat kumbang seukuran mobil Avanza terbang melintas di depan pagar dengan suara dengungan seperti mesin diesel.
"Pagi, Om Kumbang. Ati-ati nabrak tiang listrik, cicilannya belum lunas itu!" teriakku iseng dari teras, sekadar memecah kesunyian walau aku tahu kumbang itu nggak bakal denger. Namanya juga bapak-bapak gabut, akibat begadang semalaman ngeronda karena PD Ghaib.
Satu hal yang baru aku sadari dan cukup membantu kewarasan kami adalah soal "bahasa". Awalnya aku bingung kenapa saat mengejar Beri Bersiul di tengah hutan tempo hari, aku bisa dengar mereka teriak "body shaming" kepadaku.
Ternyata, si PD Ghaib (produser acara gaib ini) sudah memasang fitur "Aura Penerjemah" yang menempel di badan kami. Kata Abby, ini mirip Auto-Caption di TikTok, cuma bedanya ini langsung masuk ke telinga dan real-time. Jadi, ke mana pun kami melangkah, selama masih dalam radius "syuting", kami bisa mengerti suara makhluk di sini.
Kedamaian pagi ini terusik saat TV Smart di ruang tamu (yang baru dipasang untuk Ryu) mendadak mati sendiri, lalu TV Tabung tua di sebelahnya menyala dengan suara sirine yang memekakkan telinga.
TET-TOT-TET-TOT!
Suaranya persis seperti alarm kebakaran di gedung kantor, tapi versi sember.
"Papa! Ada notifikasi baru! Lampunya merah kelap-kelip kayak mobil polisi!" teriak Ryu dari dalam dengan suara cemprengnya yang khas. Dia berlari keluar, menyeret selimut Paw Patrol-nya.
Aku dan Wati yang sedang menjemur pakaian (di jemuran portable buatan Budi) bergegas masuk. Di layar TV Tabung, muncul grafis amplop surat yang berputar-putar dengan animasi norak ala PowerPoint tahun 2000-an, lalu amplop itu terbuka dengan efek suara Sreet!.
[PESAN MASUK DARI PEMIRSA SETIA!]
[PENGIRIM: @GemintangBestari (Viewer VIP Dimensi 4)]
[ISI PESAN: "Bosen liat kalian makan doang. Coba dong interaksi sama warga lokal! Jangan sombong jadi pendatang baru!"]
"Ih, komennya julid banget," komentar Abby sambil cemberut, jari-jarinya sibuk memencet layar tablet (walau offline). "Ini pasti tipe haters yang akunnya fake, Pa. Masa kita dibilang sombong? Kita kan survival!"
"Hush, Kak. Nggak boleh gitu. Pembeli adalah raja, Penonton adalah... ya raja juga," tegurku bijak, padahal dalam hati aku ingin membalas komen itu dengan capslock jebol. "Mungkin dia bener, kita kurang gaul sama tetangga."
TV itu kemudian menampilkan teks misi baru dengan warna merah menyala, lengkap dengan stempel persetujuan di pojoknya:
[SIDE MISSION: DIPLOMASI TETANGGA.]
[APPROVED BY: PD GHAIB]
[TANTANGAN: LAKUKAN BARTER DAMAI DENGAN PENDUDUK LOKAL.]
[SYARAT: TIDAK BOLEH ADA KEKERASAN. HARUS SOPAN (SMILE & WAVE).]
[HADIAH: 1 TOPLES MADU MURNI GRADE S + TOKEN LISTRIK 50 kWh.]
"Madu murni?" Mata Wati langsung berbinar, lebih terang dari lampu LED Philips. Sutil di tangannya berputar. "Wah, cocok nih Papa. Gula disini terlalu manis. Kalau bikin teh manis pake madu kan lebih sehat buat anak-anak. Apalagi dapet token listrik! Irit beneran ini! Gas, Pa!"
"Tapi Ma, penduduk lokalnya siapa? Masa kita mau barter sama pohon? Pohon di sini kan sensitif, kemarin Papa sandaran dikit aja rantingnya langsung nepis tangan Papa kayak orang ngambek," tanyaku ragu, teringat kejadian kemarin saat aku mencoba berteduh dan malah ditabok ranting. "Apa mungkin peringatan kemaren tentang penduduk lokal? Papa sampai begadang nungguin tapi ga ada yang muncul."
Tiba-tiba, tanah bergetar pelan.
BUM... BUM... BUM...
Bukan gempa. Ini langkah kaki. Sesuatu yang berat sedang mendekat.