RUMAH KAMI PINDAH DIMENSI Setiap Tanggal Satu PADAHAL BELUM LUNAS

PapaDi_YSELnury
Chapter #8

2.5: Bengkel Papa Di: Retro Gaming

Minggu kedua di Hutan Glukosa.

Minggu sebelumnya adalah momen yang langka bagi keluarga kami. Kami berempat duduk berjejal di sofa ruang tamu, ditemani cahaya dari Smart TV 43 inchi yang baru kupasang. Kami menonton film keluarga di Netflix, tertawa bersama tanpa gangguan notifikasi email kantor atau grup WhatsApp arisan. Untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir, aku merasa benar-benar "hadir" sebagai ayah, bukan cuma sebagai mesin pencari nafkah yang pulang ke rumah cuma numpang tidur.

Tapi, fase "Bulan Madu" itu resmi berakhir pagi ini—setidaknya menurut standar Ibu Negara, Wati.

Pagi itu dimulai dengan pemandangan malas-malasan. Smart TV menyala menampilkan kartun Paw Patrol. Ryu duduk bersila di depan TV, matanya tak berkedip. Sementara itu, di ujung sofa, Abby sedang rebahan sambil memegang tabletnya, menonton Wednesday season terbaru dengan earphone terpasang.

Aku? Aku sedang menikmati kopi sachet di meja makan sambil baca novel “Kunti Gatel” yang sudah kusimpan di handphone, mensyukuri hidup yang damai ini.

Tiba-tiba...

CTEK!

Layar Smart TV mendadak gelap. Ryu melongo.

Di saat yang sama, Wati menyambar tablet dari tangan Abby dengan gerakan secepat kilat.

"Eh! Tablet aku!" seru Abby kaget, melepas earphone-nya. "Ma! Kok diambil? Lagi seru!"

"Nggak mungkin, Kak. Papa cek meteran masih unlimited," jawabku santai, belum sadar situasi, mengira Abby teriak soal TV mati.

Kami semua menoleh ke sumber masalah. Di sana, berdiri Wati dengan tangan kiri memegang kabel steker TV yang baru saja dicabut paksa, dan tangan kanan memegang tablet Abby. Wajahnya gelap, auranya lebih mengerikan daripada Semut Raksasa. Sutil yang terselip di pinggang daster batiknya tampak seperti pedang samurai yang siap dicabut.

"Cukup," kata Wati dingin.

"Ma? Kenapa dicabut? Lagi seru Chase mau nangkep maling!" protes Ryu, matanya mulai berkaca-kaca.

"Sudah seminggu kalian cuma duduk di sofa. Mata kalian nanti kotak kayak TV!" omel Wati, suaranya naik satu oktaf. "Makan di sofa, tidur di sofa. Badan kalian jadi males gerak! Liat tuh pipi Adek makin gembil, Kakak juga jalannya jadi bungkuk kayak udang!"

"Tapi Ma, di luar kan nggak ada mall... Panas..." bela Abby, mencoba merebut tabletnya kembali.

"Nggak ada alasan! Mulai hari ini, peraturan baru: Screen Time dibatasi cuma 2 jam sehari! Sisanya main di luar! Cari keringat! Bersosialisasi sama alam! Jangan jadi zombie gadget!"

"Bersosialisasi sama siapa, Ma? Sama kumbang?" tanyaku iseng, mencoba mencairkan suasana.

Wati menatapku tajam. Tatapan yang bisa membekukan lahar gunung berapi. "Abang juga! Jangan cuma ngopi sambil ngaso! Ajak anak-anak main yang kreatif! Katanya Insinyur, masa nggak bisa bikin kegiatan seru tanpa gadget? Bisanya cuma masang TV doang?"

Skakmat. Kalau Wati sudah membawa gelar sarjanaku, berarti harga diri taruhannya.

"Oke, Ma. Siap. Anak-anak, bubar jalan! Kita ke teras!" perintahku sambil meletakkan cangkir kopi.

Anak-anak berjalan gontai ke teras dengan wajah lesu seolah dunia mau kiamat. Abby duduk di kursi plastik sambil menopang dagu, Ryu tiduran di lantai menatap langit-langit teras yang berdebu.

"Bosen..." keluh Abby panjang. "Pa, bikin Wi-Fi dari pohon sereal bisa nggak?"

"Nggak bisa, Kak. Papa Insinyur Sipil, bukan Harry Potter," jawabku sambil memutar otak. Aku melihat sekeliling. Di luar pagar besi hitam kami, hamparan tanah bolu dan bebatuan gula berwarna-warni berkilauan ditimpa matahari pagi.

Otak teknikku mulai bekerja. Aku butuh proyek. Sesuatu yang klasik, kompetitif, tapi bahannya tersedia.

"Tunggu di sini. Papa ke gudang sebentar," kataku.

Aku masuk ke gudang kecil di samping dapur. Ini adalah "Man Cave"-ku. Di sini tersimpan kotak perkakas keramat berisi bor, gergaji, palu, dan sisa-sisa material renovasi rumah yang belum jadi.

Masalahnya satu: Aku butuh kayu. Tapi kayu apa yang bisa dipakai di sini?

TOK... TOK... TOK...

Suara ketukan berat di pagar depan.

Lihat selengkapnya