Minggu Ketiga.
Di luar jendela Griya Dimensi—nama keren yang baru saja saya patenkan dalam hati biar nggak berasa kayak rumah kontrakan nyasar—Hutan Glukosa lagi dilanda fenomena alam yang bikin geleng-geleng kepala buat saya yang sarjana teknik: Hujan Sirup.
Bukannya air bening yang seger-seger gimana gitu yang turun dari langit, ini malah cairan kentel warna pink pekat yang bunyinya pas jatuh itu pluk-pluk-pluk, berasa dengerin adonan kue jatuh ke lantai. Baunya? Beuh, luar biasa kuat. Berasa kayak pabrik gulali meledak deket rumah. Awalnya sih enak, wangi-wangi gimana gitu, tapi lewat tiga jam mah hidung rasanya kayak disumpal kapas manisan segede guling. Mencekik, euy!
Pagar perisai kita ini emang ajaib bener. Dia pinter, monster sama benda keras dilarang masuk, tapi kalo urusan air—ya termasuk sirup ini—dikasih lewat dong. Akhirnya ya gitu deh, halaman depan yang tadinya tanah merah Jakarta asli, sekarang berubah jadi kolam lengket warna pink. Kalo ada lalat yang nekat mau mampir, ya wassalam, langsung kejebak selamanya di situ, jadi fosil karamel gratisan.
Mana internet tiba-tiba down gara-gara mendung sirupnya ketebelan, gadget juga harus disimpen biar baterenya awet buat darurat. Wah, bosennya mah nggak usah ditanya. Rasanya kayak lagi nungguin banjir surut di pos ronda, cuma bedanya ini banjirnya manis.
"Pa, aku bosen banget. Literally bosen tingkat dewa. Rasanya kayak lagi nungguin loading game tapi Wi-Fi-nya mati pas udah 99 persen," keluh Abby yang sedang telungkup di karpet ruang tengah. Dia mengayun-ayunkan kakinya di udara, sesekali menendang bantal sofa dengan malas.
Aku yang sedang mencoba membetulkan gagang sapu yang agak longgar menoleh. "Ya namanya juga lockdown alam, Kak. Di Jakarta kita kena polusi, di sini kita kena diabetes udara. Mending gambar aja, tuh, kertas HVS sisa laporan Papa masih banyak."
Abby langsung bangkit duduk dengan kecepatan cahaya. Matanya berbinar—ciri khas anak Gen Alpha kalau ide liarnya muncul, energinya bisa mengalahkan reaktor nuklir. "Oke! Aku mau bikin design challenge! Temanya: Fashion Week Hutan Gula! Tapi harus ada jurinya, dan pemenangnya dapet hadiah satu permen Pak Anto!"
"Setuju!" teriak Ryu yang tiba-tiba muncul dari balik sofa. Dia langsung mengambil buku tulis 'Sinar Dunia' miliknya yang sudah lecek dan spidol warna hitam yang tutupnya sudah hilang entah ke mana.
Satu jam kemudian, Galeri Seni Griya Dimensi resmi dibuka.
"Peserta pertama, seniman abstrak kita, Ryu!" panggilku dengan suara berat layaknya MC kondangan yang berusaha terlihat profesional.
Ryu maju dengan wajah sangat serius, memamerkan selembar kertas yang penuh dengan coretan hitam tebal. Di tengahnya, ada gambar makhluk bulat besar berkaki delapan yang sedang tersenyum lebar dengan taring mencuat, dan di sebelahnya ada gambar orang lidi yang kepalanya lebih besar dari badannya, sedang memegang pinggang dengan pose melengkung.
"Ini judulnya 'Papa vs Om Semut'," jelas Ryu polos.
"Oh ya? Menarik. Coba ceritakan filosofinya, Dek," tanya Wati yang sedang melipat baju di sofa, berusaha menahan tawa melihat gambar orang lidi yang malang itu.
"Om Semut kuat, ototnya banyak, bisa angkat gula segede kulkas tanpa keringetan. Papa... Papa nggak kuat. Angkat galon aja bunyi krek, terus Papa langsung minta diinjek-injek punggungnya sama Adek," jelas Ryu tanpa dosa sama sekali.