RUMAH KAMI PINDAH DIMENSI Setiap Tanggal Satu PADAHAL BELUM LUNAS

PapaDi_YSELnury
Chapter #10

2.7: Ketika Token Mulai Bernyanyi (lagi)

Minggu keempat.

Minggu keramat bagi setiap rumah tangga, baik di Bumi maupun di Hutan Glukosa. Biasanya, di minggu ini dompet menipis, stok sabun mandi tinggal sisa-sisa perjuangan yang dikocok air, dan kesabaran istri setipis tisu toilet.

Pagi itu, kami sedang menikmati sisa-sisa "liburan jalur isekai". Aku sedang duduk santai di teras sambil kipas-kipas pakai kardus bekas (gaya sultan walau AC nyala), Ryu sedang nonton Upin Ipin di Smart TV, dan Abby sedang mengedit video di tabletnya sambil senyum-senyum sendiri.

"Damai banget ya, Ma," komentarku pada Wati yang sedang menyapu lantai. "Rasanya kayak pensiunan dini."

"Iya, Pa. Asal jangan pensiun napas aja," jawab Wati asal.

Namun, kedamaian itu hancur lebur dalam hitungan detik. Bukan karena serangan monster T-Rex atau semut ngamuk, tapi karena suara teror yang paling ditakuti umat manusia se-Indonesia Raya kembali terdengar.

TIT... TIT... TIT...

Suaranya nyaring, menusuk telinga, dan langsung menyerang ulu hati. Suara meteran listrik prabayar yang sekarat.

Fasilitas "Unlimited" dari Mode Tutorial ternyata punya batas waktu. PD Ghaib tidak berbohong soal "Sebulan Gratis", tapi dia lupa (atau sengaja, dasar PD iseng!) tidak bilang kalau gratisannya habis tepat 48 jam sebelum jadwal kepindahan.

"Pa! Bunyi lagi!" teriak Wati dari ruang tengah, suaranya panik setengah mati, lebih panik daripada pas liat kecoa terbang. "Matikan AC! Cabut kulkas! Abby, jangan nge-charge tablet! Cabut semuanya! Jangan ada setrum yang lewat! Sedikit pun!"

Kepanikan melanda rumah kami—"Griya Dimensi" (biar berasa vibe rumah elit). Ryu yang sedang asyik nonton langsung memencet tombol off remote dengan wajah pucat pasi.

"Papa! Upin Ipin-nya mati! Kasian Kak Ros belum selesai marah-marah!" lapor Ryu polos.

"Nggak apa-apa Dek, biar Kak Ros istirahat. Dia darah tinggi mulu," jawabku sambil berlari ke teras.

Abby mencabut charger tabletnya dengan wajah cemberut. "Ih, Mama parno banget sih! Baterai aku baru 40 persen! Ini namanya bencana lowbat nasional!"

Aku mengecek meteran di dinding teras. Angkanya merah menyala, berkedip mengejek: 05.00 kWh.

"Lima kWh, Ma!" lapor ku dari luar. "Cukup buat apa ya segini? Buat nge-charge semangat hidup aja kurang kayaknya."

"Jangan bercanda, Papa!" Wati muncul di pintu dapur dengan wajah lemas. Sutil di tangannya terkulai. "Ya Allah... kembali ke setelan pabrik. Padahal baru sebulan ngerasain jadi orang kaya bebas listrik. Sekarang balik lagi jadi sobat hemat energi. Nasib... nasib..."

Tiba-tiba, TV Tabung PD Ghaib (yang untungnya punya daya gaib sendiri dan tidak memakan kuota token kami) menyala. Layar birunya menampilkan teks hijau yang menenangkan namun tegas:

[PENGUMUMAN AKHIR BULAN]

[MODE TUTORIAL: BERAKHIR.]

[STATUS FASILITAS SAAT INI:]

[1. LISTRIK: BASIC ONLY (LAMPU UTAMA & KULKAS GRATIS). SISANYA (AC, TV, CHARGER) PAKAI TOKEN SENDIRI.]

[2. AIR: MENGALIR KECIL (MODE HEMAT). HARAP DITAMPUNG.]

[3. KEAMANAN: PAGAR PERISAI TETAP AKTIF. MONSTER & SERANGAN FISIK (BATU/SENJATA) AKAN TERPENTAL. NAMUN CUACA (ANGIN/HUJAN/SALJU) & SUARA TETAP TEMBUS AGAR ANDA TETAP MERASAKAN SENSASI ALAM.]

"Alhamdulillah!" seru Wati membaca poin ketiga. "Pagar masih aktif, Pa! Berarti kita aman dari monster. Nggak perlu begadang ronda pake sarung."

Lihat selengkapnya