Malam itu, H-1 kepindahan.
Suasana Griya Dimensi agak berbeda dari biasanya. Kami hanya menyalakan satu lampu LED utama di ruang tengah. Lampu LED 15 watt yang putih terang benderang, bukan lampu remang-remang. Wati paling anti sama lampu kuning atau redup. Katanya, "Rumah itu harus terang biar malaikat rahmat mau masuk, dan biar Mama bisa liat kalau ada debu nyelip di sudut meja."
Jadi, meskipun token sekarat, lampu ruang tengah tetap menyala terang benderang. Konsekuensinya, lampu teras, kamar, dan dapur dimatikan total. Gelap gulita di sekeliling kami, hanya ruang tengah yang bersinar seperti panggung drama di tengah hutan gelap.
Kami duduk melingkar di karpet. Di meja, terhidang makan malam perpisahan yang istimewa hasil "panen" terakhir: Tumis Daun Sendok Bawang Putih dan Teh Madu Hangat (madu dari Pak Anto).
"Nggak kerasa ya, udah sebulan kita di sini," kata Wati sambil meniup tehnya. Uap hangat mengepul. "Awalnya Mama stres liat jalanan gula semua. Tapi lama-lama betah juga. Udaranya manis, tetangganya sopan. Nggak ada tetangga yang hobi bakar sampah sore-sore kayak di Jakarta. Mama juga udah nanam Akar Coklat dan Beri Mercon, semoga saja bisa berbuah. Lumayan buat nambah bumbu dapur kita."
"Aku bakal kangen Om Anto," kata Ryu sedih, menatap gelas plastiknya. "Dia janji mau ajakin aku liat Ratu Semut, tapi keburu kita pindah."
"Aku bakal kangen... Wi-Fi gratisnya," timpal Abby sambil menatap nanar tabletnya yang mati total. "Pa, kalau kita pindah dimensi, nasib channel YouTube aku gimana? Udah sebulan aku nggak upload video baru! Nanti subscribers aku kabur semua ke channel tetangga! Algoritma YouTube itu kejam, Pa. Sekali vakum, engagement-nya langsung terjun bebas!"
"Nggak apa-apa Kak, nanti kalau dapet sinyal lagi, Papa beliin kuota buat upload semua video vlog kamu," hiburku.
"Masalahnya bukan kuota, Pa! Tapi momentum! Video unboxing rumah gula ini harusnya tayang pas lagi hype! Kalau tayangnya tahun depan, udah basi! Ah, Papa mana ngerti soal personal branding," gerutu Abby sambil memeluk lutut.
"Hush, mulutnya," tegur Wati. "Pikirin tuh besok kita mau tidur di mana kalau rumahnya miring. Konten terus yang dipikirin."
Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pagar depan.
TOK... TOK...
Bukan ketukan berirama yang mantap seperti biasanya, tapi ketukan yang ragu-ragu.
"Itu pasti Pak Anto!" seru Ryu. Wajahnya langsung cerah. Dia melompat bangun dan berlari ke pintu depan.
"Tunggu, Dek! Jangan lari gelap-gelapan!" Aku menyambar senter emergency (yang untungnya batere-nya masih ada) dan menyusul Ryu.
Di depan pagar, diterangi cahaya senterku, Pak Anto berdiri. Kali ini dia tidak membawa rantang ataupun kayu. Dia membawa sebuah bungkusan kecil dari daun yang diikat rapi dengan serat tanaman. Antenanya terkulai agak layu.
Kami sekeluarga keluar ke teras.
"Selamat malam, Tetangga yang Baik," suara Anto terdengar lewat Aura Penerjemah, nadanya melankolis. "Saya merasakan getaran tanah yang berbeda malam ini. Firasat bangsa semut mengatakan, rumah kotak kalian akan segera... berpindah."
"Iya, Pak Anto. Besok pagi kayaknya kami udah nggak di sini," jawabku. "Terima kasih banyak ya Pak, sudah jadi tetangga yang baik buat kami. Maaf kalau anak-anak sering berisik main congklak."
Anto mengangguk pelan. Dia menyodorkan bungkusan daun itu lewat celah pagar.
"Ini hadiah perpisahan dari kami. Terimalah."
Wati menerimanya dengan antusias. "Apa ini, Pak? Kue bolu lagi? Atau gula batu?"
Wati membuka bungkusan itu. Isinya adalah pasta kental berwarna hijau lumut yang berlendir.
"Iyyuuuh!" Abby langsung menutup hidung dan mundur tiga langkah. "Baunya sus banget! Ma, itu apaan?! Baunya kayak sampah dapur yang nggak dibuang seminggu!"
"Heh, jangan ngehina rezeki!" tegurku, meski aku juga spontan menahan napas. Baunya memang luar biasa menyengat. Campuran antara bau belerang, durian busuk, dan keringat kuli bangunan.