"Pegangannnn! Rangkul Mama sama Adek, Kak! Jangan sampe lepas!" teriak diriku sekuat tenaga, tanganku melingkar erat memeluk kaki meja jati sambil sebelah tangan lagi berusaha menarik Abby agar lebih masuk ke kolong.
Guncangannya bener-bener nggak ada akhlak. Bayangin aja, rumah tipe 70 yang baru kita tempati ini serasa dimasukin ke dalem shaker raksasa milik barista yang lagi dapet orderan seribu gelas kopi. Meja jati keramat yang biasanya beratnya minta ampun aja sampe geser-geser kayak lagi main ice skating di atas lantai keramik. Kursi kayu, bantal sofa, sampe galon air mineral pada terbang seliweran di atas kepala kita.
Suara krieet... krieet... dari atap bikin nyaliku ciut. Aku cuma bisa nunduk sambil merem, dalam hati berdoa semoga konstruksi rumah ini beneran pake besi 12 mili kayak kata orang marketing-nya dulu. Kalau cuma pake kawat jemuran, wassalam kita semua.
"Aduh, ini pindah dimensi apa lagi simulasi kiamat sih?!" keluh aku sambil nahan pinggang yang serasa mau patah. "Mama, Adek, aman?! Jangan ada yang keluar dari kolong meja sebelum Papa bilang aman!"
Di kolong meja yang sempit itu, suasana bener-bener sumpek campur aduk sama bau minyak kayu putih. Wati ada di sebelah kiriku, meluk tumpukan kardus piring hadiah sabun colek seolah itu adalah nyawa keduanya. Wajahnya udah pucat pasi, mulutnya komat-kamit baca ayat kursi campur doa selamat.
"Ya Allah, piring Mama! Jangan sampe pecah! Itu piring perjuangan kita dari zaman masih ngekos di gang sempit yang banjirnya sedengkul, Papa! Lindungin piringnya, Pa! Kalau piring ini pecah, Mama nggak mau masak sebulan!" seru Wati di sela isakannya yang tertahan.
Abby, anak sulungku yang biasanya paling jago jaga image, sekarang malah meringkuk di pojokan kolong meja sambil meluk tablet matinya kenceng-kenceng. "Pa! Ini goyangannya bikin mual! Mana tablet aku kepentok kaki meja terus! Kalau kameranya rusak gimana?! Nanti vlog unboxing rumah baru aku isinya cuma layar goyang doang, nggak keren banget! Nggak ada yang mau nonton!"
"Sabar, Kak! Yang penting kita selamat dulu, nanti kameranya Papa benerin pake lem Korea!" sahut diriku, berusaha mencairkan suasana meski jantungku sendiri udah kayak mau copot.
Ryu, si bungsu umur lima tahun, malah yang paling sigap di antara kami semua. Dia pake topi polisi mainannya miring ke kiri, tangannya megang peluit oranye kenceng-kenceng seolah siap menilang takdir yang lagi ugal-ugalan ini. "Semuanya diam! Sesuai Protokol Polisi Labrador, kalau bumi lagi marah, kita harus jadi patung di bawah meja! Jangan ada yang bicara, nanti lidahnya kegigit! Mama, stop nangis! Kakak, stop ngomel! Laksanakan!"
BRAAAKKK!
Guncangan berhenti dibarengi suara benturan keras di bawah lantai rumah, seolah Griya Dimensi baru saja dijatuhkan dari langit ke atas kasur raksasa. Suasana mendadak hening. Saking sepinya, suara napas ngos-ngosan Wati kedengeran kayak suara kompresor tambal ban yang bocor.
"Lapor! Pendaratan darurat selesai! Tim SAR Labrador menyatakan area kolong meja sudah terkendali!" seru Ryu sambil merangkak keluar lebih dulu.
"Aduh, Dek! Hati-hati!" aku buru-buru merangkak keluar mengikuti Ryu, memastikan nggak ada plafon yang mau jatuh. "Pinggang Papa... krek... aduh, ini sendi-sendi Papa kayaknya butuh dikasih oli samping atau minimal koyo cabe lima lembar sekaligus."
Kami berempat pelan-pelan berdiri, kaki masih agak lemes kayak abis naik kora-kora sepuluh putaran nonstop. Aku jalan ke arah jendela depan, tangan udah gemeteran mau buka gorden. Suasana di luar gelap, tapi bukan gelap malam Jakarta, melainkan gelap yang... hijau.
"Bismillah... semoga mendarat di depan mal biar Mama bisa belanja," gumam Wati di belakangku.
Begitu gorden dibuka... Sraak!
"Astagfirullah..." Wati nutup mulutnya, matanya melotot. Dia langsung merangkul lenganku kencang-kenceng sampai kuku-kukunya kerasa nancep di kulitku. Kami berdua berdiri membeku.
Di luar jendela Griya Dimensi, nggak ada lagi pemandangan hutan pink yang wangi gula kapas. Sekarang, sejauh mata memandang, yang ada cuma rumput hijau yang tingginya... gila, itu rumput tingginya ngelewatin atap rumah tipe 70 kita! Daun-daunnya lebar, kaku, dan punya gerigi kasar, goyang-goyang ditiup angin kencang yang suaranya mirip raungan mesin pesawat jet.
Dan tepat di belakang padang rumput itu, ada hutan purba yang pohonnya segede-gede gaban. Batangnya lumutan tebel, akarnya melilit-lilit kayak ular raksasa, dan suasananya bener-bener gelap meski ada sinar matahari kelihatan mengintip malu-malu di langit yang warnanya kekuningan kayak warna kuah soto.