RUMAH KAMI PINDAH DIMENSI Setiap Tanggal Satu PADAHAL BELUM LUNAS

PapaDi_YSELnury
Chapter #16

3.5: Intelijen Bocil

Setelah pesta steak Gallimimus yang sukses besar, suasana di teras Griya Dimensi jadi sedikit lebih santai—atau setidaknya, lebih "sibuk" dengan cara yang berbeda. Di luar pagar, Si Codet dan anak buahnya sedang tidur siang dengan perut buncit, mengabaikan reputasi mereka sebagai predator mematikan.

Di dalam rumah, Abby dan Ryu sedang melakukan apa yang mereka sebut sebagai "Operasi Intelijen Sektor 2".

Abby duduk di lantai ruang tamu, dikelilingi kertas gambar dan tabletnya yang baterainya tinggal 15 persen. Dia sedang menggambar sesuatu yang sangat serius.

"Ini namanya 'Raptor-pedia', Pa," kata Abby tanpa menoleh, tangannya lincah menggoreskan krayon. "Liat deh, aku udah bikin silsilah keluarganya. Si Codet itu ternyata pangkatnya cuma 'Ketua Ormas Tingkat RT'. Di atas dia masih ada 'Bos Besar' yang namanya Bang T-Rex, dan di Si Codet ada istrinya, Namanya 'Nyai Codet'."

Aku mengintip gambarnya. Abby menggambar Raptor memakai daster batik dan memegang sutil kayu. "Kenapa istrinya digambar pake daster, Kak?"

"Soalnya tadi Si Codet curhat sama aku lewat pagar, Pa. Katanya, istrinya galak banget kalau dia pulang nggak bawa telur atau daging. Nyai Codet suka marah-marah sambil banting-banting ekor kalau stok makanan di sarang tipis. Persis kayak Mama kalau Papa lupa beli galon pas lagi haus-hausnya," jelas Abby polos.

Ryu, di sisi lain, sedang sibuk dengan buku "audit"-nya. Dia mengamati para Raptor di luar jendela menggunakan teropong mainan yang kacanya sudah pecah sebelah.

"Lapor Komandan Papa! Laporan Audit Keamanan hari ini: Monster-monster itu sebenernya... na-ip," gumam Ryu dengan pelafalan 'naif' yang agak cadel. "Mereka gampang dikasih tipu-tipu pake bakwan. Terus, mereka itu butuh dikasih tau pak ustad biar nggak galak."

Ryu membetulkan letak topi polisinya yang miring menutupi mata. "Tadi ada satu Om Kadal yang nangis di balik rumput. Kakinya kecolok duri, Pa. Tapi dia diem aja pas temennya dateng, pura-pura garuk-garuk tanah biar keliatan... keliatan... apa namanya Kak?"

"Macho, Dek," sahut Abby.

"Iya! Biar keliatan Maco! Padahal tadi dia bilang 'aduh-aduh' pake bahasa kadal," Ryu geleng-geleng kepala dengan gaya sok tahu anak umur lima tahun. "Polisi Labrador bilang, kalau sakit harus bilang mama, nggak boleh bohong nanti bisulan."

Aku cuma bisa melongo. Monster purba pun dipetakan masalah psikologis dan ke-sotoy-an dunianya oleh kedua anakku.

Tiba-tiba, suara SREKK... SREKK... terdengar dari arah dapur. Bunyinya mencurigakan, seperti ada yang lagi bongkar-bongkar toples plastik.

"Ma? Mama di dapur?" tanyaku.

"Mama di kamar mandi, Bang! Lagi rendem celemek kena saus madu tadi!" teriak Wati dari dalam.

Jantungku mendadak berhenti berdetak. Kalau Wati nggak di dapur, terus siapa yang lagi ngerak-ngerik toples? Jangan-jangan ada tikus purba segede kucing masuk lewat ventilasi?

Aku berlari ke dapur, siap dengan pentungan Kayu Manis Purba. Tapi begitu sampai di sana, aku terpaku. Di atas lantai keramik, tepat di samping kulkas, duduk seekor bayi Raptor setinggi lutut. Warnanya kuning cerah dengan bintik-bintik cokelat di punggungnya.

Lihat selengkapnya