Memasuki minggu kedua di Padang Rumput Raptor, rumah tipe 70 kami ini sudah resmi menyandang status sebagai "Markas Besar" bagi Aiden Jayden Xeraphine Skylasher de Padang Rumput—atau yang lebih akrab dipanggil Aiden "Sigma Boy". Entah bagaimana ceritanya, bocah reptil ini merasa rumah kami adalah tempat paling cool se-jagad purba, mungkin karena ada stok permen dan tontonan "gratis" dari jendela.
Hampir setiap sore, bocah reptil berwarna kuning bintik-bintik itu nangkring di balik pagar. Dia nggak lagi nyari permen secara ilegal lewat pintu belakang, tapi sekarang dia sudah jadi intelijen tetap kami, semacam agen ganda yang dibayar pakai gula-gula. Sambil mengunyah permen batu warna ijo pemberian Abby yang suaranya kruk-kruk renyah, dia memberikan data-data panas soal kejadian di luar sana yang nggak bakal masuk berita TV manapun.
"Lapor Komandan Papa! Aiden bawa data intelijen baru! Katanya ada huru-hara di sektor sarang!" seru Ryu sambil menempelkan telinganya ke pagar perisai, lengkap dengan topi polisi yang miring ke kanan dan sebuah buku catatan kecil yang isinya cuma coretan lidi. "Katanya, Om Codet lagi kena musibah rumah tangga yang sangat se-ri-us!"
Aiden mengangguk-angguk di luar pagar, ekornya bergerak-gerak mengikuti irama floss dance yang sedang dia lakukan dengan sangat lincah. "Iya, Om Papa Di. Nyai Codet—istri Papa—lagi ngamuk besar-besaran. Gara-garanya sepele tapi fatal, Papa Codet dihukum tidur di atas pohon pakis berduri karena lupa bawa pulang jatah tulang sumsum buat makan malam. Papa Codet sempet nangis dikit di pojokan, tapi pas liat anak buahnya lewat, dia langsung pura-pura lagi latihan pernapasan biar keliatan sangar. Slay banget kan Papa aku? Jago akting demi harga diri!"
"Gila, di zaman purba ternyata kasta istri tetap lebih serem dari hujan meteor ya," gumamku sambil manggut-manggut prihatin. Saya jadi teringat nasib saya sendiri kalau lupa beli galon. "Terus gimana kondisi si Bos Besar, Bang T-Rex? Masih sering keliling komplek?"
"Bang T-Rex lagi galau brutal, Om. Koleksi tulang raksasanya yang dikumpulin bertahun-tahun ilang dicuri pas dia lagi tidur siang. Sekarang dia lagi keliling padang rumput sambil ngomel-ngomel sendiri, suaranya sampe bikin burung-burung pada migrasi mendadak. Kalau Om denger suara bumi getar tapi nggak ada gempa, itu tandanya dia lagi curhat sama pohon atau lagi marah-marah sama batu," lanjut Aiden dengan gaya sotoy-nya yang khas anak Gen Alpha purba.
Melihat ancaman dan drama di luar yang makin kompleks, jiwa Insinyur Teknik Sipil saya mulai meronta-ronta. Saya sadar, "Perisai Hak Milik" memang mutlak dan aman, tapi kalau kami mau menyelesaikan misi utama "Selfie Maut" yang dikasih PD Ghaib itu, saya nggak bisa cuma duduk manis nunggu keberuntungan jatuh dari langit kuning ini. Saya butuh perlengkapan tempur yang mumpuni, atau minimal yang bisa bikin saya nggak langsung jadi nugget kalau keluar pagar.
Di bengkel darurat (alias meja teras yang sudah penuh sisa kayu), saya mulai merakit "Baju Zirah KPR (Ketahanan Pangan & Raptor)". Sebagai insinyur, saya harus memastikan strukturnya kuat meski bahannya memprihatinkan.
Bahannya? Helm proyek putih kebanggaan, kardus bekas Indomie yang saya rangkap tiga di bagian dada buat nahan cakar (teorinya sih gitu), dan lakban hitam sisa renovasi yang daya rekatnya setara janji manis marketing properti. Saya juga membuat pelindung leher dari pipa PVC sisa wastafel yang saya belah dua, biar kalau ada Raptor mau gigit, gigi mereka ketemu plastik duluan (Aamiin ya Allah!).
"Papa, itu kardus jangan dipake semua! Mau Mama pake buat wadah jemuran daster yang baru dicuci biar nggak terbang kena angin!" teriak Wati dari dapur, suaranya melengking barengan sama bunyi ulekan sambal.
"Bentar, Ma! Ini buat keselamatan nyawa Papa! Insinyur harus punya proteksi berlapis kalau mau terjun ke lapangan! Ini namanya inovasi pertahanan, Ma!" balasku sambil sibuk melakban kardus ke pundak. Penampilanku sekarang bener-bener ajaib. Lebih mirip maskot minimarket yang mau berangkat perang daripada seorang pahlawan. Tiap saya gerak, bunyinya kresek-kresek dan badan saya kaku kayak robot karatan.
Tiba-tiba, TV Tabung di ruang tamu mengeluarkan suara musik yang sangat heboh, mirip intro acara kuis tengah malam. Tring-trung-tring... Jeng-jeng! Muncul notifikasi besar dengan font warna-warni di layar biru.
[TANTANGAN NETIZEN: KONSER SOLO DI PADANG RUMPUT!]
[DARI: @PenguasaDapur_99]
[MISI: PAK BUDI HARUS KELUAR PAGAR, BERDIRI DI TENGAH RUMPUT RAPTOR, DAN MENYANYIKAN SATU LAGU PENUH DENGAN PERASAAN YANG MENDALAM!]
[REWARD: GAS ELPIJI UNLIMITED 1 BULAN + 1 KARUNG BERAS ROJO LELE + 5 LITER MINYAK GORENG + 1 BOX IKAN BAWAL DIMENSI GULA!]
"GAS UNLIMITED?! IKAN BAWAL?!" Wati lari keluar dari dapur dengan sutil yang masih berminyak, hampir saja menabrak meja jati. Matanya berbinar hijau penuh ambisi, lebih hijau dari balsem Bang Anto. "Papa! Kerjain! Detik ini juga! Nggak usah banyak alasan! Gas kita tinggal satu bar, Mama mau bikin rendang butuh api lama! Kalau Papa nggak mau nyanyi, fiks Papa yang Mama rendang di dalem wajan!"