Setelah persiapan selesai dilakukan—mulai dari memodifikasi Zirah KPR dengan lakban ekstra di bagian selangkangan (biar tidak sobek saat lari), menyiapkan Galah Ajaib 50 meter, hingga menghafal 'jalur tikus' anti-predator yang disarankan Aiden—akhirnya hari H tiba. Strategi pengambilan foto sudah matang: aku akan merayap di antara semak, menjulurkan galah dari jarak aman, menjepret, lalu lari secepat kilat sambil membaca doa keselamatan yang kurapal tiap malam.
Pagi itu, suasana di Griya Dimensi terasa seperti markas komando perang, tapi dengan aroma yang lebih mirip toko jamu tradisional. Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan diriku yang kini menyerupai tumpukan sampah anorganik berjalan.
"Pa, beneran mau keluar? Itu monster gedenya udah kayak apartemen subsidi, lho!" Wati bertanya sambil mengaduk-aduk toples 'Balsam Aroma Dominasi' pemberian Pak Anto. Tangannya gemetar, tapi sutil kesayangannya tetap digenggam erat seperti keris pusaka yang siap menyabet siapa saja.
"Harus, Ma. Demi bunga KPR yang tetap flat dan demi tanggung jawab Papa sebagai kepala keluarga rumah ini," jawabku mantap sambil mengenakan 'Baju Zirah KPR'. Zirah ini sebenarnya adalah tumpukan kardus bekas Indomie dan mesin cuci yang kuikat pakai lakban hitam di sekujur tubuh. Di bagian dada, kutulis pakai spidol permanen: 'UNIT PROYEK - ANTI GIGIT - JANGAN DIMAKAN, ALOT!'. Helm proyek putihku sudah kusemprot minyak kayu putih biar "aura manajemen"-nya keluar.
"Tunggu, Pa! Kacamata 'Bestie Filter'-nya jangan ketinggalan! Ini satu-satunya barang Super Rare yang bisa bikin Papa nggak jadi sate!" Abby menyerahkan kacamata pink neon itu padaku.
"Ingat, Pa, kalau ketemu dia, jaga jarak 50 meter. Tarik galahnya maksimal, jepret, terus kabur!" Abby mengingatkan sambil memegang tablet, siap merekam dari balik jendela.
Ryu muncul sambil meniup peluitnya. PRRRIIITTTT!
"Laporan Komandan! Sesuai instruksi video Polisi Labrador, sebelum ketemu penjahat kelas kakap, kita harus pakai ramuan bau!" Ryu mengangkat jari telunjuknya dengan gaya sok tahu yang luar biasa menggemaskan. "Katanya, kalau kita bau kaos kaki, nanti T-Rex-nya ngira kita itu sampah dapur yang sudah kadaluarsa dan dia bakal ogah mangap!"
Wati langsung mencolek balsam hijau lumut itu dengan brutal dan mengoleskannya ke pundak zirah kardusku. Seketika, bau campuran kaos kaki busuk, terasi basi, belerang, dan keringat kuli bangunan meledak di ruangan.
"Aduh, Ma! Banyak banget! Papa pusing sendiri nyiumnya! Ini mah bukan cuma T-Rex yang pingsan, Papa juga bisa wassalam!" keluhku sambil menahan mual yang luar biasa.
"Biarin, Pa! Biar dia tau kalau Pejantan Jakarta itu nggak ada lawan baunya!" balas Wati galak padahal matanya berkaca-kaca menahan sedih.
Aku menarik napas panjang (yang langsung kusesali karena baunya sangat dahsyat), lalu membuka pintu depan. Aku melangkah keluar pagar besi hitam, berjalan penuh percaya diri dan berdiri di atas rumput raksasa untuk menunjukkan "dominasi" sebagai pejantan Alpha gadungan. Pikiranku cuma satu: Cari Bang T-Rex, jaga jarak aman 50 meter sesuai manual, foto, lalu pulang buat makan bawal goreng.
"Ya Tuhan, mudahkanlah hamba bertemu Bang T-Rex supaya tugas ini cepat selesai," bisikku dalam hati sambil bersiap berjalan.
Ternyata, Tuhan mengabulkan doaku lebih cepat dari kecepatan streaming Wi-Fi PD ghaib. Bahkan terlalu cepat.
Baru saja aku berjalan 10 meter dari pagar, bumi mendadak bergetar hebat. DUM... DUM... DUM...
Rumput setinggi tiga meter di depanku tersibak paksa seolah-olah ditabrak truk tronton rem blong. Muncul sebuah kepala raksasa bersisik cokelat tua penuh luka parut yang besarnya menyamai mobil keluarga. Matanya yang kuning emas menyala menatapku tepat di depan muka. Sang Godfather.