RUMAH KAMI PINDAH DIMENSI Setiap Tanggal Satu PADAHAL BELUM LUNAS

PapaDi_YSELnury
Chapter #20

3.9: Misi Penyelamatan Si Bontot

Padang Rumput Raptor sore itu mendadak berubah menjadi panggung sandiwara Betawi tingkat tinggi yang jauh lebih heboh dari pementasan lenong di Monas. Di depan pagar besi Griya Dimensi yang biasanya tenang, Bang Trex Sabeni—sang Jawara Purba yang ditakuti seluruh padang rumput—sedang kena semprot habis-habisan oleh istrinya, Mpok Rohaye.

Mpok Rohaye ini meski badannya sedikit lebih langsing dan modis dibanding suaminya (kulit sisiknya punya corak yang mirip motif daster macan), tapi galaknya benar-benar di luar nalar. Aumannya punya frekuensi yang bisa bikin kaca jendela rumahku bergetar hebat sampai-sampai pajangan piring hadiah sabun colek milik Wati hampir merosot dari raknya.

"Lu gimane sih, Sabeni! Gue tinggal arisan sama emak-emak Triceratops bentar aja buat bahas arisan telur, anak udah ilang! Lu jagain anak ape jagain batu di pinggir jalan?!" semprot Mpok Rohaye sambil mengibaskan ekornya yang besar, hampir saja mengenai jemuran kaos singletku. "Kalo sampe si Bontot kaga ketemu sebelum magrib, lu tidur di luar selamanya! Kagak ada jatah paha Parasaurolophus buat lu, denger kaga?!"

"Aduh, Nyai... sabar napa. Jangan teriak-teriak, malu diliatin tetangga baru," jawab Bang Trex sambil tertunduk lesu, sesekali mengelus-ngelus kepalanya yang habis kena sabetan ekor istrinya yang pedasnya mengalahkan cabe rawit. "Ini Bang Budi lagi bantuin nyari pake alat canggih dari dunianya."

Tiba-tiba, dari balik semak rumput gajah, muncul seekor Raptor muda yang melakukan gerakan floss dance kecil. Itu Aiden, anak si Codet yang belakangan ini hobi main ke rumah cuma buat minta sisa sosis atau sekadar numpang ngetem di depan ventilasi AC. Aiden ini dipanggil Abby sebagai 'Sigma Boy' karena auranya yang kelewat santai dan bicaranya yang penuh istilah anak zaman sekarang yang bikin kepalaku pening.

"Santai kali, Om, Tante. Vibes-nya jangan tegang gitu dong, nggak slay banget," kata Aiden lewat Aura Penerjemah dengan suara bariton yang dibuat-buat agar terdengar cool. "Tadi gue jalan di deket Jurang Keputusasaan Sektor 4, eh liat si Bocil itu lagi asik loncat-loncat di sana. Katanya mau nyari capung pelangi buat dikasih ke Tante. Sigma behavior banget sih emang, mau jadi main character anak berbakti di tepi jurang."

"Hah?! Jurang?!" Mpok Rohaye langsung histeris, kakinya yang raksasa menghentak bumi sampai kami semua hampir terpental. "Sabeni! Gerak lu! Kalo anak gue nyemplung, lu gue jadiin karpet kulit!"

Bang Trex langsung bersiap melesat. Aku sadar, kalau Bang Trex lari dengan kecepatan penuh, kami yang cuma manusia biasa yang sarapannya nasi uduk ini pasti bakal ketinggalan jauh di belakang dan cuma dapet debunya doang.

"Bang Trex! Tunggu! Kita ikut! Kita butuh alat buat bantu narik si dedek!" teriakku nekat sambil menyambar 'Tongsis 50 Meter' yang sudah kusiapkan sejak tadi. "Semuanya, naik ke punggung Bang Trex! Cepetan!"

Tanpa menunggu komando kedua, aku, Wati, Abby, dan Ryu langsung memanjat kaki Bang Trex yang teksturnya kasar seperti batang pohon jati tua yang kering. Aku berdiri paling depan, tepat di antara dua matanya yang kuning raksasa—posisi yang kusebut sebagai 'kursi sopir utama'. Wati pegangan kencang di tengkuknya sambil komat-kamit baca doa, sementara Abby dan Ryu duduk di lipatan kulit lehernya yang tebal seolah sedang duduk di sofa empuk namun berbau amis.

"Pegangan yang kenceng, Warga Jakarta! Sabeni meluncur!" raung Bang Trex dengan penuh wibawa jawara.

WUUUUUZZZZ!!!

Rasanya seperti naik roller coaster tanpa sabuk pengaman dan tanpa rem cadangan. Bang Trex lari membelah lautan rumput raksasa dengan kecepatan yang bikin pipiku kempot tertiup angin kencang. Di atap kepalanya, aku merasa seperti kapten kapal laut yang lagi menerjang badai di tengah samudera pasifik. Horornya luar biasa! Sekali kepeleset, aku bakal jadi remahan biskuit di bawah injakan kakinya yang beratnya berton-ton. Tapi di sisi lain, ada rasa bangga yang meledak di dada: Kapan lagi Insinyur KPR bisa naik 'kendaraan' dinas paling sangar se-Zaman Purba?

Lihat selengkapnya