RUMAH KAMI PINDAH DIMENSI Setiap Tanggal Satu PADAHAL BELUM LUNAS

PapaDi_YSELnury
Chapter #21

3.10: Curhat Ibu-Ibu: "Laki-laki Mah Sama Aja, Jeng"

Debu sisa reruntuhan tebing jurang masih menenempel dibajuku. Jantungku masih berdegup kencang sisa adrenalin menjadi "katrol hidup" bagi bayi T-Rex seberat 25 kilo. Namun, ketegangan fisik itu kini berganti menjadi ketegangan jenis lain yang jauh lebih absurd.

Di depan pagar Griya Dimensi, sebuah pemandangan yang tidak akan pernah masuk akal di buku sejarah manapun sedang terjadi. Wati, istriku yang tingginya hanya setinggi mata kaki T-Rex, sedang melangkah maju mendekati Mpok Rohaye—Sang Ibu Negara Padang Rumput yang baru saja berhenti menangis histeris.

Bukan membawa senjata, Wati malah membawa botol minyak kayu putih dan satu toples kerupuk kaleng.

"Minggir, Bang. Biar urusan diplomatik ini Mama yang pegang," kata Wati sambil menepuk bahuku pelan, lalu dia duduk lesehan di atas akar pohon besar yang mencuat, persis di depan wajah Mpok Rohaye yang sedang menunduk lelah.

"Tuh kan, Mpok Rohaye... saya bilang juga apa," Wati membuka percakapan sambil menuangkan minyak kayu putih ke telapak tangannya, lalu mengusapkannya ke lehernya sendiri. Dia menyodorkan botol itu ke arah hidung raksasa Mpok Rohaye. "Hirup dulu, Mpok. Biar urat syaraf yang tegang jadi kendor. Namanya ngurus anak laki, emang bikin darah tinggi naik turun kayak roller coaster."

Mpok Rohaye mendengus pelan. Hembusan napasnya yang tadinya panas karena amarah, kini terdengar berat dan lelah. Lewat Aura Penerjemah, suara Mpok Rohaye terdengar seperti ibu-ibu komplek yang baru saja selesai nyuci baju tiga bak.

"Bener banget, Jeng Wati... Ya Allah, capek bener badan saya. Udah mah badan saya segede gaban begini, tiap kali marah-marah butuh kalori banyak. Tapi kalau nggak dimarahin, itu bapak sama anak kelakuannya bikin istighfar mulu."

Wati mengangguk penuh pengertian. "Sama, Mpok. Laki-laki mah di mana-mana sama. Mau dia Insinyur Sipil kayak Bang Budi, mau dia Jawara Padang Rumput kayak Bang Sabeni, kalau urusan jagain anak pasti matanya siwer. Bang Budi ini, kalau disuruh jagain Ryu bentar aja, pasti anaknya udah manjat pager, bapaknya malah asik bengong main handphone."

Aku yang berdiri di pojokan bersama Bang Trex Sabeni cuma bisa saling lirik. Bang Trex menunduk, menggaruk tanah dengan cakar kakinya yang besar.

"Iye, Bang Budi... nasib kita emang salah mulu," bisik Bang Trex pelan. "Padahal tadi aye cuma kedip bentar, eh si Bontot udah ngilang."

Sementara itu, Mpok Rohaye mulai curhat panjang lebar, air matanya menetes lagi, tapi kali ini bukan karena panik, melainkan karena haru dan lelah.

"Jeng Wati tau nggak? Si Bontot itu... ampun deh bandelnya. Dibilangin jangan main deket jurang, malah sengaja loncat-loncat di pinggirnya. Katanya mau pamerin ke teman-temannya, biar dibilang pemberani. Tapi..." Mpok Rohaye menoleh ke arah anaknya yang kini sedang tidur pulas di pelukan Abby. "Tapi kalau lagi tidur gitu, mukanya polos banget, Jeng. Gemesin. Tadi pas dia jatoh, rasanya jantung saya copot. Biar kata dia bandel, susah makan daging, maunya makan capung doang... tetep aja dia nyawa saya."

"Namanya juga anak bungsu, Mpok. Manjanya emang beda," Wati menimpali sambil mengelus lutut Mpok Rohaye (atau lebih tepatnya, satu sisik di lututnya). "Tapi Mpok harus tegas juga sama Bang Sabeni. Jangan cuma dimarahin, tapi dikasih pengertian. Suami itu kadang bukannya nggak sayang, tapi otaknya suka loading lama kalau soal detail."

Mpok Rohaye tertawa kecil, suaranya bergemuruh lembut seperti guntur di kejauhan. "Iya juga sih, Jeng. Si Sabeni itu biarpun ceroboh, pelupa, naruh tulang sembarangan... tapi kalau ada Raptor lain yang gangguin sarang, dia paling depan pasang badan. Tadi juga dia yang paling panik lari-larian sampe napasnya ngos-ngosan."

Lihat selengkapnya