RUMAH KAMI PINDAH DIMENSI Setiap Tanggal Satu PADAHAL BELUM LUNAS

PapaDi_YSELnury
Chapter #22

3.11: Kultum Bang Sabeni

Minggu ketiga di Padang Rumput Raptor. Entah karena udara yang terlalu banyak oksigen atau karena kesuksesan misi selfie kemarin, kepercayaan diriku sedang berada di titik tertinggi, bahkan mungkin agak kebablasan. Berkat "Diplomasi Bakwan" Mama Wati, kawanan Raptor pimpinan Si Codet sekarang lebih mirip asisten pribadi daripada predator mematikan.

Pagi ini, aku berdiri di luar pagar—ya, aku sudah berani melangkah lima meter dari pagar perisai—dengan tangan berkacak pinggang. Helm proyek putih sengaja saya miringkan sedikit ke kanan, menciptakan siluet yang menurut saya mirip mandor proyek MRT, tapi menurut anak-anak lebih mirip tukang parkir yang lagi bad mood.

"Codet! Itu rumput sektor kiri tolong dirapihin lagi, ya! Cut and fill-nya kurang rata!" perintahku sambil menunjuk gundukan tanah dengan tongsis. "Kita ini mau bikin jalur evakuasi darurat, bukan bikin sirkuit motor trail. Kerja yang rapi dikit, napa!"

"Gepeng! Bolot! Itu rumput yang nutupin pandangan ke arah sungai tolong dipangkas ya. Jangan cuma makan doang kerjaannya," kataku dengan nada memerintah, persis mandor proyek yang lagi marahin kuli bangunan.

Si Codet, predator yang giginya bisa memotong besi, hanya mendengus pasrah. "Siap, Bos Budi! Sabar elah, ini gigi gue nyelip akar gajah," sahutnya sambil lanjut mencabuti rumput dengan mulutnya. Dia tak berani protes karena di teras, Wati sedang mengasah sutil sambil menatap tajam, seolah siap mengubah siapa saja yang membangkang menjadi perkedel.

"Pa, jangan sombong gitu, ih. Auranya jadi nggak aesthetic," celetuk Abby dari balik jendela, kameranya merekam tingkah polahku. "Papa kelihatan kayak villain kelas teri di film Marvel yang biasanya mati di menit ke-sepuluh karena kebanyakan gaya."

"Betul, Pa. Laporan Audit Moral: Papa mulai sombong," Ryu menambahi sambil mencentang buku laporannya dengan spidol merah. "Menurut YouTube Kids, kesombongan adalah awal dari kehancuran. Papa mau dihancurkan?"

"Halah, kalian ini. Sekali-kali Papa mau ngerasain jadi 'Alpha' di zaman purba. Kapan lagi nyuruh Raptor motong rumput?" jawabku santai, merasa di atas angin.

Saat itulah, tanah bergetar hebat. Bukan getaran biasa, tapi getaran ritmik yang berat. DUNG... DUNG... DUNG...

Si Codet dan pasukannya langsung berhenti bekerja. Tanpa pamit, mereka lari terbirit-birit bersembunyi di balik tembok samping Griya Dimensi, meninggalkan aku sendirian di tengah lapangan terbuka.

Dari balik pohon Pakis Raksasa, muncul sosok Bang Trex Sabeni. Tapi kali ini, auranya berbeda. Tidak ada raungan sedih atau galau. Dia berjalan santai tapi penuh intimidasi, mulutnya menggigit sebuah bungkusan besar dari kulit hewan yang sudah kering.

Aku terpaku. Insting pertamaku ingin lari, tapi kakiku tertahan. Bang Sabeni menjatuhkan bungkusan itu tepat di depan kakiku. BRUK! Isinya berhamburan keluar: Sebuah tas ransel gunung yang sudah robek, satu sepatu bot kulit yang tinggal sebelah, dan sebuah jam tangan emas yang kacanya retak tapi masih berkilau.

"Pagi, Bos Budi... Nyalinya makin gede aje ye, sampe anak buah gue disuruh jadi tukang kebon," sapa Bang Sabeni. Suaranya berat, serak, dan kental dengan logat Jawara Betawi yang bikin nyali ciut.

Aku menelan ludah, berusaha tetap berdiri tegak meski lutut gemetar. "Pagi, Bang Sabeni. Ini... ini barang siapa, Bang?"

Bang Sabeni duduk ndeprok, membuat tanah di sekitarku naik beberapa senti. Dia menunjuk jam tangan emas itu dengan kuku jari telunjuknya yang setajam belati.

"Itu barang rongsokan. Punya 'tamu' yang mampir dimari sebelom elu pada dateng. Gayanye? Beuh, jangan ditanya. Lebih songong dari elu barusan," Bang Sabeni mulai bercerita, matanya menatap jam tangan itu dengan tatapan kosong. "Orangnye pake baju besi ngilap, bawa senjata yang bisa nyemprotin api. Pas gue lewat mau nyapa—beneran mau nyapa doang nih—dia malah nembakin gue. Katanye gue cuma binatang purba tolol yang kudu minggir."

Aku memungut jam tangan itu. Berat. Mereknya terkenal, harganya di Bumi mungkin setara DP rumah subsidi. "Terus... orangnya kemana, Bang?"

Lihat selengkapnya