Pagi itu, TV Tabung PD Ghaib di ruang tamu tidak mengeluarkan suara "Jackpot", melainkan suara sirine ambulans yang dicampur dengan bunyi alarm token listrik habis.
[WARNING: LOKASI SYUTING 2 SELESAI DALAM 12 JAM.]
[PERSIAPAN PEMINDAHAN DIMENSI: LOKASI SYUTING SELANJUTNYA THE FROZEN WASTELAND (ZAMAN ES).]
[PASTIKAN SEMUA ASET GRIYA DIMENSI BERADA DI DALAM PAGAR.]
"Ma! Alarmnya bunyi! Kita mau pindah ke kulkas raksasa!" teriakku sambil panik lari keliling meja makan, refleks mau packing baju padahal bajunya cuma itu-itu saja yang tergantung di jemuran. "Cari jaket! Cari selimut! Cari apa kek yang anget!"
Berbeda denganku yang heboh sendiri, Wati keluar dari dapur dengan ketenangan seorang jenderal perang. Tangannya masih berlumuran tepung terigu, celemeknya penuh noda kunyit.
"Tenang, Pa. Jangan panik kayak supir angkot dikejar setoran," kata Wati santai. "Mama udah duga dari kemaren. Makanya tadi subuh Mama udah minta Si Codet cariin stok bumbu tambahan. Kita bikin acara perpisahan dulu. Nggak enak sama tetangga kalau cabut gitu aja tanpa pamit. Pamali, Pa. Nanti kita diomongin di grup WhatsApp."
"WhatsApp apaan, Ma? Sinyal aja nggak ada!"
"Istilah doang, Pa. Udah, bantuin Mama angkat wajan!"
Maka terjadilah pemandangan paling ajaib dalam sejarah evolusi. Bagian depan rumah Griya Dimensi yang sudah dipotong rumputnya disulap jadi area prasmanan dadakan. Wati memasak semua sisa stok daging paha Gallimimus, membuat gunungan bakwan jagung, dan es buah dari beri-berian hutan.
"Ma, ini sisa stok kita dimasak semua?" tanyaku cemas sambil melihat gunungan bakwan yang mulai menyusut dimakan Ryu. "Kalau abis buat hajatan, nanti di dimensi es kita makan apa? Makan es serut? Papa nggak mau kita mati konyol gara-gara kekenyangan di sini tapi kelaparan di sana."
Wati cuma tersenyum misterius sambil membalikkan tempe (yang entah dapat dari mana kedelainya, mungkin eksperimen Wati). "Tunggu aja, Bang. Rejeki tetangga sholeh nggak kemana. Tuh, liat siapa yang dateng."
Benar saja. Si Codet dan kawanan "Preman Rumput"-nya datang paling awal. Mereka tidak datang dengan gaya mengendap-endap seperti predator yang mau menyergap, tapi berjalan tegap membawa hantaran layaknya rombongan besan.
Si Codet membawa tumpukan daging asap yang sudah diawetkan secara alami. Di belakangnya, puluhan Raptor lain membawa berbagai macam persembahan. Ada yang menggigit keranjang anyaman akar berisi buah-buahan hutan berwarna ungu dan merah, ada yang memanggul potongan paha dinosaurus segar yang ukurannya cukup buat makan seminggu, bahkan ada yang membawa bungkusan daun berisi madu sarang.
"Nih, Nyai Wati. Stok bekel buat di jalan," kata Si Codet lewat Aura Penerjemah. Matanya yang biasanya licik dan tajam, kini terlihat sayu dan berkaca-kaca. "Daging ini udah aye asepin pake kayu manis hutan tiga hari tiga malem. Awet sampe taun depan. Biar Bos Budi kaga kurus di jalan."
Seekor Raptor lain, yang matanya agak juling, menyodorkan keranjang buah. "Ini beri anti-sariawan, Bos. Di tempat dingin kan jarang buah, makan ini biar bibir kaga pecah-pecah."
"Makasih ya, Det. Makasih semuanya," Wati menerima daging dan buah-buahan itu dengan senyum lebar. "Tuh kan, Bang. Stok kita malah jadi tiga kali lipat. Kulkas penuh sampe tumpeh-tumpeh."
Si Codet mengusap ujung matanya dengan cakar. "Ah, elah... kelilipan debu meteor nih mata aye. Jujur aje, Nyai... bakal sepi nih kampung kaga ada bau tumisan bawang lagi. Biasanya aye bangun pagi nyium bau masakan Nyai, sekarang paling nyium bau ketek temen sendiri."
Sementara itu, di pojok rumah dekat jemuran buatan Papa, Abby sedang duduk lesehan di rumput bersama Si Bontot (Anak Gen Alpha Bang Trex). Suasananya sangat mellow. Abby memegang tabletnya, merekam video perpisahan.
"Oke guys, welcome back to my sadness," ucap Abby ke kamera, suaranya serak. Dia merangkul leher Si Bontot yang ukurannya sekarang sudah sebesar sapi dewasa. "Hari ini kita bakal part ways. Ini Bontot, my bestie from another era. Dia emang T-Rex, tapi hatinya Hello Kitty."