Orang bijak bilang, hidup dimulai di usia empat puluh.
Sayangnya, orang bijak yang merumuskan kutipan motivasi murahan itu sudah pasti bukan nasabah Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Dia pastinya belum pernah duduk berhadapan dengan petugas analis kredit bank di pusat kota Jakarta pada hari Senin siang yang mendidih, dengan kemeja flanel yang lengket oleh keringat dan sisa debu proyek di kerah bajunya.
Bagiku, di usia empat puluh, hidup hanyalah antrean panjang di bank. Dan Reza si analis kredit di depanku ini sungguh aneh. Dia memegang kuasa untuk menyetujui utang KPR-ku sebesar empat ratus juta, tapi pulpen murah di meja CS-nya saja diikat pakai karet gelang ganda ke ujung monitor. Takut banget kubawa pulang ke rumah.
"Jadi begini, Pak Budi," ujar petugas bank itu.
Namanya Reza. Aku bisa membacanya dari name tag akrilik mengkilap yang tersemat rapi di dada kirinya. Senyum Reza sangat profesional, jenis senyum simetris yang sudah dilatih berjam-jam di depan cermin toilet kantor untuk menyampaikan berita buruk tanpa terlihat seperti penjahat berdarah dingin.
"Berdasarkan slip gaji Bapak sebagai Project Manager di perusahaan kontraktor tempat Bapak bekerja, serta riwayat BI Checking Bapak selama lima tahun terakhir, semuanya sangat bersih. Tidak ada cacat. Secara profil finansial, untuk tahap Pre-Approval ini Bapak sangat bankable."
"Alhamdulillah," balasku cepat, nyaris memotong ujung kalimatnya.
Ada secercah harapan yang mendadak mekar di rongga dadaku. Notaris keluarga di Medan sudah mengabari bahwa uang warisan sengketa mendiang Kakek akan ditransfer minggu ini. Itulah sebabnya aku nekat mencuri waktu istirahat proyek siang ini untuk melakukan simulasi pengecekan plafon ke bank. Aku membayangkan pulang ke rumah nanti malam membawa kejutan ganda untuk Wati: Uang DP siap, dan KPR rumah delapan ratus juta di pinggiran Depok resmi disetujui.
Tapi rupanya, semesta punya jadwal lain untuk menghancurkan mimpiku.
"Tapi..." Reza menggantung kalimatnya, membiarkan keheningan mengambil alih ruangan ber-AC sentral yang suhunya disetel di angka delapan belas derajat celcius itu.
Aku menelan ludah. Dalam dunia teknik sipil, kata 'tapi' biasanya diikuti oleh musibah besar. 'Tapi' berarti ada revisi anggaran mendadak dari owner proyek, atau penemuan retak rambut struktural pada pelat beton lantai tiga yang baru saja di-curing (dimatangkan). Dalam dunia perbankan, kata 'tapi' berarti kau akan pulang membawa map plastikmu dengan tangan kosong.
"...masalah utamanya ada di usia Bapak saat ini, dan plafon tenor yang Bapak ajukan di formulir simulasi," lanjut Reza. Jari telunjuknya yang terawat bersih mengetuk-ngetuk layar kalkulator Casio besar di atas mejanya. "Bapak saat ini berusia empat puluh tahun pas. Di formulir ini, Bapak mengajukan rencana tenor cicilan selama dua puluh tahun, dengan asumsi dana Down Payment seratus lima puluh juta yang akan segera Bapak setorkan."
"Betul. Supaya cash flow bulanan saya nggak terlalu berat, Mas Reza," sahutku, berusaha memancarkan aura wibawa seorang manajer proyek, walau insting bapak-bapakku mulai mendeteksi ancaman birokrasi.
Reza menarik napas pendek. "Secara matematis, KPR Bapak baru akan lunas saat Bapak berusia enam puluh tahun. Nah, standar operasional prosedur dari kantor pusat kami menetapkan bahwa usia pensiun karyawan swasta di Indonesia itu dihitung di angka lima puluh lima tahun."
Reza menatap mataku lurus-lurus. "Bank tidak bisa mengambil risiko Non-Performing Loan atau kredit macet di lima tahun masa pensiun Bapak. Apalagi asuransi jiwa untuk debitur di atas usia lima puluh lima tahun preminya sangat tinggi. Jadi, sistem kami otomatis memotong maksimal tenor Bapak menjadi hanya lima belas tahun."
Jiwa insinyurku—yang paling benci pada aturan kaku tanpa kompromi logika—langsung meronta.
"Mas Reza, masa paru-paruku yang setrong ini disamain sama rumus komputer?" kataku, mengeluarkan jurus ngeles ala bapak-bapak pos ronda. Aku mencondongkan badan ke depan. "Saya ini Project Manager lapangan, Mas. Tiap hari saya inspeksi naik turun tangga proyek lima lantai yang belum ada lift-nya. Saya berjemur di bawah matahari jam dua belas siang. Secara fungsi mekanis, organ tubuh saya ini ibarat beton K-500. Masih layak running dengan kapasitas seratus persen sampai umur enam puluh lima tahun. Masa nggak ada dispensasi SOP buat nasabah yang fisiknya badak begini?"
Reza tersenyum lagi. Kali ini senyumnya berubah. Bukan lagi senyum profesional, melainkan senyum iba seperti seorang guru TK yang sedang menghadapi muridnya yang ngeyel minta permen.
"Ini bukan masalah fisik dan kesehatan Bapak di lapangan, Pak Budi. Kami percaya Bapak kuat. Tapi ini sistem aktuaria. Komputer kami hanya membaca angka statistik harapan hidup, bukan rekam medis Bapak."
Skakmat.
Logika perbankan membungkam logika teknik sipilku dengan telak. Di mata sistem kapitalis mereka, aku bukanlah seorang ayah yang sedang berdarah-darah berjuang memberikan atap yang layak untuk melindungi keluarganya dari hujan. Aku hanyalah sekumpulan data statistik. Aku adalah pria paruh baya yang fungsi jantung dan ginjalnya sedang dipertaruhkan berpacu dengan batas waktu cicilan.
"Jadi, kesimpulan akhirnya," putus Reza, memutar kertas print-out simulasi cicilan ke arahku. "Dengan harga rumah delapan ratus juta dikurangi rencana DP Bapak, jika ditarik ke tenor lima belas tahun... cicilan per bulannya jatuh di angka delapan juta lima ratus ribu rupiah. Selama lima belas tahun. Flat di tiga tahun pertama, lalu mengikuti suku bunga floating (mengambang). Bagaimana, Pak Budi? Mau kita hold dulu sampai dana Bapak benar-benar cair, atau langsung kita masukkan datanya ke sistem?"
Delapan juta setengah.
Angka itu seperti pancang beton yang baru saja menghantam ulu hatiku.
"Wah, delapan setengah ya, Mas," gumamku sambil tertawa sumbang, tawa getir kelas pekerja yang sedang menyembunyikan kepanikan level dewa. "Kalau cicilannya segitu, sisa gaji saya cuma cukup buat beli obat maag, Mas. Itupun belinya harus patungan sama istri. Saya... pikir-pikir dulu deh, Mas Reza. Takutnya nanti saya malah buka tenda pecel lele di depan bank saking pusingnya bayar cicilan."
Reza tertawa kecil, mengira aku sedang melawak santai, padahal di dalam lambungku asam lambung sedang berdisko.
Aku berdiri. Dengan tangan yang sedikit bergetar, kuraup tumpukan dokumen fotokopi KTP, Kartu Keluarga, dan slip gajiku, lalu kumasukkan kembali ke dalam map plastik mika berwarna merah. Aku menjabat tangan Reza, lalu berjalan keluar dari gedung bank itu, menembus pintu kaca otomatis, dan kembali disambut oleh udara siang ibukota yang memanggang layaknya oven raksasa.
Perjalanan pulang ke kontrakan hari itu terasa jauh lebih panjang dan melelahkan dari biasanya.
Aku mengendarai Honda Vario 150 cc berwarna hitam pudar menembus kemacetan horor di sepanjang Jalan Raya Bogor. Motor ini adalah saksi bisu perjuangan kelasku. Bodinya penuh baret halus terkena gesekan besi scaffolding, dan spakbor depannya sedikit miring karena pernah tak sengaja menabrak tumpukan bata ringan di site proyek. Ironisnya, motor lecet ini pun cicilannya masih tersisa enam bulan lagi.
Asap knalpot hitam dari truk tanah raksasa penyuplai material yang membuang emisi sembarangan, ditambah panasnya matahari yang membakar aspal hitam, menghajar wajahku tanpa ampun di balik kaca helm motor half-face putihku. Helm SNI murahan itu sengaja kutempeli stiker label printing bertuliskan 'Budi - PM' agar tidak dicuri kuli atau tertukar di barak proyek.
Tapi anehnya, badanku tidak merasakan panasnya aspal itu. Yang kurasakan hanyalah hawa dingin keputusasaan yang merambat naik dari dasar perutku hingga ke pangkal tenggorokan.