Jam di layar smartphone-ku menunjukkan pukul 01:15 dini hari.
Di dalam kontrakan paviliun dua kamar yang atap sengnya seolah masih memantulkan sisa radiasi panas matahari siang tadi, keheningan merajai. Satu-satunya suara yang mendominasi ruangan ini hanyalah ritme putaran kipas angin merk Cosmos—yang lehernya sudah harus dilakban hitam agar tidak menunduk sendiri—mengeluarkan bunyi berderit monoton setiap kali ia berputar ke kiri dan ke kanan.
Wati dan Ryu sudah tertidur pulas di dalam kamar utama yang sengaja pintunya dibiarkan terbuka agar sirkulasi udara dari kipas angin di ruang depan bisa masuk. Wati tidur menyamping, sebelah tangannya memeluk Ryu secara protektif seolah takut anak itu akan digondol tagihan KPR di tengah malam. Di kamar sebelah, Abby tertidur dengan gaya abstrak khas remaja yang kelelahan, sebelah kakinya menumpang seenaknya di atas bantal guling yang kempes.
Aku masih terjaga, duduk bersila di atas lantai keramik putih murahan di ruang depan yang nat-nya sudah menghitam karena daki dan usia. Tubuhku hanya dibalut celana pendek selutut dan kaus singlet putih cap Swan kesayanganku yang warnanya sudah mulai menguning di bagian ketiak.
Kutatap layar smartphone di genggamanku. Aplikasi mobile banking berwarna biru itu memancarkan cahaya terang ke wajahku yang kuyu. Di bagian tengah layar, terpampang sebuah deretan angka yang baru saja masuk siang tadi.
Saldo Efektif: Rp 150.000.000,00
Bagi sebagian besar eksekutif muda di kawasan Sudirman, angka seratus lima puluh juta mungkin hanyalah bonus akhir tahun yang numpang lewat, atau setara dengan harga jam tangan Rolex Submariner bekas yang mereka pamerkan dengan angkuh di atas meja meeting.
Tapi bagi pria kelas pekerja berumur empat puluh tahun sepertiku, angka itu adalah beban moral yang teramat berat. Ia melampaui sekadar nilai mata uang. Itu adalah "uang darah".
Uang itu bukanlah hasil tabunganku dari menyisihkan sisa gaji bulanan sebagai Project Manager. Uang itu adalah warisan. Tepatnya, sisa kotor hasil pembagian sengketa harta waris dari mendiang Kakekku di Medan yang baru saja rampung setelah proses pengadilan dan cakar-cakaran antar anggota keluarga yang memakan waktu belasan tahun lamanya.
Melihat angka di layar itu, ruang tamu kontrakan yang sempit ini tiba-tiba terasa menghilang. Bau debu jalanan Cibubur berganti menjadi aroma khas kayu jati tua dan kapur barus. Kenanganku melesat mundur ke dua puluh lima tahun yang lalu, ke sebuah rumah besar bergaya Belanda di kawasan Kampung Baru, Medan.
Mari kita bicara sedikit tentang ironi matematika keluarga dan kebusukan sifat alami manusia.
Kakekku adalah seorang saudagar yang cukup kaya di eranya. Rumahnya di Kampung Baru sangat besar, dengan halaman rumput yang cukup luas untuk dipakai bermain sepak bola oleh anak-anak kampung. Namun, Kakek dan Nenek meninggal dunia dalam waktu yang berdekatan karena sakit ketika almarhum Bapakku—anak laki-laki paling bungsu dari lima bersaudara—masih sangat kecil.
Di saat itulah, Pakde Haris mengambil alih kemudi.
Pakde Haris adalah anak pertama, kakak tertua Bapak. Di usia yang seharusnya ia gunakan untuk mengejar karir, berpacaran, dan membangun keluarganya sendiri, Pakde Haris memilih jalan pengorbanan yang sunyi. Ia memutuskan untuk tidak pernah menikah seumur hidupnya. Ia mengambil peran ganda sebagai ayah dan ibu bagi keempat adik-adiknya. Tulang punggungnya digunakan untuk menyekolahkan mereka hingga satu per satu dari Bude dan Pakdeku yang lain lulus, merantau, menikah, dan membangun kehidupan mapan di kota-lain.
Hanya Bapakku, si bungsu yang paling lugu dan tidak memiliki gelar sarjana tinggi, yang tetap tinggal di rumah besar itu. Bapak menikah dengan Ibuku, dan tak lama kemudian, aku lahir.
Sejak aku bisa mengingat, aku hidup di rumah besar itu bersama Bapak, Ibu, dan Pakde Haris yang sudah menua. Karena adik-adiknya yang lain sudah sukses dan tak pernah lagi menjenguknya, Bapaklah yang mengabdikan hidupnya untuk merawat Pakde Haris. Bapak bekerja serabutan sebagai kuli bangunan lepas di Medan, sementara di rumah, ia memandikan Pakde Haris yang mulai digerogoti penyakit, menyuapinya, dan memapahnya ke kamar mandi.
Aku tumbuh besar memanggil Pakde Haris dengan sebutan "Bapak Tua". Bagiku, dia adalah kakek sekaligus sosok ayah keduaku. Aku ingat sering duduk di pangkuannya yang ringkih di teras depan, mendengarkannya bercerita sambil mengisap rokok Dji Sam Soe. Ia sering mengelus kepalaku dan berkata, "Budi, rumah ini nanti buat Bapakmu dan kamu. Kalian yang nemenin Bapak Tua sampai tua. Saudara-saudaramu yang lain udah pada lupa jalan pulang."
Tapi, wasiat lisan yang diucapkan dengan penuh kasih sayang tidak memiliki kekuatan hukum di mata negara. Dan di situlah letak kehancuran kami.
Saat aku kelas dua SMA, Pakde Haris meninggal dunia.
Di hari pemakamannya, sebuah keajaiban biologis mendadak terjadi. Bude dan Pakdeku yang lain—saudara-saudara Bapak yang sudah belasan tahun menderita amnesia dan tidak pernah mengirim wesel sepeser pun untuk biaya obat Pakde Haris—mendadak sembuh secara massal. Mereka semua pulang ke Medan, berpakaian serba hitam dengan wajah ditekuk sedih yang durasinya tak lebih dari acara tahlilan hari ketujuh selesai.
Keesokan paginya, tepat di hari kedelapan, kedok kesedihan itu rontok.
Bude Siti—kakak perempuan Bapak yang suaminya pejabat daerah—duduk di ruang tamu rumah kami yang luas, membawa seorang notaris bersetelan jas rapi. Di sebelahnya duduk Pakde Anton, abang Bapak yang lain. Mereka meletakkan salinan fotokopi Sertifikat Hak Milik (SHM) rumah Kakek di atas meja kayu jati peninggalan Pakde Haris.
"Mas Haris sudah nggak ada," kata Bude Siti waktu itu, membetulkan letak kacamata emasnya dengan ekspresi dingin. "Secara hukum Faraid dan hukum negara, karena Mas Haris tidak punya anak dan istri, maka rumah peninggalan Bapak (Kakek) ini harus segera dijual dan dibagi rata ke semua ahli waris yang masih hidup."
Bapakku, si bungsu yang hanya tamatan STM dan menghabiskan sisa tenaganya sebagai kuli bangunan, terdiam kaku di kursi rotannya. Wajah kasarnya pucat pasi.
"Mbak... Mas..." suara Bapak bergetar, menatap kakak-kakaknya dengan tatapan memohon. "Saya ini bungsu. Saya seumur hidup cuma ngabdi ngerawat Mas Haris di sini. Gaji kuli saya nggak cukup buat nyewa rumah kalau ini dijual. Kasihan Budi masih SMA, baru mau masuk kuliah. Tolong... kasih kami waktu buat tinggal di sini dulu."