Rumah Kami Sebelum Pindah Dimensi : KPR & Punggung Ayah

PapaDi_YSELnury
Chapter #3

0.3 - BERBURU "ISTANA RONGSOKAN"

Pukul 02:15 dini hari.

Bahkan cicak di langit-langit kontrakan paviliun kami sepertinya sudah menyerah pada suhu udara yang pengap dan memilih untuk tidur pingsan di balik bingkai kalender toko material yang tergantung miring di dinding.

Satu-satunya sumber cahaya di ruang depan yang sempit ini hanyalah pendaran biru pucat dari layar laptop Asus bututku. Kipas pendingin di dalam mesin laptop itu berderu nyaring, suaranya mirip seperti baling-baling helikopter tua yang sedang dipaksa lepas landas namun tak kunjung terbang. Maklum, thermal paste di prosesornya mungkin sudah mengering menjadi kerak sejak tiga tahun lalu, tapi aku belum merelakan sepeser pun anggaran untuk membawanya ke tempat servis. Selama masih bisa dipakai membuka Microsoft Excel untuk pekerjaan kantor dan browser internet, laptop ini belum diizinkan pensiun.

Aku duduk bersila di atas lantai keramik bersuhu suam-suam kuku, menatap layar dengan mata yang terasa seperti ditaburi pasir kuarsa dari lokasi proyek.

Jari telunjukku terus menggulir bantalan touchpad laptop yang permukaannya sudah mengkilap licin karena terlalu sering digesek. Di layar monitor, terpampang antarmuka situs web jual-beli properti terbesar di Indonesia.

Malam ini, Sang Kuli Berdasi sedang memancing keajaiban di lautan algoritma kapitalis yang kejam.

Setelah perdebatan perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dengan Wati tadi sore, parameter perburuanku sebenarnya sudah terkunci rapat dan sangat realistis. Uang warisan seratus lima puluh juta rupiah dari sengketa rumah almarhum Pakde Haris dan Bapak di Medan itu sudah mengendap aman di rekeningku. Sesuai kesepakatan rapuh kami, seratus juta akan kugunakan sebagai "Peluru Tajam" untuk menebas Down Payment (DP) di depan, dan lima puluh juta sisanya akan kugembok rapat-rapat sebagai modal mutlak untuk membeli material renovasi.

Itu artinya, aku harus mencari rumah dengan harga maksimal di angka empat ratus juta rupiah. Jika dikurangi DP seratus juta, maka sisa plafon utangku ke bank adalah tiga ratus juta. Ditarik ke batas maksimal tenor lima belas tahun untuk pria berumur empat puluh sepertiku, simulasi cicilannya akan jatuh di angka sekitar dua koma delapan juta per bulan.

Angka dua koma delapan juta itu adalah batas maksimal (limit) yang bisa ditoleransi oleh kalkulator Wati, menyisakan ruang napas tipis di cash flow kami agar keluarga ini tidak mati kelaparan di akhir bulan.

Aku memfokuskan pandangan pada kolom filter pencarian di sisi kiri layar.

Sebagai bapak-bapak kelas pekerja yang urat gengsinya sudah lama putus oleh realita, aku harus sangat sadar diri. Dengan batas harga empat ratus juta di sekitaran ibukota dan area penyangganya, bermimpi mendapatkan rumah Tipe 70 adalah sebuah halusinasi. Mendapatkan rumah petak Tipe 36 atau maksimal Tipe 45 dengan sisa tanah seukuran jemuran baju saja sudah harus diiringi sujud syukur.

Maka, kumasukkan parameter paling masuk akal untuk dompetku malam itu.

Harga Maksimal: Rp 400.000.000. Luas Bangunan: Minimal 36 m2. Sertifikasi: SHM (Sertifikat Hak Milik). Lokasi: Jakarta, Depok, Bekasi.

Aku menekan tombol Enter layaknya sedang menekan tombol peledak dinamit, lalu menunggu ikon loading di tengah layar berputar.

Hasilnya? Tentu saja menyedihkan. Sistem situs itu seolah sedang menertawakan kemiskinan struktural yang kualami.

Untuk parameter lokasi Jakarta, sebuah pesan eror muncul dengan kalimat diplomatis: "Maaf, tidak ada properti yang sesuai dengan pencarian Anda."

Aku mendengus kasar, membuang napas lewat hidung. Tentu saja tidak ada. Di Jakarta, uang empat ratus juta rupiah nyaris tidak ada harganya dalam industri properti. Uang segitu hanya cukup untuk membeli sepetak makam semi-private di kompleks pekuburan elit daerah Karawang sana, lengkap dengan batu nisan granit, rumput sintetis anti-layu, dan biaya maintenance bulanan yang ironisnya lebih mahal dari biaya SPP sekolah Abby.

Aku menyerah pada parameter ibukota. Kuubah filternya. Kuhapus nama Jakarta dari sistem, lalu kutarik radiusnya merenggang hingga ke ujung perbatasan Depok, pinggiran Bekasi, dan area-area satelit yang namanya jarang terdengar di telinga kaum eksekutif.

Aku kembali menekan Enter.

Kali ini, puluhan gambar rumah Tipe 36 dan Tipe 45 bermunculan memenuhi layar. Namun, setelah kuperiksa satu per satu dengan teliti, senyum optimisku perlahan luntur, digantikan oleh kernyitan dahi yang dalam dan umpatan tertahan di kerongkongan.

Sembilan puluh persen iklan yang muncul di harga itu adalah jebakan marketing dari developer nakal atau agen properti yang kekurangan moral. Judul iklannya ditulis dengan huruf kapital provokatif: "RUMAH MEWAH TIPE 36 HANYA 300 JUTA! CUKUP BOOKING 2 JUTA LANGSUNG AKAD!"

Tapi, ketika aku meng-klik iklan tersebut dan menggulir ke bagian deskripsi bawah yang sengaja dicetak dengan font sangat kecil berwarna abu-abu, selalu ada embel-embel mematikan bertuliskan: "Harga di atas adalah ilustrasi untuk alokasi pencairan kredit. Harga Cash Keras Rp 750 Juta. Syarat dan Ketentuan Berlaku."

Bangsat. Aku mengusap wajahku yang lelah. Industri properti modern memang dirancang sedemikian rupa sebagai labirin jebakan bagi para kelas menengah yang sedang putus asa mencari atap.

"Bang... belum tidur?"

Sebuah suara serak yang familiar memecah keheningan ruang depan, menghentikan rutukan batinku.

Aku menoleh ke belakang. Wati berdiri di ambang pintu kamar utama. Ia mengenakan daster pudar bermotif bunga matahari yang warna kuningnya sudah berubah menjadi kusam. Rambutnya diikat asal-asalan ke atas menggunakan jepit badai plastik. Wati berjalan mendekat sambil membawa segelas air putih hangat di tangan kanannya. Ia meletakkan gelas itu di dekat laptopku, lalu menarik bantal sofa yang kempes dan ikut duduk bersila di sebelahku.

Wati menunduk melihat layar laptopku dari balik bahuku. Matanya yang baru saja terbangun dari tidur hanya butuh waktu dua detik untuk mengkalibrasi dan membaca deretan iklan palsu rumah Tipe 36 di layar monitor. Begitu ia melihat polanya, insting manajerialnya yang terasah tajam di bangku S1 Manajemen Bisnis langsung menyala, mendeteksi ketidakberesan pasar.

"Nyari rumah Tipe 36 harga empat ratus juta di pinggiran ibukota aja udah kayak nyari jarum di tumpukan jerami ya, Bang," gumam Wati pelan, nada suaranya bergetar antara rasa kasihan padaku dan kelelahan mentalnya sendiri. "Banyak jebakan betmen-nya."

"Ini bukan nyari jarum, Ma. Ini nyari fosil dinosaurus. Jauh lebih susah," sahutku sarkas, menekan tombol Next Page ke halaman kelima belas. "Semuanya clickbait. Harganya ditaruh empat ratus juta di depan, pas diklik ternyata itu harga cicilan per tahun buat rumah sepetak yang garasinya cuma muat buat parkir sepeda lipat."

Wati menghela napas panjang. Ia menatap sisi wajahku dengan raut kecemasan yang tak bisa disembunyikan. Tangannya terlipat di depan dada.

"Pa... soal rencana Papa tadi sore. Aku udah hitung-hitung ulang di kepala sambil tidurin Ryu tadi," kata Wati hati-hati, memulai mode audit keuangannya di jam setengah tiga pagi. "Sisa cash flow empat juta kita bulan depan bakal sedikit goyang. Dila di Semarang baru aja nge-WA Mama tadi abis isya."

Tanganku yang sedang memegang touchpad langsung membeku. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Kabar tak terduga tentang Dila—adik bungsuku yang paling kusayangi itu—seperti tambahan beban beton lima puluh kilogram yang dijatuhkan tepat di atas bahuku. Menguliahkan Dila di Universitas Diponegoro sampai ia meraih gelar sarjana adalah kewajiban mutlakku sebagai anak laki-laki sulung, sebuah peran pengganti sosok almarhum Bapak.

"Kenapa Dila?" tanyaku pelan, berusaha menjaga suaraku tetap datar. "Dia sakit?"

"Nggak, dia sehat," jawab Wati cepat menenangkan. "Tapi katanya Dila, sebagai mahasiswi semester lima, bulan depan dia ada kewajiban praktikum lapangan ke luar kota dari kampusnya. Praktikum atau apa gitu. Dia butuh dana ekstra untuk bayar akomodasi dan alat, sekitar dua sampai tiga juta rupiah."

"Dua sampai tiga juta?" ulangku pelan. Angka itu terngiang di kepalaku.

"Iya, Bang. Tiga juta. Itu berarti sisa gaji operasional kita yang empat juta itu beneran bakal kesedot habis. Nggak boleh diganggu gugat sama sekali," tegas Wati, telunjuknya menunjuk ke arah layar laptopku seolah sedang menunjuk sebuah grafik kebangkrutan. "Jadi, budget lima puluh juta yang Papa potong dari uang warisan Bapak untuk belanja material renovasi rumah itu, beneran harus jadi fixed budget (anggaran mati). Angkanya terkunci di situ."

Wati menatapku tajam, memastikan aku memahami betapa krusialnya kondisi ini.

Lihat selengkapnya